hobirsoleh

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

KONSEP MADIA POPULER

MEDIA POPULER

Istilah populer berasal dari bahasa latin “populi” yang berarti rakyat. Istilah ini dikembangkan oleh Paolo Freire yang mengembangkan sistem pendidikan populer. Menurut Freire, populer berarti sesuatu yang merakyat. Segala sesuatu yang dekat dengan masyarakat, bersentuhan dengan kehidupan masyarakat sendiri, milik masyarakat, digunakan oleh masyarakat bahkan pemanfaatannya ini kelak akan dikembangkan oleh masyarakat itu sendiri.

Media populer adalah alat/ instrumen yang awalnya digunakan oleh pendidikan kerakyatan dalam membantu proses pembelajaran, atau lebih jauh mengembangkan komunikasi antar manusia keluar dari sebuah sistem dan struktur yang mengakibatkan proses dehumanisasi. Sebagai instrumen yang membantu proses pemahaman masalah atau materi yang sedang dibahas, maka media populer harus mampu untuk mempermudah mengkomunikasikan, mengungkapkan hal-hal yang rumit. Jadi sebagai alat, media bisa digunakan untuk berbagai ragam tujuan, tetapi tidak untuk semua tujuan. Karena setiap media memiliki ciri (karakteristik), memiliki kekhasanya masing-masing, sehingga hanya tepat digunakan untuk tujuan-tujuan yang khas dan sesuai pula.

 

Lalu apa yang membedakan antara media populer dengan media umum/ mainstream selama ini? Perbedaan paling mendasar adalah: pertama, pada tujuan membuat, memilih dan menggunakan medianya; kedua. sumber utama pesan diambil dari masyarakat. Pesan itu kemudian dianalisis, ditentukan tujuannya apakah untuk pendidikan, pengorganisasian dan lainnya dan ditentukan jenis media yang akan digunakan. Tentu saja proses tersebut harus berlangsung secara partisipatif. Dengan demikian media populer sangat jarang dilepas/ disebar secara bebas, harus ada yang memandu sehingga mencapai tujuan. Jika tidak, maka akan kembali terjebak ke media mainstream ke arah intervensi dari si pembuat media lagi dan disebarkan lagi melalui mekanisme umum (pasar). Memang kadang kala media populer dapat juga disebar/ distribusi secara bebas pada isu tertentu, namun bukan itu tujuan utama dari media populer.

Suatu (media) bisa dikatakan populer apabila telah memenuhi ketiga unsur, yaitu

Penguasaan.

Untuk menjadi populer, segala informasi dan teknologi yang masuk ke dalam harus dikuasai oleh masyakat. Masyarakat menjadi tahu tentang seluk beluk informasi dan teknologi sebelum mengelolanya. Bagaimana mungkin bisa mengelola sebelum bisa mengenali fungsinya dengan baik terlebih dahulu. Jadi penguasaan ilmu dan teknik menjadi syarat mutlak sesuatu yang popular

Pengelolaan

Masyarakat bisa mengelola proses dari pembentukan sesuatu yang popular. Misalnya masyarakat jadi mengetahui proses merencanakan, membuat dan mengevaluasi media yang dibuatnya.

 

Pemanfaatan

Pemanfaatan hasilnya adalah bagian terakhir dari unsur yang dikatakan popular. Rakyat mampu memanfaatkan hasil media sebagai instrumen untuk memahami realitas sosial yang sedang terjadi. Selain dimanfaatkan untuk proses pendidikan di masyarakat, pemanfaatan media populer yang lain digunakan untuk  melakukan kampanye, membangun opini publik kepihak luar. Pemanfaatan media populer dalam tingkatan ini sering terjebak dengan media umum lainnya.

Perbedaan lain yang mendasar antara media populer dengan media umum, adalah mengenai jangkauan. Media umum biasanya jangkauannya luas, untuk kalangan yang luas pula. Kalaupun pembuat media mainstream melakukan spesifikasi lagi kepada target audiens yang lebih kecil, tetap  targetnya adalah masyarakat umum. Sedangkan media populer biasanya jangkauannya lebih kecil, dan target audiencenya sangat spesifik. Hal ini disebabkan karena perbedaan besarnya dana yang tersedia untuk membuat media. Media umum biasanya diproduksi/ disponsori oleh swasta atau pemilik modal usaha, sedang media populer diproduksi oleh masyarakat itu sendiri.

Walaupun terjadi perbedaan biaya yang dikeluarkan untuk media, belum menjamin bahwa media mainstream yang memiliki dana yang besar akan mampu menggilas media populer. Kunci keunggulan media populer adalah pada kedekatan (proximity) audience, karena direncanakan, dibuat, didistribusikan, disebarkan dan dievaluasi secara partisipasi oleh masyarakat itu sendiri. Kedekatan dari masalah yang dihadapi, orang yang dihadapi maupun pemilihan media itu sendiri yang kemudian tidak menjadi asing.  Dari itu semua, kompetisi/ persaingan yang terjadi ialah dalam hal kreatifitas mengembangkan beragam media yang menarik. Kedekatan dengan pemirsa/ rakyat tidak akan menjadi keunggulan yang signifikan dari media populer, jika kreatifitas memilih dan menggunakan media tidak ada.

Beberapa perbedaan lain antara media populer dengan media umum dapat dilihat pada Tabel di bawah ini.

 

Media Mainstream

Media Populer

Tujuan

Perubahan perilaku, pengukuhan status quo, rekayasa sosial

Pernyataan diri, pembentukan kesadaran, tindakan pembebasan

Sifat

Terpusat, mengawasi secara ketat, membakukan norma dan nilai lama, mengarahkan perilaku seseorang guna menciptakan dukungan kepada pusat kekuasaan

Menyebar, mengembangkan lembaga dan memperjuangkan kepentingan masyarakat setempat

Isi pesan

Selektif dan saling berkaitan; ditentukan dari “atas”, Kebijakan pusat kekuasaan, peringatan, peraturan, ancaman

Berbagai pandangan dan saling bersaing, tanggap terhadap keinginan khayalak, sesuai masalah setempat, erat kaitannya dg sejarah dan nilai setempat.

Produksi

Distandarisasi, kreatif, rutin dan terkontrol

Kreatif, bebas, cepat dan asli

Biaya

Mahal

Murah

Jenis saluran

Koran, tv, majalah, radio, dll

Sama, tetapi lebih sering pertemuan, diskusi, ngobrol

Jenis media

Brosur, film, cerita, poster dll

Sama

Pemberi pesan

Kelas Penguasa, Pemilik modal, Kelompok elit dominan, lapisan atas terpelajar

Pemberi pesan adalah juga penerima pesan

Penerima Pesan

Dependen, pasif dan diorganisasi dalam skala besar

Spesifik, penerima pesan adalah juga pemberi pesan

Hubungan pemberi, penerima pesan

Asimetrik, dominatif, manipulatif

Simetrik, kesetaraan, kadang manipulative

Jangkauan

Luas, tak terukur pasti

Terbatas, terukur pasti

Proses

penye-baran

Membujur dari atas ke bawah (vertikal), searah (monolog)

Melintang ke samping (horizontal), atau dari bawah ke atas (bottom up), dua arah (dialogis)

Efek

Besar, mempertegas tatanan sosial yang sudah mapan

Beraneka ragam; menggerakkan secara terbatas

Peran masyarakat

Kelompok sasaran

Kelompok partisipan

Kekuatan lain dari media populer adalah adanya hubungan yang simetris antara pemberi pesan dan penerima pesan. Hubungan yang simetris menjadikan media bukan menjadi alat peraga (ilustrasi) saja, supaya diskusi tidak membosankan. Melainkan lebih luas lagi yakni sebagai alat memindahkan kekuasaan dari pemberi informasi ke penerima informasi menjadi saling berbagi informasi. Dengan demikian media populer harus mampu menjadi sandi (code) diorama kehidupan tentang suatu kejadian, gejala atau permasalahan tertentu. Kemudian mengajak partisipan (penerima pesan) berpikir tentang sesuatu, mendiskusikannya bersama, berdialog untuk menemukan pemaknaan (kodifikasi/ encoding) atas diorama kehidupan. Kemudian menemukan bersama pemahaman, pengetahuan dan kesadaran baru dari suatu diorama kehidupan (dekodifikasi/ decoding).

 

 

 

 

 

 

 

 

Jika mereka kemudian melangkah lebih maju dengan menyusun gagasan dan rencana, apalagi sampai benar-benar melakukan tindakan nyata, untuk merubah dan memperbaiki keadaan, gejala, atau permasalahan, maka mulailah terjadi suatu “perubahan kearah perbaikan” (transformasi). Setelah melakukan tindakan itu, mereka kembali lagi memikirkan dan mendiskusikannya, mulai lagi suatu proses kodifikasi baru, berlanjut terus ketahap dekodifikasi dan kemudian transformasi berikutnya. Jadi media populer harus dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan segenap indera penerima pesan sehingga dapat mendorong terjadinya proses tindakan/ transformasi. Kalau suatu masyarakat menghayati dan mengamalkan daur proses ini kedalam kehidupan sehari-hari mereka, maka sesungguhnya suatu “masyarakat yang terus menerus memperbaiki dan memperbaharui diri mereka sendiri secara kritis” (transformative society) telah berlangsung.

Jenis-jenis media popular

Pada prinsipnya, tidak ada perbedaan jenis media populer dengan media mainstream lainnya. Dilihat dari konteks kebutuhan dan kemampuan masyarakat, pilihan jenis media populer lebih terbatas dibandingkan dengan media umum. Hal ini disebabkan karena pilihan jenis media harus didasarkan pada kemudahan masyarakat untuk berpartisipasi dalam akses, proses produksi media, pembuatan kebijakan, pengelolaan media termasuk juga pembiayaannya.

Media  dalam perkembangannnya semakin bermacam-macam, dengan jenis yang hampir tak terbatas. Diperlukan cara yang tepat dalam memilih media supaya bijak, efektif dan efisien untuk menghasilkan tindakan komunikasi menjadi lebih lancar. Secara umum biasanya dibagi dua yakni verbal (media melalui percakapan) dan non verbal (media selain percakapan).  Dengan adanya perkembangan teknologi, maka media dibagi dalam empat bagian yakni:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • verbal dan ekspresif: media yang menggunakan bahasa lisan, bahasa tubuh, kadang dibantu menggunakan alat  yang sederhana yang ada di sekitar untuk mengkomunikasikan pesan. Termasuk dalam media ini adalah: percakapan, ekspresi tubuh, simulasi, nyanyian, permainan, tari, isyarat dan lainnya;
  • cetak: media yang menggunakan tulisan, gambar yang dicetak di di atas medium kertas, kain, plastik, kaos atau yang lainnya. Termasuk dalam jenis media ini adalah, poster, leaflet, buku, brosur, laporan, spanduk dan lain-lain;
  • elektronik/ multi media; media yang menggunakan sarana elektronik/ listrik. Termasuk di dalam media ini adalah rekaman lagu/ suara,film, foto, kaset, cd interaktif, presentasi power point,  dan lain-lain;
  • zyber; media yang menggunakan bahasa digital. Termasuk di dalam media ini adalah situs web, email, blog, social network, dan lain-lain.

Media yang telah dipilih dan dihasilkan kemudian disebarkan ke audiens melalui berbagai saluran. Terdapat dua macam pola penyebaran, yakni: 1) Menyebar bebas, membiarkan audiens memahami pesan yang disampaikan; 2) Menyebar terkontrol, yakni media tersebut setiap kali digunakan harus dipandu, supaya tujuan tercapai.

Komunikasi masyarakat, biasanya menggunakan pola menyebar terkontrol. Ini untuk memastikan bahwa melalui proses fasilitasi antara audiens yang dipandu, akan memberikan hasil yang lebih optimal. Media yang menyebar terkontrol, biasanya jangkauannya lebih kecil, dan target audiensnya sangat spesifik. Meski jumlah audiens kecil,  Kunci keunggulan media yang menyebar dengan cara dipandu, adalah pada kedekatan (proximity) audience, karena direncanakan, dibuat, didistribusikan, disebarkan dan dievaluasi secara partisipasi oleh masyarakat itu sendiri. Kedekatan dari masalah yang dihadapi, orang yang dihadapi maupun pemilihan media itu sendiri yang kemudian tidak menjadi asing.  

KEKUATAN MEDIA

1. BISA PADA GAMBAR

2. BISA PADA NARASI

3. DIDUKUNG OLEH KEKUATAN MUSIK ATAU LAGU (PENDUKUNG PEMAKNAAN POINT 2)

 

MEDIA: ALAT, SALURAN UNTUK BERKOMUNIKASI

 

POSISI MEDIA DALAM KOMUNIKASI

       
     

EFEK/ DAMPAK

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                            

 

SOLUSI

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI MEDIA

 

 

KEBERDAYAAN

 

 

PENGUASAN  MEDIA

 

PENGUASAN INFORMASI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KONSEP

-MEDIA YANG DIKUASI MASYARAKAT DAN SUMBER INFORMASINYA DARI MASYARAKAT

– MEDIA YANG TUJUANNYA UNTUK PEMBENTUKAN KESADARAN DAN TINDAKAN PEMBEBASAN

– MEDIA YANG DIGUNAKAN UNTUK PENDIDIKAN POPULER

 

POSISI MEDAI POLPULER

SUMBER: MASYARAKAT

TUJUAN: PESAN

MEDIA: DELIVERED

SASARAN: AUDIENCE/ MASYARAKAT

–          KELUAR: KAMPANYA OPINI PUBLIC. JUALAN

–          KE DALAM: PENDIDIKAN PENGORGANIASISIAN

 

TUJUAN

1. MEDIA MAISTREM: KLAIM, PENGUATAN KEDUDUKAN POLITIK, PENJUALAN PRODUK

2. MEDIA POPULER: PERNYATAAN PEMBENTUKAN KESADARAN, PENYATAN DIDIRI,PEMBEBASAN

 

SIFAT

1. MEDIA MAISTREM: MENGARAHKAN SESEORANG PADA DUKUNDGAN PUSAT KEKUASAAN(MODAL, POLITIK), TERPUSAT, MENGAWASI SECARA KEATAS, MEMBAKUKAN NORMA DA NILAI LAMA,

2. MEDIA POPULER: MENYEBAR PADA KUMUNITAS UNTUK KEPENTINGANNYA SENDIRI, DAN MEMPERJUANGKAN

 

 

 

ISI PESAN

1. MEDIA MAISTREM: SELEKTIF DAN SALING BERKAITAN, DITENTUKAN DARI “ATAS” KEBIAJAKN PUSAT KEKUASAAN, PERINGATAN, PERATURAN DAN ANCAMAN

2. MEDIA POPULER: BERBAGAI PANDANGAN YANG SALING TERASING, TANGGAP TERHADAP KEINGINAN KHALAYAK, SESUAI MASALAH SETEMPAT, ERAT KEITANNYA DENGAN SEJARAH DAN NILAI SETEMPAT

 

BIAYA

1. MEDIA MAISTREM: MAHAL

2. MEDIA POPULER: MURAH

 

JENIS MEDIA

1. MEDIA MAISTREM: KORAN, TV, RADIO DLL

2. MEDIA POPULER: SAMA BAHKAN LEBIH BANYAK

 

PRODUKSI

1. MEDIA MAISTREM: DISTRANDARISASI, KREATIF, RUTIN, DAN TERKONTROL

2. MEDIA POPULER: KREATIF, BEBAS, CEPAT DAN ASLI

 

PEMBERI PESAN

1. MEDIA MAISTREM: LUAS TAK ADA UKURAN JELAS

2. MEDIA POPULER: TERBATAS, TERUKUR PASTI       

 

 PENERIMA PESAN

1. MEDIA MAISTREM: UMUM,

2. MEDIA POPULER: KHUSUS,

 

HUBUNGAN

1. MEDIA MAISTREM: KLAIM, PENGUATAN KEDUDUKAN POLITIK, PENJUALAN PRODUK

2. MEDIA POPULER: SIMETRIK

 

Tinggalkan komentar »

PEMIKIRAN KARL MARX DAN TEORINYA

Karl Marx

Karl Marx lahir di Trier, sebuah kota di Jerman, dekat perbatasan dengan Prancis di tahun 1818. lahir setelah perang Napoleon, dan setahun setelah David Ricardo meluncurkan bukunya “The Principles of Political Economy”. Dia merupakan pendiri Idiologi komunis yang sekaligus merupakan seorang teoritikus besar kapitalisme. Bukan hanya sekedar ekonom, namun juga seorang philosopis, sosiologis, dan seorang revolusionir. Merupakan seorang profesor dalam berbagai ide yang Revolusioner, yang menginspirasi pemikir-pemikir lainnya. Setelah menyelesaikan gelar Ph. D dalam filsafat pada tahun 1841 di Bonn, Berlin, dan Jena. Maka dari sinilah karier Marx dimulai. Pemikiran Karl Marx merupakan adopsi antara filsafat Hegel, French, dan tentunya pemikiran dari David Ricardo (pemikir teori ekonom klasik). Analisa Karl Marx tentang kapitalisme merupakan aplikasi dari teori yang dikembangkan oleh G.W.F Hegel, dimana teorinya berpendapat juka,”sejarah berproses melalui serangkaian situasi dimana sebuah ide yang diterima akan eksis, tesis. Namun segea akan berkontradiksi dengan oposisinya, antitesis. Yang kemudian melahirkanlah antitesis, kejadian ini akan terus berulang, sehingga konflik-konflik tersebut akan meniadakan segala hal yang berproses menjdai lebih baik.”

Karl Marx beserta teman dekatnya, yakni Friedrich Engles (1820-1895) menuliskan sebuah buku “Das Kapital”, yang isinya kurang lebih tentang bagaimana ekonomi sosial atau komunis diorganisasikan. Yang kemudian disusul buku The Communist Manifesto (1848) yang berisikan daftar singkat karakter alamiah komunis. Dimana suprastruktur yang berfungsi untuk menjaga relasi produksi yang dipengaruhi oleh historis (seni, literatur, musik, filsafat, hukum, agama, dan bentuk budaya lai yang diterima oleh masyarakat). Prinsip-prinsip komunis modern dalam bukunya tersebut antara lan :

 

1. pengahapusan kekayaan tanah dan menerapkan sewa tanah bagi tujuan-tujuan publik.

2. pengenaan pajak pendapat (tax income) yang bertingkat.

3. pengapusan seluruh hak-hak warisan.

4. penarikan kekayaan seluruh emigran dan para penjahat atau pemberontak.

5. sentralisasi kredit pada negara melalui bank nasional dengan modal negara dan monopoli yang bersifat eksklusif.

6. sentralisasi alat-alat komunikasi, dan transportasi di tangan negara.

7. perluasan pabrik dan alat-alat produksi yang dimilki oleh negara, menggarap tanah yang tanah, dan meningkatkan guna tanah yang sesuai dengan perencanaan umum.

Karl Marx percaya dalam kapitalisme, terjadi keterasinagan (alienasi) manusia dari dirinya sendiri. Kekayaan pribadi dan pasar menurutnya tidak memberikan nilai dan arti pada semua yang mereka rasakan sehingga mengasingkan manusia, manusia dari diri mereka sendiri. Hasil keberadaan pasar, khususnya pasar tenaga kerja menjauhkan kemampuan manusia untuk memperoleh kebahagiaan sejati, karena dia menjauhkan cinta dan persahabatan. Dia berpendepat bahwa dalam ekonomi klasik, menerima pasar tanpa memperhatikan kekayaan pribadi, dan pengaruh kebradaan pasar pada manusia. Sehingga sangat penting untuk mengetahui hubungan antra kekayaan pribadi, ketamakan, pemisahan buruh, modal dan kekayaan tanah, antara pertukaran dengan kompetisi, nilai dan devaluasi manusia, monopoli dan kompetisi dan lain-lain. Fokus kritiknya terhadap ekonomi klasik adalah, is tidak memeperimbangkan kekuatan produksi akan meruntuhkan hubungan produksi.

Hasil dari teori historis Karl Marx pada masyarakat antara lain :

  1. masyarakat feudalisme, dimana faktor-faktor produksi berupa tanah pertanian dikuasai oleh tuan-tuan tanah.
  2. Pada masa kapitalisme hubunganantara kekuatan dan relasi prodksi akan berlangsung, namunkarena terjadi peningkatan output dan kegiatanekonomi, sebagaimana feudalisme juga mengandung benih kehancurannya, maka kapitalismepun akan hancur dan digantikan dengan masyarakat sosialise.
  3. Masa sosialisme dimana relasi produksi mengikuti kapitalisme masih mengandung sisa-sisa kapitlisme.
  4. Pada masa komunisme, manusia tidak didorong untuk bekerja dengan intensif uang atau materi.

Menurut Karl Marx dalam komoditas dan kelas dapat dibagi menjadi dua kelas, yaitu:

  1. kaum kapitalis (borjuis) yang memiliki alat-alat produksi.
  2. Kaum buruh (proletar) yang tidak memiliki alat-alat produksi, ruang kerja, maupun bahan-bahan produksi.

Teori historis dari Karl Marx mencoba menerapkan nya ke dalam masyarakat, dengan meneliti antara kekuatan dan relasi produksi. Dimana nantinya akan terjadi sebuah kontradiksi, yang berakibat perubahan kekuatan produksi dari penggilingan tangan pada sistem feodal menjadi penggilingan uap pada sistem kapitalisme. Menurutnya satu-satunya biaya sosial untuk memproduksi barang adalah buruh.

