hobirsoleh

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

KEBERPIHAKAN ISALAM PADA YANG LEMAH

pada Mei 17, 2012

JUDUL   : SUATU PEMBESAN DALAM KONSEP ISLAM

Nama      : M. ABD. HOBIR S.

Nim         : B32209004

Jur           : PMI (6B)

 

A. Latar Belakang

Di dalam dinamika islam, pertama-tama kaum muslim diberi hak yang seluas-luasnya untuk menafsirkan Islam sebagai agama Universal sehingga jangkauan pesan Islam selalu bisa mengikuti bahkan mungkin melebihi tuntutan zamannya. Ini merupakan sebuah rahmat karena kaum muslim tidak akan diperhadapkan dengan sikap dilematis tetkala mereka harus hidup pada zaman yang berubah. Selanjutnya umat islam selalu diingatkan akan harus selalu menjaga risalah Islam yang paling dasar sebagai agama yang memiliki kepedulian untuk menegakkan amar makruf nahi mungkar dama wujud selalu memihak pada keadilan dan kebenaran. [1]

 

 

Kaum muslimin sesungguhnya dituntut secara intelekual tidak hanya mampu merespons perkembangan ilmu pengetahuan, tetapi harus menjaga tradisi pemikiran yang merupakan bagian tak terpisahkan dalam upaya menafsi makna baru dari semangat wahyu  akibat desakan sejarah umat manusia. Dalam keterakaitan dengan hal tersebut, teks agama harus didudukkan sebagai model interpretasi yang dikontruksi untuk membaca realitas. [2] Bila umat Islam tidak memiliki nilai kontruksi realitas kemungkinan besar  agama ini melihat kaumnya berada diluar nilai-nilai keislaman.

Pada tataran praksis umat beragama seharusnya mampu membacakan ulang terhadap teks agama dengan kunci-kunci yang membebaskan. Banyak yang tidak mampu membaca realitas sosial yang terjadi saat ini, sehingga meskipun mampu membaca realitas sosial, namun yang terjadi hanya keberpihakan pada kaum yang kuat. Banyak para kaum cendekiawan Islam dan akademisi Islam yang memiliki otoritas dalam merencanakan kebijakan namun hasil dari kebijakannya salah dalam berpihak.  Para pejabat Negara hampir 90% muslim tetapi tidak paham akan kemuslimannya yang memiliki amanah melindungi kelas bawah.

Memang semangat penyegaran dan pembaharuan terhadap alam pikiran maupun paham keislaman oleh karenanya meruapakn keniscayaan dan bagian dari Islam sebagai agama pembawa rahmat. Allah ada sumber kebenaran, namun tafsir mengenai kebenaran itu seluruhanya meruapakan bagian dari kemampuan manusia.[3]

Kita sebenarnya tidak tahu bagaimana beragama yang benar itu, termasuk menjadi orang Islam yang paling benar dan kesolehannya. Namun untuk merasakannya tergantung pada diri kita sendiri untuk mencari makna dan memilih keberpihakan pada kaum lemah. Setiap agama termasuk Islam, memang memberikan makna dan tuntunan moralitas kehidupan yang jelas. Misalnya, pentingnya cita-cita dan kesetaraan sebagai sesame hamba Allah. Bagitu juga tentang keadilan, baik di depan hukum maupun sosial keadilan sebagai suatu bentuk harapan ketiadaan penyimpangan. Jangan sampai terjadi exploitasi sumber kehidupan yang menyebabkan penderitaan yang berkepanjangan.

 

B. Konsep Islam Sebagai Agama Nilai

Nabi agung kita Muhammad SAW memperoleh pengalaman yang kelak akan memperoleh pengalaman yang akan mengubah dunia[4], dan saat ini telah terbukti kebenarannya. Setiap tahun pada bulan Ramadan beliau menyepi di Gua Hira’  di luar Mekah, di Hijaz Arab. Di sana Beliau mengerjakan shalt, puasa dan member  sedekah pada orang miskin.