Analisa karl marx tentang Kapitalisme

karl marx adalah salah satu penentang ekonomi kapitalis memunculkan akibat social yang tidak diinginkan dan sebagai pertentangan pada kapitalisme menjadi lebih nyata dari waktu ke waktu. Kritik karl marx ini tertuang pada hukum Karl Marx tentang kapitalisme, yang berisi tentang :

1. Surplus pengangguran

Pada konsep tentang surplus pengangguran ini, Karl Marx berpendapat bahwa selalu terjadi kelebihan penawaran tenaga kerja yang erdampak pada penekanan tingkat upah sehingga menjadi surplus value dan keuntungan tetap bernilai positif. Karl Marx melihat ada 2 faktor penyebab terjadinya surplus tenaga kerja ini. Pertama, yaitu Direct Recruitment yang terjadi akibat penggantian tenaga kerja manusia oleh mesin-mesin produksi. Kedua, Indirect Recruitment yang terjadi akibat adanya anggota baru tenaga kerja yang memasuki pasar tenaga kerja.

2. Penurunan tingkat keuntungan

Dalam model Karl Marx dirumuskan bahwa tingkat keuntungan (P) mempunyai hubungan positif dengan tingkat surplus Value (S’) dan mempunyai hubungan negative dengan organic komposition of capita (Q).

P=S’(1-Q)

Dengan asumsi bahwa surpus value dipertahankan untuk tidak berubah. Setiap kenaikan dalam organic composition of capital akan menghasilkan penurunan pada tingkat keuntungan, melalui mekanisme sebagai berikut.

Menurut Karl Marx ada pengaruh yang kuat para kapitalis untuk menghimpun modal. Penghimpunan modal ini berarti bahwa aka nada lebih banya fariabel modal yang digunakan untuk menambah tenaga kerja, sehingga akan menaikkan upah dan akan mengurangi tingkat pengangguran. Tingkat surplus value akan mengalami penurunan sebagai akibat dari naiknya upah, begitu juga tingkat laba juga akan turun. Para kapitalis akan bereaksi dengan mengganti tenaga kerja manusia dengan mesin dengan menambah organic composition of capital. Jika tingkat surplus value dipertahankan untuk tidak berubah maka kenaikan pada organic composition of capital akan mendorong tingkat keuntungan pada level yang lebih rendah.

3. Krisis Bisnis

Pada konteks krisis bisnis (depresi), Karl Marx berpendapat bahwa adanya perubahan orientasi atau tujuan dari proses produksi dari tujuan nilai guna pada zaman ekonomi barter berubah menjadi tujuan nilai tukar dan keuntungan saat dibawah kapitalisme, menyebabkan terjadinya fluktuasi ekonomi. Pada ekonomi barter, produse hanya menghasilkan barang untuk dikonsumsi sendiri atau ditukar dengan komoditi yang lain, sehingga pada saat ekonomi barter ini tidak pernah terjadi over produksi. Sedangkan ketika tujuan produksi berubah menjadi nilai tukar dan keuntungan maka terjadinya over produksi pada suatu perekonomian akan mungkin terjadi. Over produksi itu sendiri akan berdampak pada menurunnya tingkat keuntungan. Perubahan tingkat keuntungan tersebut akan berdampak pada pengeluaran untuk infestasi. Volatility dari pengeluaran infestasi inilah yang menurut pendapat Karl Mark merupakan penyebab umum dari fluktuasi pada keseluruhan aktifitas ekonomi. menghasilkan siklus bisnis, hal ini Karl Marx bercermin pada pertumbuhan dramatic pada industry tekstil di Inggris dengan mekanisme sebagai berikut. Adanya ledakan pada teknologi akan menyebabkan peningkatan akumulasi dari modal dan permintaan pada tenaga kerja. Jumlah pengangguran akan berkurang, tingkat upah akan naik, surplus value akan berkurang, dan tingkat surplus value akan berkurangdan akhirnya akan mengurangi tingkat keuntungan. Penurunan tingkat keuntungan akan menyebabkan penurunan akumulasi modal dan akan menyebabkan depresi. Namun menurut Karl Marx depresi ini mempunyai elemen yang akhirnya, cepat atau lambat akan menyebabkan ekspansi yang baru pada kegiatan ekonomi.

Teori klasikmelihat bahwaadanya pasar di harapkan dapat memecahkan masalah alokasi sumber daya yang ada, hal ini akan menciptakan suatu kondisi keseimbangan dalam jangka panjang.

4. Jatuhnya nilai profit dan krisis bisnis

Dalam model Karl Marxian sebuah ekonomi klasik dengan jelas bergantung pada kapitalis itu sendiri yang berupaya untuk mengubah jumlah atau nilai profit dan mengubah ekspetasi profit dalam kaitannya dengan krisis bisnis. Karl Marx memakai hukumnya itu untuk menjelaskan fluktusi dalam jangka pendek dalam aktifitas ekonomi. Untuk memperoleh profit yang besar, aliran kapitalis menambah komposisi modal an ternyata hal itu justru menurunkan profit.

Kaum kapitalis secara periodic akan berusaha menanggulangi jatuhnya nilai profit dengan mengurangi infestasi secara berlebih yang dapat menyebabkan aktifitas ekonomi mengalami fluktuasi yang nantinya bias menyebabkan krisis.

Karl Marx mengatakan bahwa fakor yang menyebabkan fluktuasi dalam aktifitas bisnis, yaitu: jatuhnya nilai profit, factor teknologi baru yang tidak sama, dan tidak proporsionalnya pengembangan dalam suatu sector ekonomi yang nantinya dapat menyebabkan penurunan dalam level kegiatan ekonomi.

Fluktuasi menurutnya terjadi dalam suatu system karena pada dasarnya kebanyakan dari aktifitas kapitalis cenderung ingin mencari jumlah profit sebanyak mungkin.

Adapun teori karl marx tentang krisis bisnis mungkin banyak terdapat kekurangan secara internal, tidak diragukan lagi bahwa pandangannya tentang kapitalis secara mendasar belum stabil. Meskipun begitu, visi dari karl marx tentang teori kapitalis ini secara lebih lanjut tidak mendapat smabutan oleh teori orthodox sapai tahun 1930.

5. Konsentrasi modal

Meskipun model karl marx memberi asumsi mengenai adanya pasar persaingan sempurna dengan jumlah yang besar untuk perusahan-perusahan kecil dalam tiap –tiap industry, namun karena ketatnya persaingan maka akan mengarah pada jatuhnya industry-industri kecil sehingga akan mengurangi persaingan.

Untuk mengurangi adanya persaingan salah satunya dengan peusatan modal. Pemusatan modal ini terjadi melalui sebuah redistribusi pada modal. Karl Marx menujukan bahwa perusahaan yang besar lebih bias mencapai skala ekonomi yang lebih baik ketimbang perusahaan yang kecil, hal ini disebabkan karena perusahaan yang besar itu dapat memproduksi dengan biaya yang rendah. Persaingan diantara perusahaan yang besar dan yang kecil menghasilkan pertumbuhan monopoli. Penambahan modal secara lebih jauh dengan mengembangkan sistem kredit dan kerja sama dalam bentuk organisasi bisnis.

6. Bertambahnya kesengsaraan kaum proletar

kontradiksi kapitalisme menurut marx menyebabkan bertambahnya tingkat kesengsaraan pada kaum proletar. Bertambahnya kesengsaraan secara absolut menunjukkan pendapatan dari masyarakat secara global menurun dalam sistem kapitalis dan juga menunjukan bahwa bagian pendapatan nasional mereka menjadi turun di kemudian hari.

Hingga pada akhirnya marx berasumsika secara konsisten bahwa hal yang harus dilakukan untuk menghilangkan kesengsaraan, yakni dengan lebih memperhatikan pada kualitas hidup mereka.

 

DAFTAR RUJUKAN

–          http://filsafat.kompasiana.com/2010/05/02/karl-marx-dengan-segala-pemikirannya/

–          http://simpangtigofilsafat.blogspot.com/2008/06/peta-pemikiran-hegel-1.html

–          http://rimaru.web.id/paham-ekonomi-klasik-david-ricardo/

 

Tinggalkan komentar »

SOSIOLOGI ISLAM (RELASI ISLAM DAN BUDAYA)

RELASI ISLAM DAN BUDAYA

  1. A.    Pengertian Islam dan Budaya

 Pengertian agama Islam bisa kita bedah dari dua aspek, yaitu aspek kebahasaan dan aspek peristilahan.Dari segi kebahasaan, Islam berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata salima “سلم” yang mengandung arti selamat, sentosa, dan damai. Dari kata salima selanjutnya diubah menjadi bentuk aslama “اسلم”yang berarti berserah diri masuk dalam kedamaian. Oleh sebab itu orang yang berserah diri, patuh, dan taat kepada Allah swt. disebut sebagai orang Muslim. Dari uraian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa kata Islam dari segi kebahasaan mengandung arti patuh, tunduk, taat, dan berserah diri kepada Allah swt. dalam upaya mencari keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Pengertian Islam dari segi istilah, banyak para ahli yang mendefinisikannya; di antaranya Prof. Dr. Harun Nasution. Beliau mengatakan bahwa Islam menurut istilah adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui Nabi Muhammad saw. sebagai Rasul. Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mengenal satu segi, tetapi menganal berbagai segi dari kehidupan manusia yang multi dimensi, sehingga Al-quran sebagai bentuk wahyu dan mukjizat Nabi Muhammad yang paling Mulia mampu memasyarakat sepanjag masa. Sementara itu Maulana Muhammad Ali mengatakan bahwa Islam adalah agama perdamaian; dan dua ajaran pokoknya, yaitu keesaan Allah dan kesatuan atau persaudaraan umat manusia menjadi bukti nyata bahwa agama Islam selaras benar dengan namanya.

Islam dikatakan sebagai agama seluruh Nabi Allah, sebagaimana tersebut dalam Al Qur’an. Di kalangan masyarakat Barat, Islam sering diidentikkan dengan istilah Muhammadanism dan Muhammadisme. Peristilahan ini timbul karena pada umumnya agama di luar Islam namanya disandarkan pada nama pendirinya.
Di Persia misalnya ada agama Zoroaster. Agama ini disandarkan pada nama pendirinya, Zarathustra (W.583 SM). Agama lainnya, misalnya agama Budha, agama ini dinisbahkan kepada tokoh pendirinya, Sidharta Gautama Budha (lahir 560 SM).

Demikian pula nama agama Yahudi yang disandarkan pada orang-orang Yahudi (Jews) yang berasal dari negara Juda (Judea) atau Yahuda. Penyebutan istilah Muhammadanism dan Muhammedan untuk agama Islam, bukan saja tidak tepat, akan tetapi secara prinsip hal itu merupakan kesalahan besar. Istilah tersebut bisa mengandung arti bahwa Islam adalah paham Muhammad atau pemujaan terhadap Muhammad, sebagaimana perkataan agama Budha yang mengandung arti agama yang dibangun oleh Sidharta Gautama Budha atau paham yang berasal dari Sidharta Gautama.

Analogi nama dengan agama-agama lainnya tidaklah mungkin bagi Islam. Berdasarkan keterangan tersebut, Islam menurut istilah mengacu kepada agama yang bersumber pada wahyu yang datang dari Allah swt, bukan berasal dari manusia/Nabi Muhammad saw. Posisi Nabi dalam agama Islam diakui sebagai orang yang ditugasi Allah untuk menyebarkan ajaran Islam tersebut kepada umat manusia. Dalam proses penyebaran agama Islam, nabi terlibat dalam memberi keterangan, penjelasan, uraian, dan tata cara ibadahnya. Keterlibatan Nabi ini pun berada dalam bimbingan wahyu Allah swt. Dengan demikian, secara istilah, Islam adalah nama agama yang berasal dari Allah swt. Nama Islam tersebut memiliki perbedaan yang luar biasa dengan nama agama lainnya. Kata Islam tidak mempunyai hubungan dengan orang tertentu, golongan tertentu, atau negeri tertentu.

Kata Islam adalah nama yang diberikan oleh Allah swt. Hal itu dapat dipahami dari petunjuk ayat-ayat Al Qur’an yang diturunkan Allah swt. Selanjutnya, dilihat dari segi misi ajarannya, Islam adalah agama sepanjang sejarah manusia. Agama dari seluruh Nabi dan Rasul yang pernah diutus oleh Allah swt. pada berbagai kelompok manusia dan berbagai bangsa yang ada di dunia ini.

Kesimpulannya, pengertian agama Islam secara bahasa berarti tunduk, patuh, dan damai. Sedangkan menurut istilah, Islam adalah nama agama yang diturunkan Allah untuk membimbing manusia ke jalan yang benar dan sesuai fitrah kemanusiaan. Islam diturunkan bukan kepada Nabi Muhammad saja, tapi diturunkan pula kepada seluruh nabi dan rasul. Sesungguhnya seluruh nabi dan rasul mengajarkan Islam kepada umatnya. Wallahu A’lam.

Menurut Koentjaraningrat (2000:181) kebudayaan dengan kata dasar budaya berasal dari bahasa sangsakerta ”buddhayah”, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau “akal”. Jadi Koentjaraningrat, mendefinisikan budaya sebagai “daya budi” yang berupa cipta, karsa dan rasa, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa dan rasa itu.

Koentjaraningrat juga menerangkan bahwa pada dasarnya banyak sarjana yang membedakan antara budaya dan kebudayaan, dimana budaya merupakan perkembangan majemuk budi daya, yang berati daya dari budi. Namun, pada kajian Antropologi, budaya dianggap merupakan singkatan dari kebudayaan, tidak ada perbedaan dari definsi. Jadi, kebudayaan atau disingkat “budaya”, menurut Koentjaraningrat  merupakan “keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.”

Menurut Clifford Geertz mengatakan bahwa kebudayaan merupakan sistem mengenai konsepsi-konsepsi yang diwariskan dalam bentuk simbolik, yang dengan cara ini manusia dapat berkomunikasi, melestarikan, dan mengembangkan pengetahuan dan sikapnya terhadap kehidupan. (Abdullah, 2006:1)

Lebih sepesifik lagi, E. B Taylor, dalam bukunya “Primitive Cultures”, mengartikan kebudayaan sebagai keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.”(Setiadi, 2007:27).

Dari penjelasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kebudayaan atau budaya merupakan sebuah sistem, dimana sistem itu terbentuk dari perilaku, baik itu perilaku badan maupun pikiran. Dan hal ini berkaitan erat dengan adanya gerak dari masyarakat, dimana pergerakan yang dinamis dan dalam kurun waktu tertentu akan menghasilkan sebuah tatanan ataupun sistem tersendiri dalam kumpulan masyarakat.

  1. Unsur-Unsur Budaya

J. J Honigmann (dalam Koenjtaraningrat, 2000) menyebutkan adanya tiga gejala kebudayaan yaitu : ideas, activities, dan artifact, dan ini diperjelas oleh Koenjtaraningrat yang mengistilahkannya dengan tiga wujud kebudayaan :

  1. Wujud kebudayaan sebagai suatu yang kompleks dari ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya.
  2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.
  3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.

Mengenai wujud kebudayaan ini, Elly M.Setiadi dalam Buku Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (2007:29-30) memberikan penjelasannya sebagai berikut :

a.Wujud Ide, Wujud tersebut menunjukann wujud ide dari kebudayaan, sifatnya abstrak, tak dapat diraba, dipegang ataupun difoto, dan tempatnya ada di alam pikiran warga masyarakat dimana kebudayaan yang bersangkutan itu hidup. Budaya ideal mempunyai fungsi mengatur, mengendalikan, dan memberi arah kepada tindakan, kelakuan dan perbuatan manusia dalam masyarakat sebagai sopan santun. Kebudayaan ideal ini bisa juga disebut adat istiadat.

b.  Wujud perilaku

Wujud tersebut dinamakan sistem sosial, karena menyangkut tindakan dan kelakuan berpola dari manusia itu sendiri. Wujud ini bisa diobservasi, difoto dan didokumentasikan karena dalam sistem sosial ini terdapat aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi dan berhubungan serta bergaul satu dengan lainnya dalam masyarakat. Bersifat konkret dalam wujud perilaku dan bahasa.

c. Wujud Artefak

Wujud ini disebut juga kebudayaan fisik, dimana seluruhnya merupakan hasil fisik. Sifatnya paling konkret dan bisa diraba, dilihat dan didokumentasikan. Contohnya : candi, bangunan, baju, kain komputer dll.

Unsur Kebudayaan

Mengenai unsur kebudayaan, dalam bukunya pengantar Ilmu Antropologi, Koenjtaraningrat, mengambil sari dari berbagai kerangka yang disusun para sarjana Antropologi, mengemukakan bahwa ada tujuh unsur kebudayaan yang dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia yang kemudian disebut unsur-unsur kebudayaan universal, antara lain :

  1. Bahasa
  2. Sistem Pengetahuan
  3. Organisasi Sosial
  4. Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi
  5. Sistem Mata Pencaharian
  6. Sistem Religi
  7. Kesenian

 

Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut:

  1. Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:

–          alat-alat teknologi

–          sistem ekonomi

–          keluarga

–          kekuasaan politik

  1. Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:

–          sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya

–          organisasi ekonomi

–          alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)

–          organisasi kekuatan (politik)

Jadi berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama yaitu; Kebudayaan material dan Kebudayaan nonmaterial. Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci. Kebudayaan nonmaterial Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.

  1. Teori Budaya

Teori kebudayaan dapat digunakan untuk keperluan praktis, memperlancar pembangunan masyarakat, di satu sisi pengetahuan teoritis tentang kebudayaan dapat mengembangkan sikap bijaksana dalam menghadapi serta menilai kebudayaan-kebudayaan yang lain dan pola perilaku yang bersumber pada kebudayaan sendiri.

Pengetahuan yang ada belum menjamin adanya kemampuan untuk dapat digunakan bagi tujuan-tujuan praktis karena antara toeri dan praktek terdapat sisi-antara (interface) yang harus diteliti secara tuntas agar dengan pengetahuan yang diperoleh lebih lanjut dari penelitian yang dilakukan, konsekuensi dalam penerapan praktis dapat dikendalikan secara ketat. Dengan demikian akan didapat pemahaman tentang prinsip-prinsip dan konsep-konsep dasar yang melandasi pandangan-pandangan teoritis tentang kebudayaan.

Secara garis besar hal yang dibahas dalam teori kebudayaan adalah memandang kebudayaan sebagai, (a) Sistem adaptasi terhadap lingkungan.(b) Sistem tanda.(c) Teks, baik memahami pola-pola perilaku budaya secara analogis dengan wacana tekstual, maupun mengkaji hasil proses interpretasi teks sebagai produk kebudayaan. (d) Fenomena yang mempunyai struktur dan fungsi. (e) Dipandang dari sudut filsafat.

Sebelum lebih lanjut memahami teori kebudayaan ada baiknya kita meninjau terlebih dahulu wilayah kajian kebudayaan, atau lebih tepatnya Ilmu Pengetahuan Budaya. Jika menilik pembagian keilmuan seperti yang diungkapkan oleh Wilhelm Dilthey dan Heinrich Rickert, mereka membagi ilmu pengetahuan ke dalam dua bagian, yaitu Naturwissenschaften (ilmu pengetahuan alam) dimana dalam proses penelitiannya berupaya untuk menemukan hukum-hukum alam sebagai sumber dari fenomena alam. Sekali hukum ditemukan, maka ia dianggap berlaku secara universal untuk fenomena itu dan gejala-gejala yang berkaitan dengan fenomena itu tanpa kecuali. Dalam Naturwissenschaften ini yang ingin dicari adalah penjelasan (erklären) suatu fenomena dengan menggunakan pendekatan nomotetis.

Hal lain adalah Geisteswissenschaften (ilmu pengetahuan batin) atau oleh Rickert disebut dengan Kulturwissenschaften (ilmu pengetahuan budaya) dimana dalam tipe pengetahuan ini lebih menekankan pada upaya mencari tahu apa yang ada dalam diri manusia baik sebagai mahluk sosial maupun mahuk individu. Terutama yang berkaitan pada faktor-faktor yang mendorong manusia untuk berperilaku dan bertindak menurut pola tertentu. Upaya memperoleh pengetahuan berlangsung melalui empati dan simpati guna memperoleh pemahaman (verstehen) suatu fenomena dengan menggunakan pendekatan ideografis.

Pada perkembangannya banyak ilmu-ilmu geisteswissenschaften dan kulturwissenschaften menggunakan pendekatan yang digunakan oleh naturwissenschaften seperti halnya Auguste Comte yang melihat suatu fenomena perkembangan masyarakat dengan menggunakan pendekatan positivistik. Jika di tilik tentang konsep kebudayaan, maka dapat dilihat dari dua sisi, yaitu, pertama, Konsep kebudayaan yang bersifat materialistis, yang mendefinisikan kebudayaan sebagai sistem yang merupakan hasil adaptasi pada lingkungan alam atau suatu sistem yang berfungsi untuk mempertahankan kehidupan masyarakat. Kajian ini lebih menekankan pada pendangan positivisme atau metodologi ilmu pengetahuan alam. Kedua, Konsep kebudayaan yang bersifat idelaistis, yang memandang semua fenomena eksternal sebagai manifestasi suatu sistem internal, kajian ini lebih dipengaruhi oleh penekatan fenomenologi.

Terlepas dari itu semua maka kebudayaan dapat diartikan sebagai suatu fenomena sosial dan tidak dapat dilepaskan dari perilaku dan tindakan warga masyarakat yang mendukung atau menghayatinya. Sebaliknya, keteraturan, pola, atau konfigurasi yang tampak pada perilaku dan tindakan warga suatu masyarakat tertentu dibandingkan perilaku dan tindakan warga masyarakat yang lain, tidaklah dapat dipahami tanpa dikaitkan dengan kebudayaan.

Mengenai pembagian wilayah keilmuan ini terdapat kerancuan terutama yang berkenaan dengan peristilahan human science dan humanities. Pada masa Yunani dan Romawi, pendidikan yang berkaitan dengan humanities adalah yang berkaitan dengan pemberian keterampilan dan pengetahuan yang diperoleh melalui pendidikan agar seseorang mempunyai kemampuan untuk mengembangkan potensi dirinya tentang kemanusian yang berbudi dan bijaksana secara sempurna. Adapun mata pelajaran yang diberikan untuk mencapai hal itu adalah filsafat, kesusastraan, bahasa (reotrika, gramatika), seni rupa dan sejarah. Maka dari penjelasan ini, humanities atau humaniora lebih mendekati pada ilmu pengetahuan budaya.

Berbicara tentang kebudayaan maka tidak bisa terlapsa dari peradaban. Berikut ini beberapa dimensi dari peradaban, diantaranya, pertama, Adanya kehidupan kota yang berada pada tingkat perkembangan lebih „tinggi“ dibandingkan dengan keadaan perkembangan didaerah pedesaan. Kedua, Adanya pengendalian oleh masyarakat dari dorongan-dorongan elementer manusia dibandingkan dengan keadaan tidak terkendalinya atau pelampiasan dari dorongan-dorongan itu.

Selain menganggap corak kehidupan kota sebagai lebih maju dan lebih tinggi dibandingkan dengan corak kehidupan di desa, dalam pengertian peradaban terkandung pula suatu unsur keaktifan yang menghendaki agar „kemajuan“ itu wajib disebarkan ke masyarakat dengan tingkat perkembangan yang lebih rendah, yang berada di daerah-daerah pedesaan yang terbelakang.

Peradaban sebenarnya muncul setelah adanya masa kolonialisasi dimana ada semangat untuk menyebarkan dan menanamkan peradaban bangsa kolonial dalam masyarakat jajahannya, sehingga pada masa itu antara masyarakat yang „beradab“ dan „kurang beradab“ dapat digeneralisasikan sebagai corak kehidupan barat versus coak kehidupan bukan barat.Unsur lain yang terkandung dalam makna „peradaban adalah kemajuan sistem kenegaraan yang jelas dapat dikaitkan dengan pengetian civitas. Implikasinya adalah bahwa penyebaran sistem politik barat dapat merupakan sarana yang memungkinkan penyebaran unsur-unsur peradaban lainnya. Corak kehidupan kota atau kehidupan yang beradab pada hakikatnya berarti tata pergaulan sosial yang sopan dan halus, yang seakan-akan mengikis dan melicinkan segi-segi kasar.

Dari penjelasan definisi peradaban diatas yang hampir merangkum semua unsur adalah definisi yang diambil dari bahasa Belanda (beschaving) yang mengatakan bahwa peradaban meliputi tatacara yang memungkinkan berlangsungnya pergaulan sosial yang lancar dan sesuai dengan norma-norma kesopanan yang berlaku dalam masyarakat barat.

Dalam mengkaji kebudayaan, unit analisa atau obyek dari kajiannya dapat dikategorikan kedalam lima jenis data, yaitu, (a) artifak yang digarap dan diolah dari bahan-bahan dalam lingkungan fisik dan hayati, (b) perilaku kinetis yang digerakkan oleh otot manusia, (c) perilaku verbal yang mewujudkan diri ke dalam dua bentuk yaitu (d) tuturan yang terdiri atas bunyi bahasa yang dihasilkan oleh pita suara dan otot-otot dalam rongga mulut dan (e) teks yang terdiri atas tanda-tanda visual sebagai representasi bunyi bahasa atau perilaku pada umumnya. Baik artifak, teks, maupun periaku manusia memperlihatkan tata susunan atau pola keteraturan tertentu yang dijadikan dasar untuk memperlakukan hal-hal itu sebagai data yang bermakna, karena merupakan hasil kegiatan manusia sebagai mahluk yang terikat pada kelompok atau kolektiva, dan karena keterikatan itu mewujudkan kebermaknaan itu.

Teori kebudayaan adalah usaha untuk mengonseptualkan kebermaknaan itu, untuk memahami pertalian antara data dengan manusia dan kelompok manusia yang mewujudkan data itu. Teori kebudayaan adalah usaha konseptual untuk memahami bagaimana manusia menggunakan kebudayaan untuk melangsungkan kehidupannya dalam kelompok, mempertahankan kehidupannya melalui penggarapan lingkungan alam dan memelihara keseimbangannya dengan dunia supranatural.

Keragaman teori kebudayaan dapat ditinjau dari dua perspektif, yaitu, (a) perspektif perkembangan sejarah yang melihat bahwa keragaman itu muncul karena aspek-aspek tertentu dari kebudayaan dianggap belum cukup memperoleh elaborasi. Dan (b) perspekif konseptual yang melihat bahwa keragaman muncul karena pemecahan permasalahan konseptual terjadi menurut pandangan yang berbeda-beda. Dalam memahami kebudayaan kita tidak bisa terlepas dari prinsip-prinsip dasarnya. de Saussure merumuskan setidaknya ada tiga prinsip dasar yang penting dalammemahami kebudayaan, yaitu:

  1.  Tanda (dalam bahasa) terdiri atas yang menandai (signifiant, signifier, penanda) dan yang ditandai (signifié, signified, petanda). Penanda adalah citra bunyi sedangkan petanda adalah gagasan atau konsep. Hal ini menunjukkan bahwa setidaknya konsep bunyi terdiri atas tiga komponen (1) artikulasi kedua bibir, (2) pelepasan udara yang keluar secara mendadak, dan (3) pita suara yang tidak bergetar.
  2.   Gagasan penting yang berhubungan dengan tanda menurut Saussure adalah tidak adanya acuan ke realitas obyektif. Tanda tidak mempunyai nomenclature. Untuk memahami makna maka terdapat dua cara, yaitu, pertama, makna tanda ditentukan oleh pertalian antara satu tanda dengan semua tanda lainnya yang digunakan dan cara kedua karena merupakan unsur dari batin manusia, atau terekam sebagai kode dalam ingatan manusia, menentukan bagaimana unsur-unsur realitas obyektif diberikan signifikasi ataukebermaknaan sesuai dengan konsep yang terekam.
  3.   Permasalahan yang selalu kembali dalam mengkaji masyarakat dan kebudayaan adalah hubungan antara individu dan masyarakat. Untuk bahasa, menurut Saussure ada langue dan parole (bahasa dan tuturan). Langue adalah pengetahuan dan kemampuan bahasa yang bersifat kolektif, yang dihayati bersama oleh semua warga masyarakat; parole adalah perwujudan langue pada individu. Melalui individu direalisasi tuturan yang mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku secara kolektif, karena kalau tidak, komunikasi tidak akan berlangsung secara lancar.

Gagasan kebudayaan, baik sebagai sistem kognitif maupun sebagai sistem struktural, bertolak dari anggapan bahwa kebudayaan adalah sistem mental yang mengandung semua hal yang harus diketahui individu agar dapat berperilaku dan bertindak sedemikian rupa sehingga dapat diterima dan dianggap wajar oleh sesama warga masyarakatnya.

  1. Pengaruh Islam Terhadap Pola Budaya

Perlu diketahui bahwa isalam masuk ke nusantara ini melalui berbagai aspek penting di dalamnya, melalui akulturasi budaya sehingga islam mudah diterima di nusantara ini dan menyebar ke seluruh penjuru daerah. Penyebaran budaya Islam di Indonesia melalui akulturasi dibuktikan dengan keberhasilan masyarakat Indonesia dalam mengakulturisasi budaya Hindu-Buddha dan yang kemudian, Islam. Penting diketahui, aspek-aspek budaya Hindu-Buddha yang diterapkan di Indonesia tidaklah “serupa benar” dengan apa yang berlaku di India. Budaya Hindu-Buddha yang asli telah mengalami sinkretisisasi dengan budaya lokal yang berkembang di Indonesia.

Sinkretisisasi budaya ini pun terjadi tatkala persebaran budaya Islam di sekujur pulau nusantara. Islam yang kemudian menggejala di nusantara memiliki sejumlah corak baru tatkala diimplementasikan di bumi Indonesia. Tulisan ini akan melakukan perjalanan singkat dalam melihat pengaruh-pengaruh Islam terhadap budaya lokal yang berkembang di Indonesia.

Masuknya Islam ke Indonesia dan berkembang lewat perantaraan bahasa Arab. Kontak antara Islam dengan kepulauan nusantara sebagian besar berlangsung di wilayah pesisir pantai. Utamanya lewat proses perdagangan antara penduduk lokal dengan para pedagang bangsa Persia, Arab, dan India Gujarat. Kontak-kontak ini, pada perkembangannya, memunculkan proses akulturisasi budaya. Islam kemudian muncul sebagai “competing” culture Hindu-Buddha.

M.C. Ricklefs dari Australian National University menyebutkan 2 proses masuknya Islam ke nusantara. Pertama, penduduk pribumi mengalami kontak dengan agama Islam dan kemudian menganutnya. Kedua, orang-orang asing (Arab, India, Cina) yang telah memeluk agama Islam tinggal secara tetap di suatu wilayah Indonesia, kawin dengan penduduk asli, dan mengikuti gaya hidup lokal sedemikian rupa sehingga mereka sudah menjadi orang Jawa, Melayu, atau suku lainnya.

Petunjuk tegas pertama seputar munculnya Islam di nusantara adalah ditemukannya nisan Sultan Sulaiman bin Abdullah bin al-Basir yang wafat tahun 608H atau 1211 M, di pemakaman Lamreh, Sumatera bagian Utara. Nisan ini sekaligus menunjukkan adanya kerajaan Islam pertama di nusantara. Mazhab yang berkembang di wilayah Sumatera bagian Utara awal perkembangan Islam ini, menurut Ibnu Battuta (musafir Maroko) adalah Syafi’i.

Semakin signifikannya pengaruh Islam di nusantara adalah dengan berdirinya sejumlah kerajaan. Jean Gelman-Taylor mencatat di Ternate (Maluku) penguasanya melakukan konversi ke Islam tahun 1460.4 di Demak, penguasanya mendirikan kota muslim tahun 1470, sementara kota-kota pelabuhan di sekitarnya seperti Tuban, Gresik, dan Cirebon menyusul pada tahun 1500-an. Sekitar tahun 1515 pelabuhan Aceh memiliki penguasa Islam, disusul Madura pada 1528, Gorontalo 1525, Butung 1542. Tahun 1605 penguasa Luwuk, Tallo, dan Gowa (Sulawesi Selatan) masuk Islam dan 1611 semenanjung Sulawesi Selatan telah dikuasai penguasa Islam. Pada perkembangannya, terjadi proses saling pengaruh antara Islam yang sudah berakulturisasi dengan budaya lokal dengan Islam yang masuk dari wilayah Timur Tengah.  Sehingga menimbulkan berbagai corak kebudayaan yang bermacam-macam.

Perdagangan merupakan metode penetrasi Islam yang paling kentara. Dalam proses ini, pedagang nusantara dan asing saling bertemu dan bertukar pengaruh. Pedagang asing terdiri atas pedagang Gujarat dan Timur Tengah. Mereka ini bertemu dengan para adipati wilayah pesisir yang hendak melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit. Sebagian dari para pedagang asing ini menetap di wilayah yang berdekatan dengan pantai dan menularkan kebudayaan Islam mereka. Selain itu ada metode perkawinan yang banyak dilakukan antara pedagang selaku perantau dengan putri-putri adipati. Dalam pernikahan, mempelai pria biasanya mengajukan syarat pengucapan kalimat syahadat sebagai sahnya pernikahan. Anak-anak yang dihasilkan dari pernikahan tersebut mengikuti agama orang tuanya.

Seni, juga tidak bisa dipungkiri punya peran signifikan dalam penyebaran Islam. Orang Indonesia merupakan seniman-seniman yang punya kemashuran tingkat tinggi. Lewat seni inilah, Islam relatif lebih mudah diterima ketimbang metode-metode lain. Sunan Kalijaga misalnya, menggunakan wayang sebagai cara dakwah. Sunan Bonang menggunakan gamelan untuk melantunkan syair-syair keagamaan. Ini belum termasuk tokoh-tokoh lain yang mengadaptasi seni kerajinan lokal dan Hindu-Buddha untuk kemudian diberi muatan Islam yang sampai saat ini masih membudaya, jadi islam masuk ke tanah air melalui berbagai sistem dan situasi budaya pada waktu itu, sehingga Islam mudah diterima oleh masyarakat nusantara.

Bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa dagang dan banyak digunakan di bagian barat kepulauan Indonesia. Sesuai dengan perkembangan awal Islam, bahasa Melayu pun telah memasukkan sejumlah kosakata Arab ke dalam struktur bahasanya. Bahkan, Taylor mencatat sekitar 15% dari kosakata bahasa Melayu merupakan adaptasi dari bahasa Arab. Selain itu, terjadi modifikasi atas huruf-huruf Pallawa ke dalam huruf Arab, dan ini kemudian dikenal sebagai huruf Jawi.

Seiring naiknya Islam sebagai agama dominan di kepulauan nusantara, terjadi pula adaptasi bahasa yang digunakan Islam. Ini diantaranya merasuk ke struktur penanggalan Saka yang menjadi mainstream di kebudayaan Hindu-Buddha. Misalnya, nama-nama bulan Islam kemudian disinkretisasi oleh Sultan Agung (Mataram Islam) ke dalam sistem penanggalan Saka. Penanggalan Saka berbasiskan penanggalan Matahari (mirip Gregorian), sementara penanggalan Islam berbasis peredaran Bulan.

Sultan Agung pada 1625 mendekritkan perubahan penanggalan Saka menjadi penanggalan Jawa yang banyak dipengaruhi budaya Islam. Nama-nama bulan yang digunakan adalah 12, sama dengan penanggalan Hijriyah (versi Islam). Demikian pula, nama-nama bulan mengacu pada bahasa bulan Arab yaitu Sura (Muharram), Sapar (Safar), Mulud (Rabi’ul Awal), Bakda Mulud (Rabi’ul Akhir), Jumadilawal (Jumadil Awal), Jumadilakir (Jumadil Akhir), Rejeb (Rajab), Ruwah (Sya’ban), Pasa (Ramadhan), Sawal (Syawal), Sela (Dzulqaidah), dan Besar (Dzulhijjah). Namun, penanggalan hariannya tetap mengikuti penanggalan Saka oleh sebab penanggalan harian Saka saat itu paling banyak digunakan penduduk.

Selain masalah pembagian bulan, bahasa Arab pun merambah ke struktur kosakata. Sama dengan sejumlah bahasa Sanskerta yang akhirnya diakui selaku bagian dari bahasa Indonesia, sejumlah kata Arab pun akhirnya masuk ke dalam struktur bahasa Indonesia, yang di antaranya adalah :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bahasa Arab ini bahkan semakin signifikan di abad ke-18 dan 19 di Indonesia, di mana masyarakat nusantara lebih dapat membaca huruf Arab ketimbang Latin. Bahkan, di masa kolonial Belanda ini, mata uang ditulis dalam huruf Arab Melayu, Arab Pegon, ataupun Arab Jawi. Tulisan Arab pun kerap masih diketemukan di dalam tulisan batu nisan.

Pesantren. Salah satu wujud pengaruh Islam yang secara budaya lebih sistemik adalah pesantren. Asal katanya kemungkinan “shastri” yang berarti “orang-orang yang tahu kitab suci agama Hindu” dari bahasa Sanskerta. Atau, “cantrik” dari bahasa Jawa yang berarti “orang yang mengikuti kemana pun gurunya pergi. Fenomena pesantren sesungguhnya telah berkembang sebelum Islam masuk. Pesantren saat itu menjadi tempat pendidikan dan pengajaran agama Hindu. Setelah Islam masuk, materi dan proses pendidikan di pesantren diambilalih oleh Islam.

Pesantren pada dasarnya sebuah asrama pendidikan Islam tradisional. Siswa tinggal bersama dan belajar ilmu-ilmu keagamaan di bawah bimbingan guru yang dikenal dengan sebutan Kyai. Asrama siswa berada di dalam kompleks pesantren di mana kyai berdomisili. Dengan kata lain, pesantren dapat diidentifikasi dengan adanya 5 elemen pokok yaitu : pondok, masjid, santri, kyai, dan kitab-kitab klasik.

Seputar peran signifikan pesantren ini, Harry J. Benda menyebut bahwa sejarah Islam ala Indonesia adalah sejarah memperbesarkan peradaban santri dan pengaruhnya terhadap kehidupan keagamaan, sosial, dan ekonomi di Indonesia. Melalui pesantren ini, budaya Islam dikembangkan dan beradaptasi terhadap budaya lokal yang berkembang di sekitarnya.

Masjid. Masjid adalah tempat beribadah bagi kalangan Islam. Masjid-masjid awal yang terbentuk pasca penetrasi Islam ke nusantara cukup berbeda dengan yang berkembang di Timur Tengah. Di antaranya adalah, tidak terdapatnya kubah di puncak bangunan. Kubah ini tergantikan dengan semacam “meru” yaitu susunan limas (biasanya tiga tingkat atau lima) serupa dengan bangunan-bangunan Hindu. Masjid Banten memiliki meru 5 lingkat, sementara masjid Kudus dan Demak 3 tingkat. Namun secara umum, bentuk bangunan dinding yang bujur sangkar adalah sama dengan yang berkembang di budaya induknya.

Lalu, di Indonesia menara masjid biasanya tidak dibangun. Peran menara ini digantikan oleh bedug atau tabuh yang menandai masuknya waktu shalat. Setelah bedug atau tabuh dibunyikan, mulailah panggilan sembahyang dilakukan. Namun, ada pula menara yang dibangun semisal di masjid Kudus dan Demak. Uniknya, bentuk menara mirip dengan bangunan candi Hindu. Meskipun kini wujud masjid yang dibangun di Indonesia telah dilengkapi menara, tetapi bangunan-bangunan masjid jauh di masa sebelumnya masih mempertahankan bentuk lokalnya.

Makam. Makam adalah lokasi dikebumikannya jasad seseorang pasca meninggal dunia. Setelah pengaruh Islam, makam seorang berpengaruh tidak lagi diwujudkan ke dalam bentuk candi melainkan Cuma sekadar “cungkup.” Juga, di lokasi tubuh dikebumikan ditandai oleh nisan. Nisan ini merupakan bentuk penerapan Islam di Indonesia. Nisan Indonesia bukan sekadar batu, melainkan juga terdapat ukiran yang menandai nama siapa yang dikebumikan.

Seni Ukir. Ajaran Islam (terutama di Saudi Arabia) melakukan pelarangan kreasi makhluk bernyawa ke dalam seni. Larangan ini pun dipegang teguh oleh orang-orang Islam Indonesia. Sebagai penggantinya, mereka aktif membuat kaligrafi dan ukiran yang “tersamar”. Misalnya bentuk dedaunan, bunga, bukit-bukit karang, pemandangan, serta garis-garis geometris. Termasuk ke dalamnya pembuatan kaligrafi huruf Arab. Ukiran seperti ini terdapat di Masjid Mantingan dekat Jepara, daerah Indonesia yang memang terkenal karena seni ukirnya.

Sastra. Seperti pengaruh Hindu-Buddha, Islam pun memberi pengaruh terhadap seni sastra nusantara. Sastra yang dipengaruhi Islam ini terutama berkembang di daerah sekitar Selat Malaka dan Jawa. Di sekitar Selat Malaka merupakan perkembangan baru, sementara di Jawa merupakan kembangan dari sastra Hindu-Buddha. Seperti nyanyian jawa sampai lagu-lagu alqur’an dibacakan mirip dengan dibacakannya syair-syair jawa, di pesantren baca kitab kuning menggunakan bahsa dengan variasi alunan lagu syair jawa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

–          Abdullah, Prof. Dr Irwan. 2006. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

–          Koentjaraningrat. 2000. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Radar Jaya Offset.

–          Setiadi, Elly M, dkk. 2006. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta : Kencana.

–          M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, (Jakarta: Serambi, 2008)

–          Supartono Widyosiswoyo, Sejarah Kebudayaan Indonesia, (Jakarta: Universitas Trisakti, Cet.2, 2006)

–          Jean Gelman Taylor, Indonesia: Peoples and Histories, (New Haven: Yale University Press, 2003)

–          Sejarah Pesantren dalam: sejarah-pesantren&catid=51:tahukah-anda&Itemid=91 download tanggal 3 Mei 2009

–          Murray Gordon O’Hanlon, Pesantren dan Dunia Pemikiran Santri: Problematika Metodologi Penelitian yang dihadapi Orang Asing, (Malang: Universitas Muhammadiyah Malang, 2006)

–          R. Soekmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 3, (Yogyakarta: Kanisius, Cet.19, 2008)

–          Sitomorang, Oloan. Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya. (Bandung: Angkasa, 1988)

–          Taher, Tarmizi. Berislam Secara Moderat. Jakarta selatan: Grafindo Khazanah Ilmu, 2007.

–          Pranowo, Bambang. Islam Faktual Antara Tradisi dan Relasi Kuasa. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa, 1998.

 

Tinggalkan komentar »

FILSAFAT ANALITIK

FILSAFAT ANALITIK

Disampaikan pada Sekolah Filsafat Unit Kegiatan Pengembangan Intelektual (UKPI) IAIN Sunan Ampel Surabaya pada tanggal 22 April 2012

 Materi :

  1. A.    Sejarah Filsafat Analitik

Akhir abad ke-18 idealisme berkembang pesat di Jerman dan empirisisme di Inggris. Pertengahan abad ke-19 idealisme masuk ke Inggris dan mengalahkan dominasi filsafat empirisisme, disebut Neo-Idealisme atau Neo-Hegelianisme. Neo-Hegelianisme merupakan merupakan reaksi atas materialisme dan positifisme yang tidak memberikan ruang metafisis bagi doktrin agama. Filsafat Neo-Hegelianisame tidak dapat bertahan lama dan digantikan oleh neo-realisme.