Latar belakang filosofis Beliau menyendiri di Gua Hira’ lantaran keprihatinannya terhadap masyarakat arab waktu itu.[5]  Dalam dekadi terakhir menjelang, suku Quraisy dimana suku Beliau sendiri mengalami krisis sosial.[6] Krisis sosial di kalangan arab waktu itu juga tidak terlepas dari faktor-faktor tertentu. Faktor yang menyebabkan krisis sosial di kalangan suku Quraisy tersebut lantaran prestasi ekonomi yang diperoleh dari hasil perdangan di Negara sekitarnya. Mekah menjadi kota dagang baru, yang di dalamnya terdapat persaingan agresif untuk memperoleh kekayaan itu, dengan demikian rasa sosialis dan kesukuan memudar dan hilang. Jangankan membantu kaum lemah, kaum Quraisy saat ini menjadi gencar mencari uang dengan mengorbankan kelompok keluarga atau kabilah miskin dalam suku tersebut. [7] Dan walhasil Kegelisahan spiritual juga melanda Mekah dan Seluruh Jazirah Arab. Di seleurrh Arabia suku-suku berperang satu sama lain dalam lingkaran dendam. Di mata banyak orang arif Arabia, bangsa Arab tanpak seperti sebuah ras yang hilang.

Akan tetapi kondisi demikian berubah pada saat Nabi menerima wahyu pada malam ke-17 bulan ramadhan. Beliau di berikan wahyu oleh Allah SWT. yang  menurut sejarah Beliau kesakitan dan terasa berat sampai-sampai badanya keluar keringat dingin. Wahyu itu meruapakan jawaban dari semedinya tentang permasalahan yang melanda masyarakat Arab waktu itu. Nabi Muhammad merasakan beratnya wahyu yang diberikan Allah pada-Nya merupakan sebuah tugas yang berat dan sulit untuk dijalankan.

Ajaran yang disampai Beliau dari wahyu yang diterima-Nya bukan berupa doktrin baru tentang Tuhan[8], karena masyarakat Arab Quraisy kala itu mayoritas  telah percaya bahwa Allah (yang artinya Tuhan) telah menciptakan dunia ini dan akan mengadili manusia pada hari kahir kelak, sebagaimana yang diyakini oleh kaum Yahudi dan Kristen. Beliau tidak menganggap dirinya membawa agama baru, tetapi Dia mengembalikan kepercayaa lama pada Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Arab, yang belum pernah memiliki Rasul (utusan).

Rasul menegaskan bahwa menumpuk-numpuk kekayaan pribadi merupakan kesalahan besar dan berbagi kekayaan serta menciptakan masyarakat yang menghormati warga yang miskin dan lemahmerupakan kebajikan. Jika suku Quraisy tidak memperbaiki cara hidupnya maka, masyarakat Quraisy akan binasa, seperti kaum terdahulu.

Ajaran Beliau termaktub dalam Kitab Sucu Alquran diturunkan pada-Nya selama 21 tahun sesuai situasi dan kondisi yang ada untuk menjawab suatu krisis dan permasalahan masyarakat. Ajaran Beliau kemudian di sebut Islam (berserah diri) kepada kepada Allah SWT. dan menaati perintah-Nya agar manusia menjunjung tinggi keadilan, persamaan dan kasih saying dalam berprilaku satu sama lainnya. Sikap berserah diri tersebut diekspresikan dalam bentuk shalat, sujud merupakan symbol berserah diri dan symbol merndahkan diri, mengesampingkan keangkuhan dan sifat egois, serta menyadiri bahwa di hadapan Tuhan  mereka tidak ada artinya.  Mengangkat tangan juga symbol berserah diri dan menyapa orang lain, salam saat mengakhiri shalat merupakan symbol evaluative terhadap kondisi sosial di sekitar kita, adakah tetangga kita yang masih kekurangan atau memerlukan pertolongan dan mengacungkan jari telunjuk saat tahiyat pertama dan kedua merupakn symbol peng-Esaan Allah SWT. Wallahu A’lam.

Untuk memenuhi ajaran tegas Alquran Umat Islam  harus memberikan sebagian pendapatan mereka kepada kaum miskin dalam bentuk zakat. Mereka juga harus berpuasa selama sebulan di setiap bulan Ramadahn untuk mengingatkan diri akan penderitaan orang miskin yang tidak bisa makan atau minum setiap saat. Sebagaimana QS. At-Taubat ayat 60 berikut;

* $yJ¯RÎ) àM»s%y‰¢Á9$# Ïä!#ts)àÿù=Ï9 ÈûüÅ3»|¡yJø9$#ur tû,Î#ÏJ»yèø9$#ur $pköŽn=tæ Ïpxÿ©9xsßJø9$#ur öNåkæ5qè=è% †Îûur É>$s%Ìh9$# tûüÏB̍»tóø9$#ur †Îûur È@‹Î6y™ «!$# Èûøó$#ur È@‹Î6¡¡9$# ( ZpŸÒƒÌsù šÆÏiB «!$# 3 ª!$#ur íOŠÎ=tæ ÒO‹Å6ym ÇÏÉÈ  