Tokoh-tokoh filsafat neo-realisme, seperti George Edward Moore, Betrand Russell,  Alfred Ayer dan sebagainya menaruh perhatian besar pada penyelidikan linguistik dan logika analisis dari istilah, konsep dan proposisi. Ini merupakan reaksi langsung terhadap neo-hegelianisme yang beranggapan bahwa “realitas itu merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, itulah Roh Absolut”. Gerakan  ini disebut dengan “filsafat analitik”.

 

  1. B.     Tokoh-Tokoh Awal Filsafat Analitik
    1. 1.      George Edward Moore

Pendiri filsafat analitik  Menganalisa konsep dan argumentasi yang dipakai dalam etika, seperti kekeliruan naturalistik yang menyamakan “baik” dengan ciri naturalistik seperti hedonisme yang menyamakan antara “baik” dan “menyenangkan”. Baginya bukanlah is it true? Melainkan what is the meaning?

 

  1. 2.      Betrand Russell (Atomisme Logis)

–          Atomisme logis merupakan filsafat analitik yang mengandaikan sesuatu pada atom dan molekul (proposisi atomis dan proposisi molekular).

–          Proposisi atomis adalah proposisi yang paling sederhana misalkan: ini putih. Proposisi atomis dapat membentuk proposisi molekular, misalkan dengan menggunakan kata “dan” atau “atau”, seperti: ini putih dan itu biru.

–          nFakta-fakta tidak dapat bersifat benar atau salah, yang dapat bersifat benar atau salah adalah proposisi yang mengungkapkan fakta.

Proposisi dapat bermakna jika ditunjukkan fakta atomis  atau molekular yang sepadan dengannya (teori isomorfi atau teori kesepadanan). Akan tetapi Russell harus tetap mengakui adanya “fakta umum” seperti proposisi: “semua orang akan mati”, tidak bergantung pada fakta “A sudah mati”, “B sudah mati”, “C sudah mati”, dan seterusnya. Russell juga harus mengakui adanya “proposisi negatif” seperti:  tidak ada kuda berkaki sepuluh.

3. Alfred Ayer (Positifisme Logis)

Disebut positifisme logis karena menggunakan konsep positifisme yaitu “verifikasi” untuk menentukan makna, bukan menentukan kebenarannya, seperti: “Pelembang adalah Ibu kota Indonesia”, adalah kalimat yang tidak benar tapi bermakna (ketidakbenarannya adalah maknanya). Ucapan-ucapan metematika dan logika seperti: separuh 14 sama dengan 3 ditambah 4, tidak dapat diverifikasi atas dasar pengalaman inderawi, maka ucapan tersebut tergantung pada simbol yang digunakan. Hal ini disebut “taulologi”.

Verifikasi tidak hanya secara langsung tapi juga bisa secara tidak langsung misalnya dengan kesaksian. Verifikasi  bukan hanya secara faktual tapi juga secara prinsipal seperti: “ada kehidupan di planet Saturnus”, tetap bermakna kita tahu apa yang harus dilakukan untuk menverifikasinya.

 

  1. 3.      Ludwig Wittgenstein
    1. a.      Wittgenstein I : meaning is picture. Bahasa akan berarti jika dipakai untuk menggambarkan suatu keadaan faktual.
    2. b.      Wittgenstein II : meaning is use (1929). Arti suatu pernyataan bergantung pada pemakaian jenis bahasa tertentu. Untuk menjelaskan hal itu ia mengintrodusir istilah language game atau tata permainan bahasa.

Tokoh-Tokoh Selanjutnya

1. Ferdinand De Saussure (Semiologi)

Signifie dan Signified

Signifie (penanda) adalah bunyi yang bermakna atau coretan yang bermakna (aspek material dari bahasa), sedangkan signified (petanda) adalah gambaran mental, pikiran atau konsep (aspek mental dari bahasa).

Langage, Parole dan Langue

Langage adalah fenomena bahasa secara umum. Parole adalah pemakaian bahasa yang individual (language use). Sedangkan langue adalah pemakaian bahasa oleh golongan bahasa tertentu.

Sinkroni dan Diakroni

Sinkroni adalah bertepatan dengan waktu (itu) dan lepas dari historis (ahistoris), sedangkan diakroni adalah menelusuri makna, peninjauan historis. Menurut De Saussure, linguistik harus melalui sinkroni sebelum diakroni.

2. Rolan Barthes (Semiotika)

Proses pemaknaan tidak ada pada teks, tapi ada pada diri masing-masing pembaca (the death of author). Mitos  adalah cara untuk mengutarakan pesan, ia merupakan hasil dari pembicaraan bukan bahasa.

Macam-macam tanda:

  1. Signifier (penanda)
  2. Signified (petanda)
  3. Sign (tanda)

Sign (tanda) adalah hubungan antara konsep dan citra.  

 3. Jacques Derrida (Dekontruksi)

Tidak seperti filosof strukturalisme sebelumnya yang mengatakan bahwa “penanda mendahului petanda”, Derrida menganggap tanda sebagai trace (bekas) yang mendahuli petanda. Baginya, pada akhirnya bahasa dan kata-kata adalah kosong belaka, dalam arti tidak menunjuk pada sesuatu apapun selain pada maknanya sendiri dan makna itu sendiri tidak lain hanyalah perbedaan arti yang dimungkinkan oleh sistem lawan kata. Dengan dekontruksi, cerita besar modernitas dipertanyakan, dirongrong dan disingkap sifat paradoksnya. Modrnisme hendak ditampilkan tanpa kedok .

4. Jean Paul Baudrilard (Teori Simulasi)

Tanda merupakan kontruksi simulasi suatu realitas. Dalam dunia simulasi, bukan realitas yang menjadi cerminan kenyataan tetapi model-model seperti boneka barbie, tokoh-tokoh televisi dll. Tokoh-tokoh itu nampak lebih dekat ketimbang tetangga sendiri.

Perkembangan iptek seperti micro processor, memori bank, remote control, telecard, laser disc dan internet telah menciptakan relitas baru dengan citra-citra buatan. Citra-citra itu lebih meyakinkan ketimbang fakta, lebih dipercaya ketimbang kenyataan sehari-hari.

Akhirnya, nilai-guna dan nilai-tukar telah tergantikan oleh nilai nilai-tanda (makna) dan nilai simbol. Jadi citra, simbol dan sistem tanda lebih diperhatikan ketimbang manfaat dan harga.

 


Tinggalkan komentar »

“ILMU ALAMIAH DASAR” MAKALAH


KATA  PENGANTAR

 

 Segaja puja dan puji kami haturkan kepada Allah, tuhan semesta alam yang yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya serta taufik-Nya sehingga kami dalam keadaan sehat wal-afiyat. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan terhadap gusti kita sebagai  madinatul ilmi Nabi Muhamad SAW.

Syukur Al-hamdulillah kami panjatkan atas suksesnya penyusunan makalah ini. Makalah disusun sebagai tugas ujian tengah semester. Karena itu kami ucapkan terima kasih pada semua pihak yang terkait, terutama dosen pembimbing, orang tua kami dan sahabat yang telah berpartisipasi demi terselenggaranya makalah ini sehingga penyusunan makalah ini berjalan dengan lancer selasai tepat waktu.

Kami menyadari dalam makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurang baik dalam segi tulisan Maupun kata-kata, oleh karena itu kami mohon saran dan kritiknya demi kesempurnaan makalah ini  untuk kesempurnaan terutama ilmu kami.

 

 

 

 

 

 

                                                                                  

 

 

                                                                                  Surabaya, 21 November 2009

                                                                                                

                                                                                                  

Penulis

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

A- Latar belakang

Manusia sebagai makhluk tuhan yang berfikir,  dibekali rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu tersebut  yang memacu manusia  untuk mengenal, memahami dan menjelaskan hal-hal  yang bersifat alamiah, tesembunyi, sosial dan budaya serta manusia berusaha untuk mencari pemecahan  masalah yang dihadapi dari dorongan rasa   ingin tahu dan usaha untuk memahami masalah, menyebabkan manusia dapat mengumpulkan pengetahuan dalam bentuk ilmu pengetahuan.

B- Rumusan masalah.

  1. Pengertian IAD-IBD-ISD.
  2.  Bagaimana latar belakang timbulnya ilmu pengetahuan terhadap manusia? Dan mengapa ilmu pengetahuan hanya timbul pada manusia?
  3. Proses terjadinya  alam dan hancurnya alam.
  4. Bagaimana  hubungan manusia prasejarah dengan Adam dan hubungan  dengan keyakinan islam?
  5. Bagaimana Teori Charles Drwin tentang “survival of the fittest”?
  6. Bagaimana proses terjadinya perubahan budaya dari zaman ke zaman  hingga saat ini menurut teori evolusi dan cyclus?.
  7. Bagaimana mensikapi perubahan budaya secara islami?.
  8. Apakah nilai keindahan merupakan  budaya yang dicipatkan manusia?.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

1. PENGERTIAN IAD-IBD-ISD

 

Ilmu alamiah dasar (IAD) sering disebut ilmu pengetahuan alam (IPA) dan ada yang menyebut ilmu kealaman yang dalam bahasa inggris disebut Natural science atau science. Kata tersebut dalam bahasa Indonesia di sebut Sains. Maskoeri Yasin dalam bukunya mendefinisikan ilmu alamiah dasar (IAD) adalah “ ilmu pengetahuan yang mengkaji gejala-gejala dalam alam semesta ini, termasuk bumiyang terbentuk. Dengan menggunkan konsep dan prinsip ilmu dasar”.  Jadi singkatnya ilmu alamiah dasar (IAD) adalah ilmu yang mengkajikonsep-konsep dan prinsip dasar yang esensial saja. Beberapa disiplin-disiplin ilmu yang tergolong ilmu alamiah dasar (IAD) adalah fisika, kimia, astronomi, geologi,meteorology serta biologi.

Ilmu budaya dasar (IBD) merupakan ilmu yang mempelajari tingkah laku dan perbuatan manusia. Ilmu IBD ini dibagi dalam tiga kelompok; 1. Seni (sastra, musik, seni rupa, tari, dan pidato). 2. Sejarah 3. filsafat. Beberapa disiplin ilmu yang ternasuk ilmu budaya dasar (IBD) adalah sebagai berikut;

  1. Sejarah tidak luput dari seni, menempati posisi yang paling tinggi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam seni terdapat ekspresi manusia yang menonjol.
  2. Sejarah sebagai disiplin ilmu yang menelaah manusia dalam demensi waktu telaah masa lampaunya. Manusia ciptaan Allah, dan makhluknya adalah pencipta budaya, peradaban serta perubahan.
  3. Retorika, yang merupakan seni dalam berbicara di depan umum atau lebih kerennya seni berpidato.

Ilmu sosial  dasar (ISD) adalah ilmu yang lebih mengkhususkan atau memebicarakan hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya. Hubungan ini dapat diwujudkan dengan kenyataan sosial. Dan kenyataan sosial inilah yang menjadi titik perhatiannya. Jadi (ISD) berperan untuk menghadapi masalah-masalah sosial  yang dihadapi masyarakat.

 

 

2. ILMU PENGETAHUAN

 

a. Munculnya Ilmu Pengetahuan

Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah dalam bentuk yang paling sempurna dari ciptaan-Nya yang lain. Manusia dilengkapi akal, nafsu, dan emosi serta panca indra yang dapat memberikan terhadap semua rangsangan, termasuk gejala alam semesta ini. Tanggapan terhadap peristiwa alam tersebut merupakan suatu pengalaman.

 Akal dan emosi menanggapi pengalaman tersebut dari zaman-kezaman yang akhirnya menimbulkan rasa ingin tahu terhadap segala hal yang ada di dunia ini. Pengalaman tersebut merupakan salah satu sebab terjadinya pengetahuan, dan pengetahuan tersebut mengumpulkan fakta-fakta. Pengalaman itu akan bertambah terus mengikuti pola pikir manusia yang memiliki rasa ingin tahu dan mewariskan pada generasi penerusnya.

Faktor yang mendorong pertambahan pengetahuan pertama. Didorong rasa ingin tahu. Kedua, dorongan untuk memuaskan diri untuk memahami hakikat alam semesta. Ketiaga, dorongan praktis, yang memanfaatkan pengetahuan untuk meningkatkan taraf hidup yang lebih baik. Ketiga dorongan itu menuju ilmu pengetahuan.

b. Pengetahuan Hanya Muncul pada Manusia

Dari ilmu yang kita miliki timbullah pertanyaan bagaimana dengan makhluk selain manusia, apakah muncul pengetaguan juga?. Tentu jawabannya tidak mungkin karena manusia mempunyai kemampuan yang tidak dapat dimiliki oleh selain manusia yaitu akal dan pikiran.

Rasa ingin tahu tidak dimiliki oleh makhluk selain manusia seperta tanah, batu,air dan angin. Namun bagaimana dengan binatang dan tumbuhan?. yang menunjukkan tanda-tanda perubahan dan gerakan. Misalnya, akar mencari air, daun-daun mencari sinar, binatang berpindah dari tempat ke tempat lain misalnya ikan, monyet, dan burung. Apakah mereka mempunyai pengetahuan?, seperti burung manyar bisa membuat sarang yang begitu indah bergelantungan di pohon . jawabannya tidak, mereka hanya mempunyai insting, perasaan dan kemauan. Meraka tidak melalui proses berfikir seperti halnya manusia.

c. Penemu Pengetahuan  Dan Akibat Yang Ditimbulkan

di bawah ini beberapa penemu ilmu pengetahuan

  1. James watt, dia menemukan mesin uap. Dimana dalam mesin tersebut terjadi pemanasan air hingga menjadi uap dan uap itu  bila jumlah molekulnya semakin rapat akan menimbulkan tekanan. Selanjutnya tekanan tersebut diubah menjadi energi mekanik, sehingga bisa menggerakkan mesin. Akibat penemuannya inilah timbul berbagai mesin lain yang lebih  hebat  
  2. Bell, dengan tekonologi modernya dia menciptakan telepon sebagai sarana komunikasi yang kemudian berkembang saat ini dengan nama handphone.
  3. Marconi 1896, dia seorang penemu pesawat radio yang berguna untuk mengirim dan menerima berita tanpa melalui kawat, seperti telephon dan telegram yang akhirnya ini digunakan dalam dunia informasi

3. TERBENTUKNYA ALAM DAN HANCURNYA

 

a. Terbentuknya Alam

Alam semesta menurut orang babylonia (+ 600-700 M) merupak suatu ruangan atau selungkup  dengan bumi yang datar  sebagai lantainya dan langit sebagai atapnya. Jadi menurutnya jagat raya ini adalah suatu ruangan yang sangat besar yang di dalamnya terdapat kehiduapan biotik dan abiotik serta di dalamnya terdapat segala peristiwa alam baik alami atau tidak.

Alam semesta terjadi pada tahun yang lampau bersamaan dengan letusan yang besar. Beberapa teori menjelaskan terjadinya alam semesta di antaranya;

  1. Teori ledakan, teori ini mengutarakan adanya suatu massa yang sangat besar meledak akibat adanya reaksi inti. Kemudian berserakan dan mengembang cepat srta menjahui pusat ledakan, setelah jutaan tahun lamanya massa yang berserakan itu berbentuk kelompok-kelompok yang dikenal dengan galaksi yang di dalamnya ada beberapa bintang.
  2. Immanuel Kant, dia mengutarakan teorinya bahwa di angkasa terdapat suatu ruangan yang berisi macam-macam gas (kabut). Gas yang besar menarik gas yang lebih kecil sehingga terbentuklah kabut besar.  Dalam proses tersebut terjadi benturan bola-bola gas sehingga timbullah panas. Panas ini menyebabkan putaran kabut asal. Kabut berputar semakin cepat maka semakin dingin. Di bagian katulistiwa terjadi pemisahan fragmen dari kabut tersebut. Fragmen yang terlempar keluar dan mendingin, mengembun, mencair, akhirnya menjadi padat, dan membentuk bumi serta planet-planet lainnya.

b. Hancurnya Alam

Para ahli berpendapat tentang hancurnya bumi dan alam semesta setelah bumi berusia sangat tua. Ketuan usia bumi diakibatka oleh ulah manusia yang tidak bertanggung jawab. Sekarang banyak fenomena-fenomena yang terjadi akibat manusia, antara lain ; banjir, longsor, Lumpur lapindo dan lainnya. Penyebab lainnya karena sumber daya daya alam telah habis digunakan khususnya  sumber daya alam yang tidak dapat dipengaruhi. Bumi diibaratkan badan manusia, bila badan manusia diforsir terus-menerus tanpa adanya istirahat dan perawatan yang khusus maka badan akan cepat lelah. Kalau terus-menerus hal itu terjadi maka akan rusak. Cara untuk merawat badan yaitu dengan memberikan gizi dan vitamin yang cukup agar badan tetap eksis dan awet muda. Seperti halnya bumi juga memerlukan perwatan seperti halnnya manusia agar berfungsi dengan baik.

Para ahli berpendapat “ bila lapisan ozon  menipis dan bocor maka, keadaan bumi akan panas yang panasnya menurut pandangan islam ibarat “ matahari satu jengkal tangan”. Dari pandangan islam itu sangat terkait dengan dengan pandangan para ahli. Bila lapian ozon telah hancur maka bumi akan mengalami panas yang sangat panas, karena sangat panas maka isi perut bumi mendidih akhirnya terjadilah letusan yang sangat dahsyat.  Semua isi perut bumi keluar, gunung-gunung bagaikan bulu-bulu yang berterbanngan, daratan akan tertutup oleh tumpahan isi perut bumi.

Dengan adanya letusan bumi ysng begitu dahsyat itu planet-planet dan langit akan hancur akibat getaran letusan bumi. Semua makhluk akan mati kecuali makhluk yang di kehendaki untuk hudup.

4. MAKHLUK PRASEJARAH DAN HUBUNGAN DENGAN ADAM

 

Adam adalah manusia pertama yang diciptakan oleh Allah dari tanah kemudian menjadi Lumpur hitam yang diberi petunjuk lalu menjadi tanah kering seperti tembikar dan disempurnakan bentuknya. Allah meniupkan roh ciptaannya, maka terciptalah Adam sebagaimana firman Allah. “dan ingatlah ketika tuhanmu berfirman kepada malaikat”. “ sesungguhnya Aku menciptakan manusia dari tanah liat kering yang berasal dari Lumpur hitam yang diberi bentuk, maka apabila Aku telah menyempurkan kejadiannya dan telah- Ku tiupkan kedalamnya roh ciptaan-Ku maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud” (QS. Al-hijr 28-29).

Dengan penciptaan seperti itu, manusia dibedakan dari seluruh makhluk lainnya. Meski manusia memiliki kesamaan dengan hewan dalam sebagian besar karakteristik, dorongan emosi untuk mempertahankan diri, serta kemampuan untuk memahami dan belajar. Namun ia berbeda dengan hewan dari karakteristik rohnya yang membuatnya cenderung mencari Allah dan menyembahnya.  Jadi makhluk hidup pada zaman prasejarah itu memang keturunan Adam yakni umat Nabi Musa AS. Merka membangkang terhadap perintah Allah dan Nabinya. Mereka tidak pernah mau menjalankan ibadah yang ditetapkan oleh Allah melalui Nabinya (Musa AS) dengan berbagai alasan. Meraka berdalih untuk tidak melaksanakan perintah-perintah tersebut, hingga kemudian Allah murka dan memberi azab yakni berupa kutukan (berupa kera).

Namun hal tersebut oleh para ilmuan barat diduga sebagai asal mula evolusi manusia yang di pelopori oleh Charle Darwin. Dan pendapat Darwin mengenai asal manusia yang bersal dari kera itu dibantah oleh P.P. Grasse, karena pendapat itu tidak terbukti bahwa manusia berasal dari kera. Begitu juga dalam pandangan islam sangat bertolak belakang dengan teori Darwin yang mengatakan bahwa manusia berasal dari kera.

5. TEORI SURVIVAL OF THE FITTEST

 

Charles Darwin dalam beberapa teorinya antara antara lain teori tenteng “ survival of the fittest”. Kata tersebut dalam bahas Inggris disebut frase.Darwin menggunakan frase tersebut sebagai sinonim untuk “seleksi alam “.

Ungkapan “survival of the fittest’ tidak umum digunakan oleh ahli biologi modern karena tidak dapat menyampaikan sifat kompleks seleksi alam, sehingga mereka dan hampir secara eksklusif menggunakan istilah seleksi alam.

Penafsiran frase “survival of the fittest” dalam teori Darwin berarti hanya organisme yang paling kuat akan menang. Setiap organisme yang berhasil mempertahankan diri maka hidupnya akan berlangsung.

Aplikasi “survival of the fittest” pada kehidupan masyarakat saat ini tidak begitu terpengaruh karena para ilmuan masa kini beranggapan bahwa sekalipun organisme mempunyai kemampuan bertahan hidup dan paling kuat tidak berhasil berepoduksi maka akan punahlah organisme tersebut. Dan mereka tidak menganggap “survival of the fittest” sebagai teotologi.

6. TEORI EVOLUSI DAN CYCLUS

 

a. Teori Evolusi

Perubahan budaya bila ditinjau dari teori evolusi terjadi karena adanya keinginan yang timbul dari dalam dir manusia untuk menghadapi perubahan lingkungan. Makhluk hidup berasal dari mkhluk hidup sebelumnya bila terdapat dalam dua jenis kelamin, maka akan menurunkan sifat yang kemungkinan sangat identik dari sifat-sifat induknya. Namun tidak persis sama dengan sifat induknya. Bila hal tersebut berlangsung lurus dalam perkembangan makhlul akan menghasilkan keturunan yang berbeda jauh dari induk  yang pertama. Dengan adanya perbedaan sifat-sifat tersebut otomtis sifat, karakter dan tingkah lakunya akan berubah yang akhirnya menimbulkan budaya yang berbeda pula.

Darwin dalam teorinya berpendapat organisme menjadi sesuai dengan lingkungannya dalam melalui proses evolusi dan proses ini dikendalikan oleh seleksi alam diantaranya;

1. Spesies yang hidup pada masa sekarang berasal dari spesies yang hidup pada zaman lampu.

2.  Evolusi yang terjadi melalui seleksi alam

b. Teori Syclus

Bila dikaitkan denga teori syclus yang menyatakan bahwa perubahan budaya diibaratkan sebagai roda pedati yang senantiasa berputar seiring perjalanan waktu.  kehidupan budaya kadang ada di  posisi bawah, tengah dan puncak. Kehidupan pada posisi bawah itu akan pasti akan berkembang dan menuju tingkatan menengah yang pada akhirnya menuju tinggkatan paling puncak. Setelah semua kehidupan mencapai puncak maka akan punah dan digantikan oleh generasi penerusnya.

c. Penyebab Terjadinya Buadaya

Jadi penyebab terjadinya perubahan budaya antara lain;

  1. sifat, sifat dapat mempengaruhi lingkungan dan tingkah laku baik dan buruk.
  2. pola piker yang lebih maju dari nenek monyangnya misalnya kemampuan, kemampuan dalam megembangkan alam.
  3. jumlah kepadatan penduduk.
  4. keaneka ragaman karena latar belakang keturunan mereka.

7. SIKAP SECARA ISLAMI TERHADAP PERUBAHAN BUDAYA

 

Budaya merupakan hasil tingkah laku manusia yang sudah berulang-ulang dilakukan sehingga menjadi suatu kebudayaan. Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna, diberi akal, nafsu, emosi dan lain sebagainya. Dengan diberikannya akal supaya manusia bisa berpikir, berubah dan maju dalam keilmuannya, sehingga ada hadist yang mengatakan “ mencari ilmu wajib atas semua orang mukmin” bahkan dalam Al-quran  “ bacalah dengan menyebut nama tuhanmu” artinya baca segala sesuatu yang kita lihat, yang kita rasakan dan didengar.  Jadi membaca bukan harus dengan buku melainkan dengan tanda-tanda yang bisa dibaca.

Dari penjelasan di atas maka manusia harus berubah dari kebodohan menuju kearifan, begitu pula prolaku budaya harus berubah. Kenapa?, karena manusia diciptakan bukan untuk pasif melainkan dinamis.

Dinamis bukan berubah benar ke jelek melainkan dari keburukan menuju kebenaran. Oleh karena itu budaya harus dilandasi dengan karena budaya disamping banyak manfaatnya juga banyak laknatnya. Budaya dapat menaklukkan alam dan mengancam manusia. Misalnya dari kemajuan teknologi pola pikir manusia berubah sehingga lambat-laun budaya asli akan terkikis dan menghasilkan budaya baru.

Di zaman modern ini memang bagus budanya kalau dilihat dari sisi ilmu da teknologinya. Namun alangkag buruknya kalau dilihat dari segi moralnya.

8. KEINDAHAN MERUPAKAN BUDAYA CIPTAAN MANUSIA

 

Setiap orang mempunyai kecenderungan untuk menghadirkan keindahan dalam hidupnya. Itu dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari mulai dari segi berpakain, penataan rambut, penataan interior dan eksterior rumah, tempat kerja, tempat ibadah, dan prilaku, semuanya di tata dengan keindahan.

Keindahan bagi manusia merupakan yang sangat penting, yang merujuk bahwa manusia mempunyai perasaan yang halus, lembut dan menghargai kualitas. Keindahan tidaklah lepas dari budaya manusia. Karena manusia mempunyai apresiasi tergadap seni, budaya dan kecintaan. Rasa  dan sikap batin tersebut berasal dari kemauan dan kemampuan kemauan serta menghayati keindahan.

Keindahan bersal dari kata “indah” artinya bagus, permai, cantik, benar dan  molek. Benda yang mempunyai sifat indah ialah hasil seni, meskipun tidak semua gasil seni indah. Pemandangan alam, manusia, suara dan warna adalah kawasan keindahan yang sangat luas, sesuai dengan keragaman manusia  dan sesuai pula dengan perkembangan sosial budaya. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa keindahan merupakan bagian hidup manusia dan keindahan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, di manapun dan kapanpun dapat menikmati keindahan. Para ahli mendefinisikan keindahan sebagai berikut;

  1. Al-ghazali

Keindahan suatu benda terletak dari kesempurnaanya yang dapat dikenali kembali dan sesuai dengan sifat benda itu.

  1. Zulzer, keindahan itu hanya untuk yang baik, jika belum baik tidak dapat dikatakan indah.
  2. Loe Tolstoy (rusia), keindahan sesuatu yang mendatangkan rasa senang.

Ada yang berpendapat dan memandang nilai keindahan (estetika) menjadi dua pandangan yaitu keindahan arti secara luas dan secara sempit.

Pengertian secara luas meliputi;

  1. keindahan seni
  2. keindahan alam
  3. keindahan moral
  4. keindahan intelektual

Keindahan dalam arti terbatas

  1. hal-hal yang menyangakut benda-benda yang dapat diserap oleh penglihatan, yakni beruapa bentuk dan warna

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Jasin, Maskoiri,  Ilmi Alamiah Dasar, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2008

Mawardi, Nurhayati, IAD-ISD-IBD, Cetakan ke-VI, CV Pustaka Setia, Bandung, 2009

Mawardi, Nurhidayati, IAD-ISD-IBD, Cetakan ke III, CV Pustaka Setia, 2004

Ms, Wahyu, Wawasan Ilmu sosial Dasar,  Usaha Nasional,Surabaya, 1986

Mustofa, Ahmad, Ilmu Budaya Dasar, untuk IAIN, STAIN,PTAIS Semua fakultas dan Jurusan, Komponen MKU, Cetakan ke-II, CV Pustaka Setia, Jakarta,

Tinggalkan komentar »

VISI MISI DAN PROGRAM DEWAN DAKWAH ISLAMIYAH INDONESIA

VISI

Dewan Da`wah mempunyai maksud dan tujuan di bidang sosial, kemanusiaan dan keagamaan, yakni terwujudnya tatanan kehidupan yang islami, dengan menghubungkan dan memajukan kualitas  da’wah di Indonesiaberasaskan Islam, taqwa dan keridlaan Allah Ta’ala. Atas dasar tujuan tersebut, dengan memperhatikan berbagai perkembangan yang ada, disusunlah visi Dewan Da’wah sebagai berikut: Dewan Da’wah ingin menjadi lembaga الى الله   الدعوة  yang kaffah dan berkualitas dalam semangat amal jama’i untuk kemaslahatan ummat yang berfungsi sebagai: pengawal aqiedah, penegak syari’ah, penjalin ukhuwah, pendukung keutuhan NKRI, dan pendukung terwujudnya solidaritas umat baik secara regional, nasional maupun internasional.

  MISI

Berdasarkan visi di atas disusun 10 Misi Dewan Da’wah, yaitu:

a)      Menanamkan aqidah shahihah;

b)     Menyebarkan pemikiran Islam yang bersumber dari Al Qur-an dan As-Sunnah dalam rangka mewujud-kan tatanan masyarakat yang islamy;

c)      Membendung pemurtadan, ghazwul fikri dan harakah haddamah dengan berbagai cara dan pendekatan;

d)     Menyiapkan du’aat untuk berbagai tingkatan sosial kemasyarakatan, termasuk di daerah tertinggal dan daerah perbatasan;

e)      Menyediakan dan meningkatkan sarana untuk peningkatan kualitas da’wah;

f)       Menghidupkan dan menggairahkan kelesuan da’wah di berbagai kegiatan da’wah serta mendorong lahirnya lembaga-lembaga da’wah dalam rangka membangun kekuatan da’wah;

g)      Mengkaji dan mendorong lahirnya ide-ide kreatif melalui penelitian dan pengkajian ilmiah, yang didukung dengan berbagai penerbitan yang berkualitas untuk mendorong peningkatan kualitas da’wah;

 PROGRAM

Untuk mencapai tujuan dan misi di atas, Dewan Da`wah merancang serangkaian program yang dioperasionalkan melalui berbagai instrumen-instrumen strategis kelembagaan, baik berbentuk bidang-bidang operasional, biro-biro, kelompok kerja, maupun badan-badan khusus yang terkoordinasi dalam satu struktur organisasi Dewan Da’wah. Instrumen-instrumen dimaksud adalah:

Bidang Organisasi dan Administrasi, yang bertugas merancang, menata, membina dan menyelenggarakan model dan sistem organisasi Dewan Da’wah yang sesuai dengan tuntutan, kebutuhan dan perkembangan zaman guna mewujudkan Dewan Da’wah sebagai organisasi da’wah yang profesional, produktif kreatif, dan antisipatif. Termasuk melakukan pembinaan organisasi Dewan Da’wah di tingkat propinsi dan kabupaten/Kota.

 Bidang Pemberdayaan Wilayah/ Daerah dan Kerjasama Dalam Negeri, bertugas merancang, menata, membina dan menyelenggarakan kegiatan yang berkaitan dengan pemberdayaan Dewan Da’wah propinsi dan kabupaten/kota, terutama dari aspek organisasi dan program secara umum. Termasuk merancang, menata, membina dan menciptakan networking Dewan Da’wah dengan organisasi lain terutama dalam upaya memberdayakan potensi-potensi organisasi Dewan Da’wah.

 Bidang Da’wah dan Diklat, merancang, menata, membina dan menyelenggarakan kegiatan da’wah, pelatihan dan berbagai kursus bagi upaya pengembangan SDM da’wah yang berkualitas. Termasuk memberikan bimbingan dan pendidikan agama untuk masyarakat, bekerja sama dengan pusat-pusat pembinaan Rohani Islam (rohis) di berbagai kantor/ lembaga, baik pemerintah maupum swasta, masjid-masjid serta majlis taklim dan melakukan penempatan da`i diberbagai daerah terpencil, daerah perbatasan dan daerah transmigrasi, termasuk mengupayakan pemberian mukafaah dan kesejahteraannya. 

menyelenggarakan pemberdayaan seluruh aset yang menjadi milik Dewan Da’wah, baik yang berasal dari hibah maupun hasil membeli sendiri, sehingga  menjadi aset yang produktif dan berdayaguna serta dapat mendukung kegiatan Dewan Da’wah, baik yang dibangun sendiri maupun yang dibangun oleh pihak lain yang pengelolaanya diserahkan kepada Dewan Da’wah.

 Bidang Muslimat, merancang, menata, membina dan menyelenggarakan kegiatan Muslimat,  termasuk merancang dan melaksanakan model dan sistem organisasi Muslimat Dewan Da’wah yang sesuai dengan tuntutan, kebutuhan dan perkembangan zaman, terutama berkaitan dengan isyu gender yang dikembangkan oleh kalangan liberal dan sekuler. Selain kedelapan instrumen di atas, Dewan Da’wah juga memiliki instrumen pendukung, baik yang bersifat ilmiah, pendidikan, sosial maupun bisnis. Instrumen-instrumen dimaksud antara lain:

 Ø      Instrumen yang bersifat pendidikan, antara lain:

 Universitas Islam Mohammad Natsir (UNIM). Dalam upaya kaderisasi, Dewan Da’wah telah mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah Mohammad Natsir dengan kampus utama di Gedung Menara Da’wah, Kramat Raya 45 Sekolah Tinggi ini merupakan kelanjutan dari Lembaga Pendidikan Da`wah Islam (LPDI) yang telah berdiri sejak tahun 80-an namun masih terbatas pada program Diploma, kini  telah ditingkatkan menjadi program Strata1. Sekolah ini juga merupakan cikal bakal untuk berdirinya Universitas Muhammad Natsir yang sedang dalam persiapan pendirian.

 Pusdiklat Dewan Da’wah. Selain Universitas Islam Mohammad Natsir, Dewan Da’wah juga mendirikan Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Dewan Da’wah, yang berlokasi di Tambun, Bekasi, Jawa Barat danMuslimatCenter yang berlokasi di Ciayung, Jakarta Timur.

 Ø      Instrumen yang bersifat sosial, antara lain:

 Komite Penanggulangan Krisis (KOMPAK) dengan berbagai program kegiatan sosial dan kemanusiaan untuk membantu masyarakat yang mengalami musibah (seperti bencana alam) dan daerah-daerah minus, antara lain melalui pemberian sembako, penyaluran zakat, fitrah dan hewan korban, pembiayaan anak sekolah, penyaluran bantuan secara insidentil kepada fuqara dan masakin. Di samping itu, KOMPAK juga telah memberi bantuan kepada para korban konflik dan kekerasan di Ambon, Maluku Utara, Poso, Timor Timur, Ketapang, Kalimantan Barat dan Aceh. KOMPAK Dewan Da`wah juga telah mengirim bantuan untuk korban bencana alam di Bengkulu, Jawa Barat, Aceh, Sulawesi Selatan, Lampung, Banten dan DKI. Melalui KOMPAK. Sebagai wujud solidaritas ummat, KOMPAK telah mengirim delegasi dan bantuan kemanusiaan ke Palestina dan Afganistan.

 Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah (LAZIZ) Dewan Da’wah, telah disahkan oleh Menteri Agama RI untuk menerima dan menyalurkan zakat, infaq, shadaqah, hibah dan wakaf sebagai salah satu Badan Amal Dewan Da’wah yang bertugas menjembatani antara aghniya dengan fuqara dan masakin, sesuai dengan UU no. 38 tahun 1999 tentang  zakat. Dalam pelaksanaannya LAZIZ dilengkapi dengan berbagai program kegiatan sosial dan kemanusiaan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.

 Ø      Instrumen yang bersifat bisnis.

 Untuk mendukung kegiatan da’wah di bidang pembiayaan, Dewan Da’wah mendirikan beberapa perusahaan, antara lain: penerbit dan toko buku Media Da`wah, percetakan Abadi, rumah makan, dan layanan Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah Dewan Da`wah (sejak 1998 dan mendapat sertifikat penghargaan DepartemenAgamaRI). Kemudian, pada tahun 2000 Dewan Da`wah yang disponsori oleh seorang dermawan, juga mendirikan Biro Perjalanan Wisata PT Hudaya Safari. Perusahaan ini, selain melayani perjalanan wisata dan tiketing,  juga melaksanakan pelayanan khusus ONH Plus. Biro perjalanan wisata ini sudah mendapat izin resmi dari MenteriAgamaRI. Disamping untuk da`wah, PT Hudaya Safari juga merupakan salah satu penunjang pendanaan bagi Dewan Da’wah, seperti halnya partisipasi modal Dewan Da`wah dalam beberapa usaha lainnya.  

i)        Mengembangkan jaringan kerjasama (networking) da’wah dan pengembangan ekonomi syariah serta koordinasi ke arah realisasi amal jama’i dan menyukseskan program da’wah di berbagai bidang kehidupan;

j)       Meningkatkan ukhuwah, persatuan dan kesatuan ummat dalam rangka mendukung keutuhan NKRI, dan terwujudnya solidaritas ummat Internasional dalam rangka turut serta mendukung perdamaian dunia;k)     Mengolah segala sumber dana da’wah dengan pemahaman investasi dan usaha-usaha ekonomi penunjang da’wah, serta menggerakkan partisipasi para aghniya secara halal, sah dan tidak mengikat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Nderson , D.W., Vault, V.D. & Dickson, C.E. 1999. Problems and Prospects for the Decades Ahead: Competency Based Teacher Education .Berkeley: McCutchan Publishing Co.

Saukah, A. & Waseso, M.G. (Eds.). 2002. Menulis Artikel untuk Jurnal Ilmiah (Edisi ke-4, cetakan ke-1).Malang: UM Press.

Russel, T. 1998. An Alternative Conception: Representing Representation. Dalam P.J. Black & A. Lucas (Eds.), Children’s Informal Ideas in Science (hlm. 62-84).London: Routledge.

Kansil, C.L. 2002. Orientasi Baru Penyelenggaraan Pendidikan Program Profesional dalam Memenuhi Kebutuhan Dunia Industri. Transpor , XX (4): 57-61.


Tinggalkan komentar »

DIMENSI KEBUDAYAAN DALAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA

DIMENSI  KEBUDAYAAN DALAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA

Oleh : M. ABD HOBIR SOLEH

(Mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya)

 

Abstrak

 Melihat lebih dalam tentang posisi Indonesia saat ini, tentu sudah menjadi suatu pengetahuan yang umum, bahwa Indonesia sedang berada dalam proses menuju era yang dipandang sangat penting dalam sejarah kebudayaan bangsa, karena pada era inilah diharapkan Indonesia dapat mengejar ketinggalannya terhadap negara lain seperti malaysia, Cina dan lainnya sehingga Indonesia berderajat sama dan berdampingan dengan negara maju lainnya. Era Industri dipandang sebagai era strategis untuk memacu bangsa dalam mencapai cita-cita kemerdekaan dalam segala hal. Namun, cita-cita tersebut tidaklah berjalan mulus, berbagai batu dan krikil masih berserakan menjadi penghalang di jalan-jalan.

Sejumlah pakar telah menunjukkan bahwa terdapat berbagai hal yang patut diperhatikan dalam menyiapkan diri menyambut era Industri tersebut, baik dari sisi kualitas masyrakat (SDM), SDA, ekonomi, keterampilan,kebudayaan, kesadaran akan berbangsa dan bernegara, dan sebagainya. Hal-hal tersebut sangatlah berpengaruh dalam upaya mencapai bangsa dan negara sebelum menginjakkan kaki menuju era indutri.

 

  • Key word : Era Indutri, Strategis, Kualitas Masyrakat, Kebudayaan.

 

 

PENDAHULUAN

 

   Sejak Indonesia berada di tangan pemerintahan orde baru, Indonesia terjadi berbagai perubahan dalam kehidupan masyarakatnya. Program yang dilaksanakan oleh pemerintah orde baru telah berhasil meningkatkan taraf hidup masyarakat, meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa mereka yang belum sempat mencicipi hasil pembangunan tersebut masih banyak.

Penghasilan negara yang melimpah dari cucuran sektor minyak dan gas bumi pada tahun 1970-an telah membawa berkah pula pada masyrakat khususnya penduduk pedesaan. Jerih payah upaya pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah orde baru telah menghasilkan buah yang cukup manis. Kesejahteraan masyarakat menunjukkan peningkatan yang mengesankan, hal itu tercermin dari semakin membaiknya tingkat pendidikan, kesehatan, dan pendapatan per-kapita masyarakat[1].

Untuk memacu kehidupan bangsa yang lebih baik, kebijakan pembangunan Indonesia lebih diarahkan pada pengembangan kegiatan indutri, guna menyambut pasar terbuka yang merupakan bagian dari proses globalisasi. Jika strategi pembangunan yang telah dirancang pemerintah itu berjlan lancar dan mulus, diperkirakan pada waktu yang tidak lama lagi masyarakat Indonesia akan segera memasuki era indutrialisasi. Artinya, kehidupan masyarakat yang semula lebih banyak yang tertumpu pada pertanian tradisional akan segera beralih pada kegiatan industri atau bertani dengan cara yang lebih modern. Kalaupun nanti petani Indonesia tetapa saja melakukan aktivitas perekonomian di sektor pertanian, tetapi orientasi kegiatan mereka tidak beralih akan tetapi lebih maju, yang semula hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan semata melangkah pada orientasi pasar.

Seiring dengan itu, kegiatan masyarakat pun akan turut berubah. Jika semula porsi terbesar kehidupan masyrakat lebih banyak tertumpu pada kegiatan pertanian, pada masyarakat indutrial, porsi itu jauh akan berkurang, masyrakat akan lebih banyak terlibat dalam kativitas ekonomi pasar yang terbawa langsung oleh semakin maraknya aktivitas industri.

Teknologi informasi serba canggih yang telah menusuk detak jantung kehidupan bangsa Indonesia, telah membawa berbagai perubahan dalam aspek kehidupan masyarakat. Masyarakat semakin lebih terbuka dengan dunia luar dan  segala informasi mudah diakses. Berkat kemajuan teknologi informasi itu segala bentuk kehidupan di luar lebih mudah diketahui oleh masyarakat.  Arah kehidupan yang demikian itu dengan sendirinya juga turut mengubah sistem nilai budaya  masyarakat Indonesia, baik dari segi positif dan negatifnya. Gagasan-gasan baru yang muncul sebagai dampak dari kemajuan teknologi informasi telah mempengaruhi sistem gagasan masyarakat, sehingga turut mengubah wajah kehidupan bangsa.

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

 

            Sebelum mengemukakan lebih jauh masalah ini, penting kiranya kita memahami tentang hakikat kebudayaan. Kebudayaan harus dipahami sebagai suatu sistem pengetahuan, gagasan, dan ide yang dimiliki oleh suatu kelompok masyrakat yang berfungsi sebagai lndasan pijak dan pedoman bagi masyarakat itu dalam bersikap dan berprilaku dalam lingkungan alam dan sosial di tempat mereka berada[2].

            Sebagai suatu sistem pengetahuan dan gagasan, kebudayaan yang dimiliki suatu masyarakat merupakan kekuatan yang tidak tampak (invisible power), yang mampu menggiring dan mengarahkan manusia pendukung kebudayaan itu bersikap dan berprilaku sesuai dengan pengetahuan dan gagasan yang menjadi  masyarakat tersebut, baik di bidang ekonomi, sosial, politik, kesenian, kesehatan dan sebagainya. Oleh karena itu, kebudayaan bukan hanya terbatas pada kegiatan kesenian, peninggalan sejarah atau upacara-upacara tradisional seperti yang diphami oleh banyak kalangan.