Artinya: “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

Oleh karena itu, keadialan sosial merupakan perihal yang sangat penting dalam Islam. Umat Islam sebagaimana wahyu yang disampaikan Allah pada Rasul-Nya adalah untuk membangun masyarakat (umat) yang dicirikan dengan amal shaleh dan kasih saying beruapa pembagian kekayaan secara adil. Ini jauh lebih penting daripada doctrinal tentang Tuhan. Kesejahteraan politik dan sosial umat memiliki nilai yang sangat penting bagi umat Islam. Jika umat makmur, itu merupakan tanda bahwa umat Islam telah hidup sesuai dengan kehendak Allah SWT.[9]

C. Emansipasi Wanita Sebuah Wujud Keteladanan Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad  terkenal kelembutan hati-Nya terhadap Istri-istrinya, Beliau rajin membantu sehari-hari pekerjaan rumah tangga-Nya, menambal sendiri baju-baju-Nya dan menginginkan kebersamaan dengan istri-istri-Nya. Beliau sering mengajak salah satu dari istri-Nya dalam ekspedisi-ekspedisi, berkonsultasi dan mempertimbangkan saran mereka dengan serius. Dalam suatu kesempatan, istrinya yang paling pandai Ummu salamah memntantu Nabi mencegah pembangkangan.[10]

Emansipasi wanita meruapakn suatu proyek yang didukung oleh Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an telah memberi hak pada kaum wanita tentang warisan dan perceraian kesamaan drajat di sisi Allah SWT. Al-Qur’an menjelaskan bahwa pria dan wanita sebagai mitra di hadapan Tuhan dengan tugas dan tanggung jawab yang sama. Sebagaimana tertera dal QS. Al Ahzab ayat 35 berikut.

¨bÎ) šúüÏJÎ=ó¡ßJø9$# ÏM»yJÎ=ó¡ßJø9$#ur šúüÏZÏB÷sßJø9$#ur ÏM»oYÏB÷sßJø9$#ur tûüÏGÏZ»s)ø9$#ur ÏM»tFÏZ»s)ø9$#ur tûüÏ%ω»¢Á9$#ur ÏM»s%ω»¢Á9$#ur tûïΎÉ9»¢Á9$#ur ÏNºuŽÉ9»¢Á9$#ur tûüÏèϱ»y‚ø9$#ur ÏM»yèϱ»y‚ø9$#ur tûüÏ%Ïd‰|ÁtFßJø9$#ur ÏM»s%Ïd‰|ÁtFßJø9$#ur tûüÏJÍ´¯»¢Á9$#ur ÏM»yJÍ´¯»¢Á9$#ur šúüÏàÏÿ»ptø:$#ur öNßgy_rãèù ÏM»sàÏÿ»ysø9$#ur šúï̍Å2º©%!$#ur ©!$# #ZŽÏVx. ÏNºtÅ2º©%!$#ur £‰tãr& ª!$# Mçlm; ZotÏÿøó¨B #·ô_r&ur $VJ‹Ïàtã ÇÌÎÈ  

Artinya:  “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin[11], laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”.

Kaum wanita dalam umat pertama di madinah ikut ambil sepenuhnya dalam kehidupan masyarakat, dan sebagian sebagaimana kebiasaan orang Arab, kaum wanita ikut berjuang di medan perang. Mereka tidak pernah merasa bahwa Islam adalah agama yang menindas, meskipun di kemudian hari, tidak seperti yang terjadi pada agama Kristen.

 

D. Kiri Islam Sebagai Agama Revolusi dan Sejarahnya

Berawal dari pemikiran Al-Afgani yang berpendapat bahwah Umat Islam menurutnya ada dua yaitu: penguasa dan yang dikuasai, pemimpin dan rakyat, tinggi dan rendah.[12] Perhatian kita saat ini adalah mewujudkan sisi pertamanya dan menghilangkan sisi keduanya. Pemihakan kiri Islam ada pada sisi pertamanya dan menyuarakan “mayoritas yang diam” di antarau Umat Islam, membela kepentingan seluruh umat manusia, mengambil hak-hak kaum miskin dari tangan-tangan orang kaya, memperkuat orang-orang yang lemah dan menjadikan manusia sama-setara, tak ada perbedaan antar suku kecuali ketaqwaan dan amal shaleh.