            Sebagai pedoman bagi manusia dalam bersikap dan berprilaku, maka pada dasarnya kebudayaan mempunyai kekuatan untuk memaksa manusia pendukungnya itu, untuk mematuhi segala pola aturan yang telah digariskan oleh kebudayaan. Namun demikian, perlu dibedakan dengan tegas bahwa sistem pengetahuan dan gagasan yang tidak mampu menjadi pengarah dan pedoman bagi sikap dan tingkah laku manusia tidak dapat disebut sebagai kebudayaan. Hal itu hanya dapat dikategorikan  sebagai “pengetahuan” saja. Mereka yang memiliki pengetahuan dan gagasan tentang disiplin dan keadaan sosial misalnya, tetapi tidak menjadikan pengetahuan dan gagasan itu sebagai landasan dan sikap serta perilaku mereka, maka pengetahuan dan gagasan tersebut tidak dapat dikatakan sebagai kebudayaan, itu hanya terbatas pada “pengetahuan” dalam arti khusus saja. Oleh  karena itu, untuk mengetahui apakah suatu pengetahuan atau gagasan sudah menjadi kebudayaan suatu masyrakat, dapat dilihat dari sikap dan perilaku masyrakat itu sendiri dalam kehidupan mereka sehari-hari.

            Sebagai suatu sistem, kebudayan tidak diperoleh manusia begitu saja secara ascribed, tetapi melalui proses belajar yang berlangsung tanpa henti, sejak manusia dilahirkan sampai meninggal. Proses kebudayaan bukan hanya dalam bentuk internalisasi dari sistem “pengetahuan” yang diperoleh manusia melalui pewarisan keluarga, lewat pendidikan formal di sekolah atau pendidikan formal lainnya, tetapi juga diperoleh melalui proses belajar dari berinteraksi dengan lingkungan alam sekitarnya.

            Secara umum, kebudayaan mungkin sangat berpengaruh dalam pengembangan masyarakat kita namun, barang kali penting untuk dipahami bahwa kebudayaan sering dijadikan sebagai pedoman yang sangat makro danabstrak. Walaupun menggunakan kerangka sistem nilai yang sama, dalam praktik kehidupan, sering manusia yang menjadi pendukung kebudayaan itu bertingkah laku berbeda. Hal ini disebabkan karena kerangka tata nilai yang seharusnya digunakan untuk hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan bersama, kemudian dimanipulasi untuk kepentingan kelompok atau pribadi. Antropologisme interpretasi kebudayaan itulah yang sering mengganggu dan menghambat tercapainya pembangunan suatu bangsa dan negara.

            Salah satu dimensi budaya yang menarik dari kehidupan masyarakat Indonesia adalah budaya gotong royong. Azas ini menjadi landasan kehidupan politik, ekonomi, dan sosial bangsa Indonesia. Namun, dalam praktik kehidupan  sering kali nilai “gotong royong” itu digunakan hanya untuk kepentingan kelompok sendiri, maka nilai itu akan mengarah pada praktik nipotisme.

            Barang kali persoalan di atas juga perlu kita pahami lebih mendalam dalam kaitannya dengan perkembangan masyarakata Indonesia seperti yang kita ketahui sejak pemerintahan orde baru berkuasa telah terjadi perubahan dalam perkembangan masyarakat kita. Pada akhir 1980-an, panen minyak dan gas bumi mulai mengalami penurunan. Karena itulah Issue De Sentralisasi dan Otonomisasi dimulai, dan di hembuskan ke setiap daerah dengan harapkan  setiap daerah mulai berpikir dan berbenah diri untuk membiayai pembangunan dari hasil daerahnya sendiri.

            Tetapi berbagai pihak mengatakan bahwa sisitem desentralisasi yang dilaksanakan dengan memperkenalkan konsep otonomi daerah pada era reformasi ini tidak mudah untuk dilaksanakan karena berbagai sebab menyertainya. Antar lain karena terdapat gejala yang menunjukkan bahwa masyarakat sudah terbiasa dan mulai merasa keenakan dengan berbagai subsidi pembangunan yang selama ini mereka terima. Suntikan dana dari pemerintah selama ini rupanya telah mengubah mental masyarakat, umumnya mereka menilai bahwa semua program pembangunan dan pemeliharaan pembangunan itu adalah menjadi tanggung jawab pemerintah saja, bukan masyarakata.

            Tak pelak lagi, penilain seperti di atas akan dan sering terjadi kesalah pahaman dalam masyarakat dan bahkan mereka cendrung pasrah terhadap kebijakan-kebijakan penguasa, dan akhirnya hal itu akhirnya hal itu membawa dampak kemacetan terhadap proses pengembangan masyarakat Indonesia. Demikian pula upaya untuk menerapkan nilai-nilai universal tanpa memperhatikan konteks perkembangan sosial yang ada, termasuk di dalamnya formasi sosial yang terjadi dala masyarakat dan konstelasi kultural yang ada akan gagal[3].

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENUTUP

 

Kesimpulan

            Sebagaimana dikemukakan di atas bahwa kebudyaan sebagai sistem pengetahuan, gagasan, ide yang dimiliki oleh suatu kelompok dan inidividu yang berfungsi sebagai pengaruh bagi mereka yang menjadi warga kelompok itu dalam bersikap dan bertingkah laku. Karena berfungsi sebagai pedoman dalam bersikap dan bertingkah laku, maka pada dasarnya kebudayaan mempunyai kekuatan untuk memaksa pendukungnya untuk mematuhi segala pola yang digariskan oleh kebudayaan itu.

            Kebudayaan juga merupak fondasi penting dalam membangun masyarakat agar menjadi masyarakat yang maju. Indonesia sebagai suatu negara yang berkembang sedang mengalami suatuu proses untuk menuju sebuah proses indutrialisasi yang mencakup sebagai berikut;

  1. Masyarakat Indonesia mulai berproses untuk menuju sebuah kemajuan baik dalam indutri, komunikasi, dan sektor lainnya.
  2. Era industri dipandang sebagai era strategis untuk memacu bangsa dan negara Indonesia dalam mencapai cita-cita menjadi bangsa yang maju.
  3. Umtuk memacu kehidupan yang lebih baik, kebijakan pemerintah dalam pembangunan baik dari segi ekonomi, pendidikak, sosial, budaya, keterampilan dan kesehatan serta industri harus lebih mapan lagi. Selain itu kebijakan pembangunan industri guna menyambut pasar terbuka yang merupakan bagian dari proses globalisasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

–          Abdur Rahman, Moeslim.1996. Islam Kritik Sosial. Jakarta:Erlangga

–          Hikam, Muhammad. 2000. Islam Demokratisasi dan Pemberdayaan Civil Society. Jakarta:Erlangga

–          Sairin, Sjafri. 2002. Perubahan Sosial Masyrakat Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

–          Zainuddin, Rahman. 1986. Identitas Islam Pada Perubahan Sosial-Politik. Jakarta:Bulan Bintang


[1]  Anne Booth. The Indonesian Economy During Soeharto Era. Kuala lumpur: oxford university press.1981.58

[2] James Spadley. Foundation of cultural knowledge. Sanfransisco: Chander Publishing Copany. 1972.26

[3] Ralf Dahrendrof.Moral, Revolution and Cvil Society. London: MacMillan Co., 1997.23

Tinggalkan komentar »

KONSEP MANUSIA DAN MAYARAKAT

  1. A.   ISTILAH MANUSIA DAN MASYARAKAT

 

  1. INSAN

خلق الانسان من علق, اقرأ وربك الاكرم  (العلق 2-3)

Artinya: Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu-lah yang Maha Mulia.

Kata (الإنسان) pada surat Al-Alaq ayat 3-2 di atas artinya manusia  yang diambil dari kata (أنس) uns yang artinya senang, jinak dan harmonis, atau ( نسي) nis-y yang artinya lupa[1]. dan ada juga yang berpendapat berasal dari kata (نوس) naus yang berarti gerak  atau dinamika. Dari penjelasan di atas para ulama’ tafsir  memberikan gambaran tentang potensi manusia bahwa ia mempunyai sifat lupa, kemampuan bergerak, melahirkan rasa senag, harmonis.

Di dalam Tafsir Al-Misbah  Kata الانسان di atas menunjukkan semua manusia yang diciptakan dari alaq (علق) yaitu, segumpal darah[2] atau sesuatu yang bergantung di dinding rahim. Ada juga ulama’  khususnya Quraish Shihab mengatakan bahwa (علق) adalah sifat manusia sebagaia makhluk social yang tidak dapat hidup  sendiri dan selalu bergantung kepada yang lain[3].

ولقد خلقناالانسان من صلصال من حماء مسنون, والجان خلقنه من قبل من نار السموم ( الحجر 26-27)

Artinya: Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk, dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.

Sedangkan pada Q.S Al-Hjr 26-27 di atas, kata (الإنسان) menunjukkan pada manusia yang diciptakan dari  dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk, yaitu Nabi Adam. Kata (صلصال) berarti tanah yang sangat keras dan kering, kata (حماء) tanah yang bercampur air lagi bau, sedangkan kata (مسنون) berarti dituangkan sehingga siap dan mudah dibentuk dengan berbagai bentuk yang di kehendaki.  Kata (الجان) terambil dari kata (جنن) yang berati tertutup, sedangkan menurut ulama’ tafsir adalah sekelompok makhluk yang dinamai jin sebagaimana Adam AS. dan kata (السموم) Api yang tampa Asap.

  1. INS

قال ادخلوا في امم قد خلت من قبلكم من الجن والانس في النار كلما دخلت امة لعنت اختها حتى اذا داركوا فيها جميعا قلت اخرهم لاولهم ربنا هؤلاء اضلونا فاءتهم عذابا ضعفا من النار قال لكل ضعف ولكن لاتعلمون (الأعرف  38)

Artinya: Allah berfirman, “masuklah kamu ke dalam api neraka bersama golongan jin dan manusia yang telah lebih dahulu dari pada kamu. Setiap kali suatu umat masuk, dia melaknat sadaranya, sehingga apabila mereka telah masuk semuanya, berkatalah orang yang (masuk) belakangan (kepada) orang yang masuk terlebih (dahulu), “ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami. Datangkanlah siksaan api neraka yang berlipat ganda kepada mereka.” Allah berfirman, “masing-masing mendapatkan (siksaan) yang berlipat ganda, tapi kamu tidak mengetahui.

Ayat sebelumnya yaitu Al-A’raf  37 menjelaskan orang-orang yang  berlaku yang sangat aniaya itu mengakui kesalahannya, dan ayat di atas menjelaskan apa-apa yang terjadi setelah pengakuannya tersebut yang tidak bermanfaat karena telah mendustakan ayat-ayat Allah dan berbuat zhalim[4].

Kata قال adalah Firman Allah kepada para pendurhaka, kalimat من قبلكم من الجن والانس yang artinya, bersama golongan jin dan manusia yang telah lebih dahulu dari pada kamu, menjelaskan tentang jin dan manusia yang durhaka dan membawa kesesatan terhadap kaum setelahnya.

قل لئن اجتمعت الانس والجن على ان يأتوا بمثل هذا القرأن لايأتون بمثله ولو كان بعضهم لبعض ظهيرا (الاسراء88)

Artinya: katanlah, “sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat ysng serupa (dengan) Al-quran ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipu mereka saling membantu satu sama lain.”

Ayat ini merupakan tantangan terhadap kaum musyrikin Arab yang tidak percaya pada ayat-ayat Allah SWT. dan  para penantangnya, bahwa mereka tidak akan pernah bias membuat semisal Al-qur’an meskipun semua manusia dan jin waktu itu dikumpulkan dan saling mebantu untuk membuatnya. Kata (الانس) meredaksikan masyarakat arab yang mendustakan Nabi Muhammad dan ayat-ayat Allah waktu itu[5] .

  1. UNAS

وما كا جواب قومه الا ان قلوااخرجوهم من قريتكم انهم اناس يتطهرون (الأعرف 82)

Artinya: Dan jawaban kaumnya tidak lain hanya berkata, ‘ Usirlah mereka (Luth dan pengikutnya) dari negerimu ini, mereka adalah orang yang menganggap dirinya suci.”

Ayat di atas menjelaskan tentang bagaimana Nabi Luth dan dan pengikutnya diusir dari oleh kaumnya lantaran Nabi Luth di anggap sok suci menasehati kaumnya pada waktu itu yang durhaka dan homoseksual. Dari terbiasanya kaum Luth melakukan homoseksual  dan keburukan menilai suatu kebaikan sebagai suatu yang buruk dan menganggap keburukan suatu yang baik.

Ayat di atas menjelaskan tentang bagaimana Nabi Luth dan dan pengikutnya diusir dari oleh kaumnya lantaran Nabi Luth di anggap sok suci menasehati kaumnya pada waktu itu yang durhaka dan homoseksual.  Jadi kata Unas itu menunjukkan nabi Luth dan pengikutnya, dimana kata tersebut diucapkan oleh kaumnya Luth.

زين للناس حب الشهوات من النساء والبنين والقنطير المقنطرة من الذهب والفضة والخيل المسومة والأنعم والحرث ذلك متع الحيوت الدنيا والله عنده حسن المأب (العمران 14) 

Artinya: Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perenpuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam batu emas dan perak, kuda pilihan hewan ternak[6] dan sawah ladang. Itulah kesenangan  hidup di dunia, dan di sisi Allah tempat kembali yang baik.

Ayat ini merupakan kabar gembira yang kepada orang-orang yang takwa kepada Allah SWT. dimana menggabarkan ada dua dimensi kesenagan, yaitu kesenangan dunia dan akhirat, tetapi kesenangan akhirat lebih jauh indah daripada kesenangan duniawi. Yang mana kesenangan ukhrawi hanya diperoleh oleh orang-orang yang bertakwa dan senantiasa taat kepada Allah serta mengingat-Nya dalam hatinya, menafkahkan sebagian rizkinya.  Selanjutnya, ayat di atas juga mengandung nasehat agar manusia masih tetap berada dalam keridhaanya karena masih ada kesenangan yang lebih baik dari kesenangan duniawi.

(الناس) menunjukkan pada setiap manusia. Manusia diberi kesenangan, dan keindahan terhadap apa-apa yang mereka inginkan. Sebagaimana kalimat (زين للناس ) yang bergaris bawah adalah fi’il madi yang berbentuk majhul (pasif), yang berati dijadikan indah bagi manusia, hal ini mengisyaratkan  bahwa insting manusia mengandung dorongan-dorongan merasa senang dan indah terhadap yang mereka sukai[7].

  1. Al-basyar

لواحة للبشر (المذثر 29)

Artinya: yang menghanguskan kulit manusia.

Kata (لواحة) mempunyai tiga arti yaitu,  tampak (terlihat), haus dan mengubah (menghitamkan) wajah. Kata (البشر) bentuk jamak dari kata (بشرة) yang berarti kulit atau manusia dari segi fisik atau biologis. Manusia dinamai basyar karena kulitnya tampak jelas, berbeda dengan binatang yang kulitnya tertutupi oleh bulu dan rambut[8].

Selanjutnya mengenai perbedaan arti tersebut, ulama ada yang memahami neraka saqor  tampak dari tempat yang sangat jauh. Ada juga ulama’ memahami neraka haus terhadap mangsanya yang mengahauskan mereka, dan mengubah, menghitamkan, dan menghanguskan kulit.

ومن ايته ان خلقكم من تراب ثم اذا انتم بشر تنتشرون(الروم 20 )

 Arinya:  dan diantara tanda-tanda (kebesaran-Nya) ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.

Kata (من تراب) menunjukkan asal penciptaannya dari tanah, kata (ثم) mengisyaratkan  tentang sekian banyak proses sejak asal-usul dari tanah hingga kemampuannya berkembang biak. Kata  (بشر) di gunakan Al-qur’an untuk menunjuk manusia secara umum, yang semuanya mempunyai kesamaan dalam potensi kemanusiaan, tampa mempertimbangkan perbedaan-perbedaan dalam sifat individu atau tingkat pikiran dan emosi masing-masing.  Kata ini menunjukkan pencapain masa kedewasaan dan kemampuan berhubungan seks.

Ar-Razi dalam tafsirnya, mengesankan manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi mengetahui, manusia menjadi manusia bukan karena geraknya, sebab binatang pun bergerak, binatang tidak memiliki pengetahuan. Sedangkan kata (تنتشرون) sebagian besar ulama’ memahami suatu potensi bergerak, bergerak dan potensi pengetahuan merupakan suatu yang jauh dari sifat tanah. Hal itu merupakan suatu yang menakjubkan dari Ciptaan Allah.

واذ قال ربك للملئكة اني خالق بشرا من صلصال من حماء مسنون. فاذا سويته ونفخت فيه من روحي فقعواله سجدين  (الحجر 28-29)

Artinya: dan (ingatlah) ketika Tuhan-Mu Berfirma kepada malaikat, “Sungguh Aku akan meciptaka seorang manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)-nya, dan Aku telah meniupkan Roh (ciptaan)-ku ke dalamnya, maka tundukkanlah kamu kepadanya dengan bersujud[9].

Ayat ini menunjukkan betapa mulia makhluk yang bernama manusia hingga Allah mementahkan malaikat bersujud memberi penghormatan padanya kecualai Iblis.

Kata (بشرا) ayat di atas sama redaksinya sama dengan Ar-rum 20, hanya yang dimaksudkan di sini bukan manusia secara umum tetapi yang dimaksudkan adalah Adam as., apa apabila dikaitkan dengan ayat sebelumnya yaitu Ar-Rum 20 sama redaksinya menunjukkan terhadap potensi-potensi yang mereka miliki.

قل انما انا بشر مثلكم يوحى الي انما الهكم اله واحد فمن كان يرجوا لقاء ربه فليعمل عملا صالحا ولايشرك بعيبادة ربه احدا ( الكهف 110)

Artinya: katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa seseungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maham Esa. Maka barang siapa berharap pertemuan dengan Tuhan-nya maka hendaklah di mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatun dalam beribadah kepada Tuhan-nya.”

Kata (بشر) ini adalah Nabi Muhammad saw. (بشر) digunakan untuk menunjukkan manusia dalam kedudukannya sebagai mahkluk yang mempunyai kesamaan dengan sesama manusianya. Nabi Muhammad saw. adalah  basyar sama dengan yang lain Beliau memiliki panca indra, kebutuhan fa’al psikologis, lapar, dahaga, rasa cinta, senang, butuh tidur dll. Perbedaan beliau dengan manusia lainnya adalah karena Beliau sebagai Nabi dan Rasul yang mendapat wahyu Ilahi, keistimewaan budi pekerti dan kesucian Beliau. Begitulah makna dari kata basyar.

  1. BANI ADAM

يا بني ءادم لايفتننكم الشيطان كما أخرج أبويكم من الجنة ينزع عنهما لباسهما ليريهما سواتهما إنه يراكم هو وقبيله من حيث لاترونهم إنا جعلنا الشياطين أولياء للذين لايؤمنون (الأعرف 27)

Artinya: Wahai anak cucu adam! Janganlah sampai kamu tertipu oleh setan sebagaimana halnya dia (setan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari surga, dengan menaggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya. Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin bagi orang yang tidak beriman.

Ayat ini merupakan peringatan Allah terhadap anak cucu Adam agar mereka tidak  tertipu sebagaimana Bapak Ibu mereka yaitu Nabi Adam selain merupakan pelajaran bagi anak cucu Adam agar senatiasa hati-hati.  Sebagaimana objek ayat ini adalah kalimat (يا بني ءادم) yang berarti wahai anak-anak Adam, maksudnya semua manusia tanpa kecuali hingga akhir masa baik yang sudah lahir atau yang mau lahir[10].

  1. Dzurriyah Adam

أولئك الذين أنعم الله عليهم من النبيين من ذرية ءادم وممن حملنا مع نوح ومن ذرية إبرهيم وإسرئيل وممن هدينا واجتبينا إذا تتلى عليهم ءايات الرحمن خروا سجدا وبكيا (مريم 58)   

Artinya: mereka itulah orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu dari (golongan) para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang yang Kami bawa (dalam kapal) bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Ismail (Ya’qub) dan daro orangyang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pengasih kepada mereka, maka mereka tunduk sujud dan menangis.

Ayat ini membicarakan tentang golongan yang di beri nikmat oleh Allah yaitu golongan para nabi sebagaimana surat di atas dan orang-orang yang ditunjuk selain para Nabi seperti Maryam.

Kalimat (ذرية ءادم ) berarti keturuna Nabi Adam, yaitu meliputi nabi Idris, keturunan nabi Nuh yakni Ibrahim as, keturunan Nabi Ibrahim as yakni Ismail, Ishaq, dan ya’qub, dari keturunan Isra’il yakni Ya’qub as, seperti Musa, Harun Zakariyya, Yahya dan Isa as. Dan diantara orang-orang yang terpilih untuk melaksanakan tugas suci selain para nabi seperti Maryam dan lainnya yang tidak terhitung jumlahnya.

  1. B.   ISTILAH ISTILAH MSYARAKAT DALAM AQ-QURAN

 

  1. KAUM

    والى مدين اخاهم شعيبا قال يقوم ا عبدوا الله مالكم من اله غيره ولاتنقصوا المكيال والميزان اني اركم بخير واني اخاف عليكم عذاب يوم محييط. ويقوم اوفوا المكيال والميزان باالقسط ولاتبخسوا الناس اشياءهم ولاتعثوا في الارض مفسدين   

Kisah Nabi Syu’aib a.s.

Artinya: 84. Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat).”  85. Dan Syu’aib berkata: “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.

  1. UMMAH

)Ali-IMRAN 104 ولتكم منكم أمة يدعون إلى الخير ويأمرون باالمعروف وينهون عن المنكر وأولئك هم المفلحون (

Artinya: 104. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar[11]; merekalah orang-orang yang beruntung.

Ayat ini berisikan tentang dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, dan perluanya kekuasan untuk menegakkannya. Kata  أمة  di ayat di atas berarti segolongan orang yang mampu dalam menjankan dakwah di muka bumi untuk memenangkan kebanaran atas kebatilan yang baik terhadap yang buruk. Maka dalam tafsirnya Sayyid Quthb jilid 2 dijelaskan haruslah ada segolongan atau satu kekuasan yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma;ruf dan mencegah dari kemungkaran. Ketetapan islam yang harus ada segolongan yang berkuasa, alsannya untuk melaksanakan dakwah dan mempersatukan umat sangatlah memerlukan kekuasaan untuk “memerintah” manusia kepada yang ma’ruf dan “mencegah” kemungkaran. Sebegaimana Firman Allah SWT di dalam Q.S An-Nissa’:64 “tidaklah Kami mengutus seorang rasul pun melainkan untuk ditaati dengan seizinnya[12].”

(Al-Maidah 66)

Artinya; 66. Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka[13]. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan[14]. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka.

  1. Nas, syu,ub dan qobail

   يا ايها الناس إنا خلقنكم من ذكر وأوثى وجعلنكم شعوبا وقبائل لتعارفوا إن أكرمكم عند الله أتقاكم إن الله عليم خبير 13) (Al-hujurat

Manusia diciptakan berbagai bangsa untuk saling kenal

Artinya: 13. Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

            Ayat ini turun berkenaan dengnan Abu Hind yang pekerjaan sehari-harinya adalah pembekam. Nabi meminta Kepada Bani Bayadhah untuk menikahkan seorang putrinya dengan Abu Hind, tetapi mereka menolak dengan alasan tidak wajar menikahkan putrinya dengannya yang merupakan salah satu bekas budak mereka. Sikap tersebut dikecam oleh Al-Qura’an dengan menegaskan bahwa kemulyaan di sisi Allah SWT. Bukan karena keturunan atau garis kebangsawanannya melainkan pada ketakwaannya. Yang jelas ayat ini turun menegaskan kesatuan asal-usul manusia dari seorang Laki-laki dan perempuan yaitu Adam dan Hawa (من ذكر وأوثى)  dengan menunjukkan kesamaan derajat.

Kata (الناس) mempunyai makna jamak tetapi memiliki redaksi mufrod atau semua manusia tampa satu-kesatuan tanpa adanya kelompok. Kata (شعوب) bentuk jamak kata (سعب) sya’b yang berati bangsa. Kata ini digunakan untuk menunjukkan kumpulan dari sekian ( قبيلة)/ suku, yang jamaknya adalah (وقبائل), yang merujuk pada satu keturunan atau kakek.  

  1. Firqoh dan Thaifah

وما كا ن المؤمنون لينفروا كافة فلولا نفر من كله فرقة منهم طائفة ليتفقهوا في الدين ولينذروا قومهم اذا رجعوا اليهم لعلهم يحذرون      (At-Taubat 122)

Artinya: 122. Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Menurut riwayat yang menyatakan ketika Rasullah  tiba di madinah, Beliau mengutus pasukan yang terdiri dari beberapa orang ke beberapa daerah. Banyak sekali yang mau ikut ke medan perang saat itu, jika permintaan mereka dituruti maka yang tinggal di madinah hanya segelintir orang saja. Nah ayat ini menuntun kaum muslimin untuk membagi tugas sebagaimana isis ayat di atas.

 Kata (طائفة)  berarti satu atau dua orang, kata (فرقة) bermakna sekelompok manusia yang berbeda dengan kelompok yang lain. Karena itu, satu suku atau bangsa, masing – masing dapat dinamai firqah. (ليتفقهوا ) terambil dari kata فقه yakni pengetahuan yang mendalam menyangkut hal – hal yang sulit dan tersembunyi.

  1. Al-Mala’

فقال الملأ الذين كفروا من قومه ما هذا إلا بشر مثلكم يريد أن يفضل عليكم ولو شاء الله لأنزل ملائكة ما سمعنا بهذا في ءابائنا الأولين )Al-Mu’minum 24      (

Artinya: 24. Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: “Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu.

Kata (الملأ) dalam tafsir misbah vol 9 mulanya berati kelompok yang menyatu pandangannya. Kata ini berasal dari kata (ملأ)  mala’a yang artinya membantu,  seakan-akan anggota kelompok itu saling membantu dan kompak dalam pendapatnya, sehingga mereka semua menyatu dalam pendapat dan tindakan. Nah, kata ini digunakan dalam Al-Qur’an untuk menunjuk pemuka-pemuka masyarkat yang durhaka, bantu-membantu dalam kedurhakaan atau mereka bermusyawarah sehingga mempunyai pendapat yang sama. Ada juga para ulama’ yang memahami (ملأ) dalam Artian penuh, para pemimpin dinamai mala’, karena mereka memenuhi mata, hati masyarakat umum yang dipimpinnya, karena kekuatan[15], pengaruh atau penampilan mereka.

Kata (الذين كفروا)  adalah sifat dari kata (الملأ)  yang artinya orang-orang yang kafir. Kata  tersebut menunjukkan bahwa mereka sama sekali tidak ada yang beriman.

  1. Abdun

(Al-anbiya’ 105) ولقد كتبنا في الزبور من بعد الذكر أن الأرض يرثها عبادي الصالحون

Artinya: 105. Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur[16] sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh.

Kata (عبادي الصالحون)ibadiya, semakna dengan kata (عابدين) abidiin¸pada ayat106 lanjutannya surat ini, yaitu bermakna orang-orang yang mengamalkan Al-qur’an, pakar Tafsir Ar-rzi berpendapat bahwa kata tersebut memiliki pengetahuan tentang tuntunan al-quar’an sekaligus mengamalkan tuntunan tersebut. Sayyid Quthub dalam tafsirnya memahami dalam arti yang siap untuk menyambut petunjuk Allah. Penamaan Abidin menurutnya karena hati seorang abdi/pengabdi selalu khusu’ patuh, siap untuk menerima, memperhatikan dan memanfaatkan tuntutan kebaikan.

Selanjutnya menurut Quraish Shihab dalam tafsirnya, kata (عبادي) ibadi, digunakan dalam AL-Qur’an untuk menunjuk hamba-hamba Allah yang dekat dan taat kepada-Nya, atau kelaupun berdosa dia telah menyadari dosanya tersebut, bertaubat dan ingin mendekatkan diri kepada-Nya.

(Ibrahim 31)  قل لعبا دي الذين امنوا يقيموا الصلاة وينفقوا مما رزقناهم سرا وعلانية من قبل أن يأتي يوم لابيع ولاخلال

Artinya: 31. Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: “Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada bari itu tidak ada jual beli dan persahabatan[17].

Sayyid Quthub dalam Tafsirnya menyebutkan ayat ini mengecam orang-orang kafir yang tidak mensyukuri nikmat Allah. Ayat ini memerintahkan kepada hamba-hambaNYa untuk mensyukuri nikmatnya dengan menjalankan shalat dan menuaikan zakat. Shalat adalah perwujudan yang nyata dalam bentuk bersyukur pada Allah[18].

Kata (عباد)ibad, bentuk jamak ari kata (عبد)abd/ hamba. Bentuk jamak dari kata ini ada dua pertama, (عبيد) abid, yang biasa digunakan dalam Al-qur’an untuk menunjukkan hamba-hamba Allah yang bergelimang dalam dosa tanpa ada suatu kesadaran dan mau bertaubat. Kedua, (عباد)ibad, yang digunakan Al-qur‘an untuk menunjuk hamba-hamba Allah yang taat kepada-Nya atau kalaupun berdosa, ia menyadari dan menyesalinya serta mau memperbaikinya.  Jadi ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman.

(Al-furqon 63:)  وعباد الرحمن الذين يمشون على الارض هونا وإذا خاطبهم الجاهلون قالوا سلاما

Artinya: 63. Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.

Kata (عباد) di ayat ini sama pengertiannya dengan ayat-ayat di atas[19]. Yang dimaksud kata (وعباد الرحمن) adalah adalah sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW, mencakup semua orang mukmin, di mana saja dan kapan saja selama mereka menyandang sifat-sifat ar-rahman.(Quraish Shihab). Selanjutnya untuk menerangkan sifat ar-rahman adalah kata (هونا)haunan,yang berarti lemah lembut dan halus atau mengandung kesempurnaan. Dan yang dimaksud dengan (يمشون على الارض هونا) dipahami oleh sebagian besar ulam’ dalam arti jalan tidak angkuh atau kasar, membusungkan dada, kecuali dalam saat perang. Kalau di tarik pada zaman sekarang adalah naik tidak  mematuhi rambu-rambu lalu lintas, track-trackan, blayer dsb.

Sebagaimana Hadist Riwayat Muslim, pada  Nabi menuju arena perang Beliau melihat seseorang berjalan penuh semangat dan terkesan angkuh lalu beliau bersabdah “ Sungguh cara berjalan ini  dibenci Allah, kecuali dalam situasi (perang ) ini. Sedangkan kata (الجاهلون) juga termasuk konteks abdun,digunakan Al-Qur’an untuk orang yang tidak tahu, pelaku yang kehilang kontrol dirinya sehingga melakukan hal-hal yang tidak wajar, baik kehendak nafsu, kepentinga, dan kepicikan.

  1. C.   KEDUDUKAN MANUSIA DALAM MASYARAKAT

 

  1. Khalifah, Pembangun dan Abdi Allah

هو الذي جعلكم خلائف في الارض فمن كفر فعليه كفره ولايزيد الكافرين كفرهم عند ربهم إلامقتا ولايزيد الكافرين كفرهم إلا خسارا (QS. Fathir 39) 

Artinya: 39. Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka.

Kata (خلائف) adalah bentuk jamak dari kata (خليفة). Kata ini berasal dari kata (حلف) yang pada mulanya berarti belakang. Dari sini khalifah sering kali diartikan yang mengantikan atau yang datang dari belakang (sesudah siapa) yang dating sebelumnya. Quraish Shihab mengemukakan bahwa bentuk jamak kata ini adalah  khalaif dan Khulafa. Sambil merujuk penafsiran Surat Al-An’am ayat 165, menurut Quraish Shihab, bila Al-qur’an menggunakan kata khulafa’ maka mengesankan adanya kekuasaan politik dalam menegelola suatu wilayah, sedang bila menggunakan kata khalaif  kekuasaan wilayah tidak termasuk di dalamnya.

Ayat ini mengisyaratkan bahwa setiap orang mempunyai tanggung jawab membangun dunia ini dan memakmurkan sesuai dengan petunjuk Allah, apapun fungsi dan kedudukan orang itu, baik sebagai penguasa atau rakyat biasa. Allah menganugrahkan  kepada setiap manusia sejak Adam as., hingga kini dan yang akan datang potensi untuk mengelola dan memakmurkan bumi sesuai dengan kadar masing-masing[20].

  1. Abdi ALLAH

(QS. Adzariyah 56)  وما خلقت الجن والانس الا ليعبدون

Artinya: 56. Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Kiranya penting kami uraikan tafsir ayat berikut ini untuk kemudahan dalam mempelajari konteks pembahasan point di atas. Aku tidak menciptakan jin dan manusia untuk suatu manfaat yang kembali pada diri-Ku. Aku tidak menciptakan mereka melainkan agar tujuan atau kesesudahan aktivitas mereka adalah beribadah kepadaku.

 Dahulunya kata (الجن) dan (الانس) karena memang jin di ciptakan terlebih dahulu dari pada manusia. Kata (الجن والانس), bermakna Iil-istgraq yaitu kesemuanaya jin manusia tanpa kecuali, tetapi ada ulama’ mengatakan  sebenarnya ia bukan Li-istgraq tetapi lil-jins sehingga menurut tafsirnya adanya sebagian jenis manusia dan jin ada yang beribadah dan ada yang tidak, dan sebagian dari keduanya yang beribada sudah cukup untuk menjadakan tujuan penciptaannya mereka adalah beribadah. Kalau semua jenis manusia dan jin “kesemuanaya” tidak beribadah  maka tujuan Allah menciptakannya tidak tercapai, dan hal itu adalah mustahil bagi Allah Yang Maha Segalanya. Dia mempunyai tujuan  bagi setiap anggota jenis itu, Wallahu A’lamu[21].

Selanjutnya hakikat beribadah menurut Sayyid Quthub, ada tujuan tertentu dari wujud jin dan manusia, ia merupakan tugas. Siapa yang melaksanakannya maka ia telah mewujudkan tujuan wujudnya, dan siapa yang mengabaikannya berarti ia telah membatalkan hakikat wujudnya dan menjadilah ia makhluk yang tidak memiliki tugas dan tujuannya kosong.  Menurut Thabathabai, ada tujuan yang bertjuan dari penciptaan manusia dan kesempurnaan yang kembali pada kepada penciptanya itu.

Menurut Quraish Shihab, ibadah terdiri dari ibadah murni (Mahdhah) dan ibdadah tidak murni (Gairu Mahdhah). Ibadah mahdhah adalah ibdah yang ditentukan oleh Allah SWT. bentuk, kadar, waktunya, sepeti shalat, puasa zakat dan haji. Ibadah gairu mahdha adalah segala kativitas lahir dan batin manusia yang dimaksudkan untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. hubungan seks pun menjadi ibadah jika dilakukan sesuai dengan tuntutan agama islam. Nah, ayat di atas menjelaskan bahwa Allah menghendaki agar segala aktivitas manusia dilakukan demi karena Allah yakni sesuai dan sejalan dengan tuntan-Nya

 

DAFTAR PUSTAKA–          Departemen Agama RI. 2007. Al-quran & Terjemahnya.. Jakarta: CV Penerbit Diponegoro

–          Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah Vol 5. Jakarta: Lentera Hati

–          Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah Vol 15. Jakarta: Lentera Hati

–          Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah Vol 7. Jakarta: Lentera Hati

–          Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah Vol 14. Jakarta: Lentera Hatiس

–          Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah Vol 13. Jakarta: Lentera Hati

–          Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah Vol 9. Jakarta: Lentera Hati

–          Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah Vol 5. Jakarta: Lentera Hati

–          Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah Vol 11. Jakarta: Lentera Hati

–          صفوة التفاسير. تفسر للقران العظيم, جامع بين المأثور والمنقول 1,2,3.  محمد علي الصابوني. دار الحديث القهرة

–          -Quthub, Sayyid. 2001.Tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Jakarta: Gema Insani


[1][1] Lihat Tafsir Al-Misbah Vol.15 hal. 396

[2] Kamus bahasa Indonesia

[3] Lihat Q.S Al-Anbiya (21): 37

[4] Baca Q.S Al-A’raf 37

[5] Lihat Tafsir Al-Misbah Vol.7 hal.542-543

[6] Hewan yang termasuk jenis unta, kambing, sapi dan biri-bir

[7] Lihat Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, karangan Syyid Quthb. Jilid2.hal.42

[8] Lihat Tafsir Al-Misbah Vol.14 hal.589-590

[9] Sujud sebagai penghormatan bukan menyembah

[10] Lihat Tafsir Al-Misbah Vol.14 hal.62

[11] Ma’ruf: segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan Munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.

[12] Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, karangan Syyid Quthb. Jilid2.hal. 124

[13] Maksudnya: Allah akan melimpahkan rahmat-Nya dari langit dengan menurunkan hujan dan menimbulkan rahmat-Nya dari bumi dengan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan yang buahnya melimpah ruah

[14] Maksudnya: orang yang berlaku jujur dan lurus dan tidak menyimpang dari kebenaran.

[15] Kekuatan bisa berupa uang, paksaan dll

[16] Yang dimaksud dengan Zabur di sini ialah seluruh kitab yang diturunkan Allah kepada nabi-nabi-Nya. Sebahagian ahli tafsir mengartikan dengan kitab yang diturunkan kepada Nabi Daud a.s. dengan demikian Adz Dzikr artinya adalah kitab Taurat.

[17] Maksudnya: pada hari kiamat itu tidak ada penebusan dosa dan pertolongan sahabat, lihat juga surat Al Baqarah ayat 254.

[18] Lihat Tafsir Al-Misbah Vol.7 hal.59

[19] Rujuklah Tafsir Al-Misbah Vol.9 hal.527 dan ayat 17 dari surat yang sama (Al-furqon)

[20]  Lihat Tafsir Al-Misbah Vol.11 hal.483

[21] Lihat Tafsir Al-Misbah Vol.13 hal.358

Tinggalkan komentar »

JENIS-JENIS KELOMPOK SOSIAL BESERTA CIRI-CIRINYA

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Berbicara mengenai manusia tentunya juga berbicara mengenai seluruh aspek yang ada pada manusia tersebut. Banyak sekali yang harus dikaji mengenai manusia. Manusia sebagia makhluk sosial tidaklah mungkin hidup tanpa adanya orang lain. Dalam situasi ini manusia harus berinteraksi satu sama lain untuk memenuhi kebutuhannya.
Semua yang dibutuhkan manusia tidaklah mungkin diatasi secara individual karena manusia sebagai makhluk sosial maka mereka saling membutuhkan dan saling tergantung antara satu sama lain, dalam kaitannya dengan hal tersebut. Dalam sebuah masyarakat terdapat beberapa kelompok- kelompok sosial yang membuat interaksi mereka lancar dan tertur. kelompok sosial merupakan sistem yang bisa membantu masyarakat untuk mencapai tujuan mereka bersama dan di dalamnya ada norma-norma yang telah di sepakati barsama. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sherif bahwa kelompok sosial adalah suatu kesatuan sosial yang terdiri atas dua individu atau lebih yang telah mengadakan interaksi sosial yang cukup intensif dan teratur, sehingga di antara individu itu sudah terdapat pembagian tugas, struktur, dan norma-norma tertentu, yang khas bagi kesatuan sosial tersebut. Semisal contoh yang paling signifikan untuk dijadikan contoh yaitu rumah tangga, rumah tangga merupakan kelompok terkecil yang ada dalam masyarakat.
Dalam pembahasan masalah kelompok sosial yang dibahas dalam psikologi sosial bahwasanya kelompok sosial memiliki perbedaan dengan kebersamaan, jenis-jenis kelompok sosial dan ciri-ciri kelompok sosial. Makalah ini akan membahas mengenai hal tersebut sehingga kita dapat membedakan mana kelompok sosial dan serta ciri-cirinya.

B. RUMUSAN MASALAH
a. Bagaimana jenis-jenis kelompok yang ada di masyarakat?
b. Bagaimana ciri-ciri kelompok tersebut?
C. TUJUAN PENULISAN
a. Mahasiswa mengetahui jenis-jenis kelompok dan mengerti definisi kelompok sosial.
b. Mahasiswa bisa membedakan antara kelompok sosial dengan kebersamaan dengan berbagai ciri-cirinya.
c. Sebagai bahan referensi dan tambahan ilmu pengetahuan bagi dosen dan mahasiswa.
D. MANFAAT PENULISAN
a. Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam hal menulis serta membaca referensi akademis.
b. Mengetahui dan memahami serta melatih mahasiswa dalam pembuatan skripsi.
c. Selain itu mahasiswa dilatih mengembangkan nalar serta ilmu pengetahuannya secara sistematik.

BAB II
KELOMPOK SOSIAL

A. JENIS – JENIS KELOMPOK

Menurut Sherif kelompok sosial adalah suatu kesatuan sosial yang terdiri atas dua atau lebih individu yang telah mengadakan interaksi sosial yang cukup intensif dan teratur, sehingga diantara individu itu sudah terdapat pembagian tugas, struktur dan norma – norma tertentu, yang khas bagi kesatuan sosial tersebut .
Menurut Roland Freedman Cs kelompok sosial adalah organisasi terdiri atas dua atau lebih individu yang tergantung oleh ikatan – ikatan suatu sistem ukuran – ukuran kelakuan yang diterima dan disetujui oleh semua anggotanya. Menurut Park dan Burgess kelompok adalah sekumpulan orang yang memiliki kegiatan yang konsisten. Sedangkan menurut Gidding kelompok sosial timbul karena adanya consciousness of kind, kesadaran atas barang pada jiwa manusia. Menurut paham fungsionalisme didalam antropologi yang di pelopori oleh Malinowski bahwa pertimbangan untuk membentuk kelompok sosial adalah adanya fungsi, adanya tujuan dari pada kelompok sosial. Tujuannya berupa tujuan bersama, misalnya pada kelompok berburu .
Jadi kelompok – kelompok sosial tersebut adalah himpunan atau satu kesatuan manusia yang hidup bersama dan adanya hubungan diantara mereka. Hubungan tersebut antara lain menyangkut hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi dan suatu kesadaran untuk saling tolong – menolong serta adanya organisasi antara anggotanya.
1. Kelompok Primer
Dalam kelompok primer terdapat interaksi sosial yang intensif dan lebih erat antara anggotanya dari pada dalam kelompok sekunder. Kelompok primer juga disebut face to face group, yaitu kelompok sosial yang anggota-anggotanya sering berhadapan muka yang satu dengan yang lain dan saling mengenal dari dekat, dan karena itu saling hubungannya lebih erat. Peranan kelompok premer dalam kehidupan individu besar sekali karena dalam kelompok premer itu manusia pertama-tama berkembang dan dididik sebagai makhluk sosial. Disini ia memperoleh kerangkanya yang memungkinnya untuk mengembangkan sifat-sifat sosialnya, antara lain mengindahkan norma-noram, melepaskan kepentingan dirinya demi kepentingan kelompok sosialnya, belajar bekerja sama dengan individu-individu lainny, dan mengembangkan kecakapannya guna kepentingan kelompok. Saling hubungan yang baik di dalam kelompok primer itu menjamin perkembangannya yang wajar sebagai manusia sosial. Contoh-contoh kelompok premer adalah keluarga, rukun tetangga, kelompok sepermainan sekolah, kelompok belajar, kelompok agama dan sebagainya. Sifat interaksi dalam kelompok-kelompok primer ini bercorak kekeluargaan, dan lebih berdasarkan simpatik .
2. Kelompok Sekunder
Interaksi dalam kelompok sekunder terdiri atas saling hubungan yang tidak langsung, berjauhan dan formal, kuarng bersifat kekeluargaan. hubungan-hubungan dalam kelompok sekunder biasanya lebih objektif.
Peranan atau fungsi kelompok sekunder dalam kehidupan manusia ailah untuk mencapai tujuan tertentu dalam masyarakat dengan bersama, secara objektifdan rasional.
Perbandingan antara pergaulan antara kelompok primer dan sekunder dapat digambarkan dengan perkataan Tonnies, seorang ahli ilmu kemasyarakatan, yaitu bahwa kelompok primer bersifar Gemeinschaft, artinya merupak suatu persekutuan hidung yang hubunngnannya satusama lain erat sekali. Sering juga disebut hubungan atau kekeluargaan, dan masing-masing individu ingin bantum membantu secara sukarela. Sedangkan kelompok sekunder bersifat Gesselschaft, artinya suatu kesatuan sosial yang hubungannya satusama lain berdasarkan pamrih, selalu memperhitungkan rugi-laba . Contoh-contoh kelompok sekunder ialah partai politik, perhimpunan serikat kerja dan sebagainya.
3. Kelompok Formal dan Informal
Terdapat pula pembagian kelompok sosial ke dalam kelompok formal atau resmi dan kelompok informal atau kelompok tidak resmi.
Inti perbedaan disini ialah bahwa kelompok informal itu tidak berstatus resmi dan tidak didukung oleh peraturan-peraturan ADRT tertulis seperti pada kelompok formal. Kelompok informal juga mempunyai pembagian tugas, peranan-peranan dan hirarki tertentu, serta norma pedoman prilaku anggotanya dan konvensinya, tetapi hal ini tidak dirumuskan secara tegas dan tertulis seperti pada kelompok formal.
Ciri-ciri interaksi kelompok tak resmi lebih mirip pada ciri-ciri kelompok primer dan bersifat kekluarga dengan corak simpati, sedangkan ciri-ciri kelompok resmi mirip pada ciri-ciri interaksi kelompok sekunder, bercorak pertimbangan pertimbangan rasional objektif. Contohnya: semua perkumpulan yang beranggapan dasar dan beranggapan rumah tangga merupakan kelompok resmi.
Dalam suatu kelompok resmi terbentuk kelompok informal yang terdiri dari beberapa orang atau beberapa keluarga saja, yang mempunyai pengalaman bersama, dan sifat interaksinya berdasarkan saling mengerti yang mendalam karena pengalaman-pengalaman dan pandangan- pandangan bersama. Pembentukan kelompok informal itu tentu juga terdapat di luar kelompok-kelompok resmi yang besar, seringdibentuk di tengah kehidupan sehari-hari, lingkungan kerja, tempat kediaman yang dekat. Contoh: contoh sekelompok kawan-kawan atau keluarga yang sering kunjung mengunjungi. Seperti yang dikatakan tadi, kelompok informal itu mempunyai sifat-sifat interaksi yang mirip dengan interaksi kelompok primer yang erat dan berdekatan berdasarkan saling mengerti.

4. Hubungan in-group dan out-group
Di dalam in-group dimana individu termasuk di dalamnya, maka sering mengadakan penyesuain diri dengan kelompok. Misalnya “itupartai saya, golongan saya dan sebaginya”. Jadi adanya unsur mendukung norma yangtermasuk di dalamnya di sebut in-group.
Dalam out-group, individu terasa pada lingkungan kelompok tertentu. Ia merasa bahwa ia tidak tergolong di dalamnya. Sebernarnya persoalan tentang in-group dan out-group ini bukan merupak persoalan penting selama tidak terjadi perasinganf .
Contoh: in-group misalanya, sekelumit orang yang dalam peperangan telah menjalankan tugas yang sukar dan telah mengalami pahit getirnya sama-sama, mempunyai cara-cara senda gurau yang khusus dan ditujukan kepada kawan-kawan sepengalaman. Apabila mereka sedang bersanda gurau, lalu ada orang luar yang turut tertawa dengan mereka, maka kawan-kawaan ini dengan tiba-tiba diam dan mengatakan apa-apa, lalu pergi dari tempat itu karena adanya seorang out-group yang ingin turut serta dengan mereka.
Sikap perasaan in-group itu seakan-akan hanyalah mengizinkan kawan-kawan in-group itu saja untuk turut serta dengan kegiatan yang mereka lakukan. Out-group tidak diperkenankan turut serta seakan-akan orang luar harus membuktikan terlebih dahulu bahwa mereka mau solider dengan in-group. Mau berkorban bersama dengan sekawanan in-group demi kemajuan bersama. Mereka harus membuktikan bahwa mereka mau dan dapat memikul pahit getirnya bersama barulah mereka boleh ikut serta dengan kegiatan in-group itu.
B. CIRI-CIRI UTAMA KELOMPOK
1. Terdapat motif-motif yang sama
Terbentuknya kelompok sosial itu adalah ialah karena bakal anggotanya berkumpul untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang dengan kegiatan bersama lebih mudah dan dan dapat di capai dari pada atas usaha sendiri. Jadi, dorongan atau motif bersama itu menjadi pengikat dan sebat utama terbentuknya kelompok sosial. Tanpa motif yang sama antara sejumlah individu itu sukar sukar untuk terbentuk suatu kelompok sosial.
Tetapi tidak hanya motif yang sam itu saja yang dapat mengikat dan membentuk sejumlah orang menjadi suatu kelompok sosial, sebab adanya suatu motif yangg sama itu harus disertakan kesadaran bahwa tujuan-tujuan tersebut haruslah dicapai dengan kerja sama anatara orang-orang yang bermotif sama. Apabila tidak adanya kesadaran tersebut, maka tujuan yang sama itu akan dikejar sendir-sendiri. Hal tersebut akan menimbulkan suatu prcekcokan dan terpecahnya kelompok.
Tujuan-tujuan bersama yang diusahakan oelh kelompok sosial bermacam-macam jenisnya, misalnya keuntungan ekonomis seperti upada usaha koperasi dalam memberi barang konsumsi bersama. Dapat pula tujuan bersama itu berupa tujuan politik, tujuan ilmiah, dan lainnya.
Setelah suatu kelompok terbentuk, biasanya lambat laun timbul pula motif-motif baru kelompok serta tujuan-tujuan tambahan yang semuanya dapat memperkokoh kehidupan kelompok itu. Hal ini dpat kita amati, misalnya, pada kelompok mahasiswa dari sebuah fakultas yang baru didirikan. Mahasiswanya lalu membentuk kelompok sosial terdorong oleh tujuan bersama, yaitu untuk bekerjasama dalam menyelesaikan persoalan-persoalan dalam menuntut pelajarannya. Titik berat dalam usaha bersama mereka itu pada mulanya ialah untuk mengatasi kesulitan-kesulitan dalam hal belajar di fakultas tersebut, misalnya mengusahakan buku-buku dan diklat-diklat bersama. Tetapi, sesudah satu atau dua tahun berdirinya fakultas, timbullah tujuan-tujuan tambahan, yaitu merayakan dies natalis secara meriah, mengadakan pawai-pawai, dan lain-lain, yang sebenarnya bukan lagi kegiatan-kegiatan khusus dari kelompok belajar yang bertujuan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan belajar itu.
Timbulnya motif-motif baru kerap kali terjadi dalam kehidupan kelompok dan mempunyai peranan yang khusus, yakni untuk memperoleh interaksi antara anggota kelompok serta memperkuat kehidupan kelompok pada umumnya.
Pengaruh kehidupan kelompok yang makin kokoh terhadap kegiatan individu anggotanya ialah, bahwa pada mereka akan timbul suatu sense of belongingness, yang ternyata mempunyai arti yang cukup mendalam pada kehidupan individu. Sense of belongingness itu merupakan peranan sikap bahwa ia termasuk dalam suatu kelompok sosial, di dalamnya ia mempunyai peranan tugas sehingga ia pun merasa semacam kepuasan dirinya bahwa ia berharga sebagai anggota kelompok tersebut. Kepuasannya ialah bahwa, ia sebagai makhluk sosial di dalam kelompoknya telah memperoleh peranan sosial yang juga berdasarkan usaha-usahanya untuk menyumbangkan sesuatu demi kepentingan kelompoknya.
Maka dari paparan di atas dapat diringkas sebagai berikut. Terbentuknya kelompok sosial bergantung kepada adanya tujuan atau motif bersama dan keinsafan akan perlunya kerjasama untuk mencapai tujuan itu. Dalam perkembangan kelompok sosial, selain motif utama timbul pula moti-motif dan tujuan-tujuan tambahan yang mempunyai peranan berupa memperkokoh kehidupan kelompoknya. Apabila kehidupan kelompok bertamabah kokoh, maka timbullah rasa sense of belongingnes pada diri anggota-anggotanya, yang makin mendalam pula apabila anggota itu bertamabah solider dalam sikap dan usahanya dengan kehidupan kelompok.
2. Terdapat reaksi-reaksi dan kecakapan yang berlainan antar anggota kelompok.
Dalam menguraikan pasal ini oleh Sherif dan kawan-kawan ditandaskan bahwa situasi sosial, baik situasi kebersamaan maupun situasi kelompok, pada dirinya sendiri sudah mempunyai pengaruh berlainan terhadap tingkah laku individu dibandingkan dengan kebiasaan tingkah laku individu itu dalam keadaan sendiri. Dalam hal itu tampak betapa mudahnya berlangsungnya imitasi dan sugesti pada umumnya dalam situasi tersebut. Demikian pula dalam terbentuknya kelompok sosial yang beralih dari suatu kebersamaan. Dengan demikian situasi sosial itu dapat merangsang reaksi-reaksi berlainan dari individu-individu yang bakal menjadi anggota kelompok. Dari berlainan kecakapan-kecakapan atas dasar perbedaan-perbedaan dalam kemampuan-kemampuan antar anggoata kelompok yang dirangsang oleh situasi sosial itu, maka terjadilah pembagian tugas yang khas antara anggota-anggotanya sesuai dengan kecakapannya untuk turut merealisasikan tujuan kelompok secara kerja sama. Demikianlah lambat-laun terjadi struktur kelompok yang khas serta norma-norma dan pedoman-pedoman pelaksanaan kegiatan kelompok serta makin menegas berdasarkan reakasi-reaksi dan kecakapan yang berlainan.
3. Terdapat penegasan struktur kelompok
Yang disebut dengan struktur kelompok ialah suatu sistem yang cukup tegas mengenai hubungan-hubungan anatara anggota-anggota kelompok berdasarkan peranan, status-status mereka sesuai dengan sumbangan masing-masing dalam interaksi kelompok ke tujuannya.
Pembagian tugas-tugas dan koordinasi antara tugas-tugas tiap anggota lambat laun akan akan terbina mengenai pengharapan-pengharapan yang timbal balik anatar anggotan, bahwa tugas-tugas yang diserahkan masing-masing juga kan di selesaikan dengan sebaik-baiknya. Nah kejelasan mengenai pembagian tugas-tugas itulah yang akan mengarahkan pada penegasan fungsi dan peran para anggota-anggotanya.
4. Terdapat penegasan norma-norma kelompok
Bersamaan dengan terbentuknya struktur dalam interaksi kelompok, terbentuklah norma-norma tingkah laku yang khas antara anggota-anggota kelompoknya.
Norma kelompok tersebut bukanlah norma statis atau angka rata-rata mengenai tingkah laku yang sebenarnya terjadi dalam kelompok itu, melainkan merupakan pedoman-pedoman untuk mengatur pengalaman dan tingkah laku anggota kelompok dalam bermacam-macam situasi sosial yang bersangkutan dengan kelompok.
Norma kelompok ialah pengertian yang seragam mengenai cara-cara tingkah laku yang patut dilakukan oleh anggota kelompok apabila terjadi sesuatu yang bersangkutpaut dengan kehidupan kelompok. Norma dalam suatu kelompok ada yang tertulis dana ada juga yang tidak, biasanya sesuai jenis kelompoknya. Kalau kelompok resmi pasti tertulis namun bila kelompok tak resmi maka kebanyakan tidaka tertulis. Jadi norma-norma kelompok itu berkenaan dengan cara-cara tingkah laku yang diharapkan dari semua anggota kelompok dalam keadaan yang berhubungan dengan kehidupan dan tujuan interaksi kelompok.
Norma kelompok informal biasanya terealisasikan dalam bentuk pengertian satu sama lain terhadap prilaku yang ada. Sedangkan kelompok formal mempunyai norma-norma tertulis tentang prilaku semua anggotanya.
Norma sosial merupakan adalah patokan umum mengenai tingkah laku dan sikap individu anggota kelompok yang dikehendaki oleh kelompok mengenai bermacam-macam hal yang berhubungan dengan kehidupan kelompok yang melahirkan norma-norma tingkah laku dan sikap-sikap itu mengenai segala situasi yang dihadapi oleh anggota-anggota kelompok .

BAB II
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari semua uraian tentang pembahasan kelompok social di atas dapat kita simpulkan sebagai berikut. Kelompok mempunyai jenis-jenis yaitu sebagai berikut:
a. Kelompok Primer
b. Kelompok Sekunder
c. Kelompok Formal dan Informal
d. Kelompok In-Group dan out-Group
Selain itu kelompok mempunyai ciri-ciri yang khas. Dari cirri-ciri kita dapat membedakan mana yang termasuk kelompok di dalam kehidupan kita, ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
a. Adanya suatu Motif atau tujuan bersama di dalam komunitas tersebut
b. Adanya reaksi atau kecakapan yang berlainan di dalam suatu kelompok tersebut, artinya dalam kelompok tersebut setiap anggotanya pasti mempunyai kreatifitas yang berbeda
c. Penegasan struktur kelompok. Artinya di dalam kelompok itu ada pembagian tugas sesuai dengan kemampuan atau keahlian para anggotanya dan tugas ketua harus dikerjakan oleh ketua kelompok, tidak boleh tugas ketua kelompok di kerjakan oleh sekertaris dan sebaliknya.
d. Terdapat penegasan norma-norma kelompok. Maksudnya ada aturan yang harus ditaati di dalam suatu kelompok tersebut. Norma itu bertujuan untuk mendukung tercapainya tujuan kelompok, dan norma dibuat berdasarkan kesadaran serta kesepakatan bersama.

DAFTAR PUSTAKA

– Ahmadi, Abu. Psikologi Sosia, edisi revisil. Jakarta: Rineka Cipta, 2007
– Gerungan, W.A. psikologi Sosial. Bandung: Refika Aditama, 2002
– A. Goldberg, Alvin, Carl E. Larson. Komunikasi Kelompok. Jakarta: UI-Press, 1985
– Tohirin. Bimbingan Konseling di Sekolah dan Madarasa. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2009

Tinggalkan komentar »

TEORI MODERNISASI

BAB 1
PENDAHULUAN

Ilmuan social akan mengalami kesulitan dalam melakuakan penelitian tanpa teori ini munkin disebabkan oleh kekurang kemampuan mereka dalam merumuskan pokok persoalan, pertanyaan penelitian dan data-data yang diperlukan, ini tentu saja teori merupakan alat Bantu utama. Teori mempertajam prose berfikir, menggelar krangka analisa mebantu merumuskan hipotesa dan menentukan agenda penelitian serta membantu dalm memilih metode penelitian menguju data, menarik kesimpulan dan merumuskan tindak lanjut kebijaksanaan. Dilain pihak teori tidak jarang menuntut loyalitas ilmuan. Ketika ilmuan menulis salah satu presfektif, mereka cendrung mengembangkan pola pikir tertentu dan berpendapat teori tersebut merupakan teori terbaik, akibatnya ilmuan social cendrung tidak menghargai teori yang lain dan melakukan kritik tajam yang menyebabkan terjadinya perang teori dan puncaknya berubah menjadi pertarungan ideology.

Perubahan social dan pembangunan pada akhir tahun 1950-an teori modernisasi merupakan paradigma utama. Pada akhir tahun 1960-an aliran ini mendapat tantangan paradigma yang radikal yaitu teori ketergantungan (teori dependensi). Pada pertengahan tahun 1970-an paradigma baru dengan teori system ekonomi dunia muncul kepermukaan untuk menguji isu pembangunan pada tahun 1980-an ketiga aliran ini bergerak saling melakukan sintesa.

 

BAB 2

TEORI MODERNISASI KLASIK

 

Sejarah lahirnya : Teori modernisasi lahir dalam bentuknya sekarang ini paling tidak menurut tokoh-tokoh Amerika Serikat sebagi produk sejarah tiga peristiwa penting dunia setelah perang dunia II. Pertama : munculnya Amerika Serikat sebagai kekuatan dominant dunia
Kedua : pada saat yang hampir bersamaan terjadinya perluasan gerakan komunis dunia
Ketiga : lahirnya Negara- Negara merdeka baru di asia, afrika, amerika latin, yang sebelumya dijajah eropa. Tidak berlebihan jika karya kajian dari teori modernisasi jika dikatagorikan sebagai satu aliran ajaran pemikiran sendiri yang ditopang bahwa kenyataan para peneliti dan penganut aliran pemikiran ini sepertinya membentuk energi besar gerakan social yang besar memiliki dana yang kuat besar dan hubungan yang baik bagi para pendukungnya sering mnerbitkan jurnal ilmiah dan seminar penelitian dan menerbitkan hasil kajian melalui badan penerbitan universitas.

Warisan Pemikiran.

Pewarisan pemikiran structural fungsionalisme ke dalam teori modernisasi terlalu lebih disebabkan kenyataan seperti Denial Larner, Marion Levy, Neil Smelser, Samuel Eisenstadt dan Gabriel Almond, lebih banyak terdidik dalam pemikiran structural fungsionalisme sehingga dalam menyampaikan secara detail konsep-konseo pokok teori modernisasi disampaikan terlebih dahulu secara singakat pole pikir teori evolusi dan fungsionalisme

Teori evolusi

Teori evolusi lahir pada abad ke- 19 sesudah revolusi industri dan perancis yang menghancurkan tatanan lama tetapi juga membentuk acuan dasar baru, revolusi industri menciptakan ekspansi ekonomi, revolusi perancis meletakkan kaidah pembangunan politik yang berdasarkan keadilan kebebasan dan demokrasi, teori fungsionalisme pemikiran Talcott Parsons ketika sebagai ahli biologi banyak pengaruh teori fungsionalisme baginya masyrakat manusia tak ubahnya eperti organ tubuh manusia oleh sebab itu masyarakat manusia dapat dikaji sebagi tubuh manusia In kelas : manusia modern

Penelitian lain dari teori modernisasi klasik inkeles memusatkan perhatiannya pada usaha menjawab dari dua pertanyaan pokok yang telah ia rumuskan yakni : apa akibat yang ditimbulkan oleh modernisasi terhadap sikap nilai pandangan hidup seeorang dan apakah Negara dunia ketiga akan memiliki sikap modern dari sebelumnya

BAB III

HASIL KAJIN TEORI MODERNISASI MCCLELLAND

 

 Motivasi berprestasi pertanyaan yang diajukan dalam penelitiannya pada penentu kelompok masyarakat mana yang sesungguhnya bertanggung jawab pada Negara dunia ketiga apakah kaum wira swastawan atau para politikus. SARBINI lepas landas Indonesia ; pada tahun 1989 Sarbini beraartikel dia menguji pertumbuhan ekonomi indonesia dengan pendekatan teori pertumbuhan Rostow : untuk mencapai lepas landas ekonomi Negara memrlukan tingkat investasi produktivitas paling,tidak sebesar 10% dari pendapatan nasional, pertumbuhan yang tinggi atas satu atau lebih cabang indusri sentaral, tumbuh berkembangannya kerangka social politik yang mampu menyerap perubahan dinamika masyarakat

BAB 4

 HASIL KAJIAN BARU TEORI MODERNISASI

 Tanggapan terhadap politik terdapat beberapa perdebatan terhadap hasil kajian teori modernisasi klasik dan hasil kajian baru modernisasi. Dove budaya local dan pembangunan di Indonesia

Kerangka teoritis

Hasil kajian antropologis mencoba melihat intraksi antara kerjasama kebijasaan budaya local di Indonesia.

 

Agama tradisional

Agam tradisional tidak memiliki status formal atau impirior. Sistem kepercayaan Indonesia memiliki bobot disebut sebagai agama dan secara impiris system ini mengandung system penegetahuan tentang dunia yang falid

 Ekonomi

Pada dasarnya pemerintah Indonesia meliahat ketiga usaha ekonomi sebagai usaha tidak efisiaen dan tidak dapat dikembangkan untuk mendukung moderisasi.

TANGGAPAN :
Pembahasan materi tentang teori moderinisasi, teori ketergantungan, dan system ekonomi dunia.Sudah sangat jelas dan komplek sehingga pemahaman dalam menganalisis masing – masing teori tersebut mudah hanya saja dari ketiga teori yang disambpaikan masih kurngnya memnerikan contoh dimana letak yang secara kongkrit dalam perbandingan kelemahan atau kelebihan teori tersebut..Teori moderinisasi,teori ketergantungan, dan teori system dunia memang memiliki kelemahan dan kelebihan dimana tinggal kita lagi memahami dan plikatifnya dalam implementasi. relevan atau tidak suatu teori terngantung pelaksana tersebut apabila tidak mampum implementasinya maka teori tersebut sangat kurang mengena walaupun hal tersebut salah terapan oleh pelaksanan. Proses transisi pada tiap tahapan selalu mengalami perubahan dan mempengaruhi tatanan social dan hal itu diterima sebgai kewajaran tinggal siapa lagi yang mampu mengambil peluan dan kelebihannya.

TUGAS RESUME “TEORI PEMBANGUNAN”

JUDUL BUKU : PERUBAHAN SOSIAL DAN PEMBENGUNAN PENGARANG BUKU : SUWARSONO DAN ALVIN BAGIAN : SATU HALAM: 1- 88

DISUSUN OLEH :DEDI E01107024

 

Tinggalkan komentar »