Nama Kiri Islam merupakan sebuah sebutan atau jargon dalam gerakan revolusioner kepemihakan pada kaum lemah. Kiri Islam juga bisa di sebut Yaqdha Al-Islam yang merujuk pada kebangkitan Islam. Kiri Islam bermaksud mentransformasikan “kesadaran individual” menjadi “kesadaran kolektif”. Dalam pandangan Islam Kiri ini, memerlukan yang namanya Slogan ayat-ayat Al-Qura’an yang mampu menggugah umat Islam untuk bangkit hak-haknya dan membela kepentingan-kepentingan rakyat. Slogan tersebut dimaksudkan untuk mewujudkan impian-impian harapan dalam bentuk material-spiritual. Kebanyakan fatwa para cendekiawan muslim berkhotbah di Masjid menjual ayat-ayat Tuhan tetapi hanya menyentuh pada aspek knowledge saja tidak sampai pada aspek action-nya.

Pemikiran Kiri Islam sebagai revolusioner dalam gerakan pembaharuan untuk menyamakan derajat kaum tertindas “kelas bawah” dengan kaum elit “kelas atas”. Munculnya kaum kapitalisme di zaman Nabi Muhammad SAW. terlihat jelas terhadap kekuasaan majikan dan pada budak-budaknya, ini meruapakan bentuk pratik kapitalisme paling puncak dimana manusia sudah tidak memiliki rasa kebebasan untuk melakukan sesuatu yang mereka inginkan. Allah pun sebagai Tuhan Yang Maha Esa tidak pernah memaksa umat manusia untuk menghambakan dirinya kepada-Nya. Nah, manusia yang sesungguhnya di ciptakan Allah berprilaku laksana Tuhan dengan menopoli hak-haknya. Kaum Kapitalsime hanya melemahkan masyarkat di sekelilingnya yang semakin lemah dan bertambah lemah. Di dalam Al-Qur’an Al-Qhasash ayat 25 melawan tentang penindasan, ayat menjadi pengguah Islam Kiri untuk mervolusi praktik-prakti penindasan ini, ayatnya sebagai berikut;

߉ƒÌçRur br& £`ßJ¯R ’n?t㠚úïÏ%©!$# (#qàÿÏèôÒçGó™$# †Îû ÇÚö‘F{$# öNßgn=yèøgwUur Zp£Jͬr& ãNßgn=yèôftRur šúüÏO͑ºuqø9$# ÇÎÈ  

Artinya: “dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)[13],

Kiri Islam lahir setelah berbagai pembaharuan masyarakat dalam kurun waktu dan generasi yang hanya menghasilkan sebuah keberhasilan relative, bahkan sebagiannya gagal, terutama dalam pengentasan keterbelakangan. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, berbagai tendensi bahwa Islam hanya sekedar ritus dan dan kepercyaan Ukrowi, Mereka terjebak dalam fanatisme primordial, kejumudan dan berorientasi kekuasaan, selain itu juga disibukkan oleh perspektif ketuhanan dan citraan yang statis terhadap relaitas sementara perspektif citraan kemanusiaan dan sejarah serta gerka masyarakat di tinggalkan. [14] kedua, liberalism yang yang pernah berkuasa sebelum masa-masa revolusi terakhir initernyata didekte oleh kebudayaan barat, berperilaku seperti colonial dan hanya melayani klas-klas elit yang menguasai asset Negara. Ketiga, Marxisme yang berprentensi mewujudkan keadilan sosial dan menentang kolonialisme, ternyata tidak diikuti dengan pembebasan rakyat dan pengembangan khazanah mereka sebagai energy untuk mewujudkan tujuan-tujuan kemerdekaan nasional. Keempat, Nasionalisme revolusioner yang berhasil melakukan perubahan-perubahan radikal dalam system politik dan ekonomi tidak berumur lama, banyak mengandung kontradiksi dan mempengaruhi kesadaran mayoritas masyarakat.

Kiri Islam berakat dari peda pemikiran Islam revolusioner Ali syari’ati dan upayanya membagun anatomi revolusi meruapakn fajar pembuka revolusi Islam Iran di bawah komando Imam Khomeini. Sebagaimana Ia juga berakar dari pada gerakan Islam Kontemporer seperti Sunisiyah, Omar Mokhtar di Libya, Mahdiisme di Sudan, Ikatan Ulama’ Aljazair, Abdul Hamid bin Badis, Abdul Qadir Audah yang menggabungkan revolusi, nyata menentang imperialism dan revolusi pemikiran untuk mengentas keterbelakangan. Kiri Islam memfasiltasi gerakan-gerakan revolusioner Islam Kontemporer dan menteorisasikannya.

Kiri Islam mengikuti paradigm fikih dan usul fiqih Imam Maliki karena ia menggunakan pendekatan kemaslahatan (maslih mursalah) serta membela kepentingan umat muslim. Kiri Islam bukanlah madzhab fiqih baru, namun ia memlih di antra berbagai madzhab dan berpendapat bahwa malikiyah lebih dekat dengan realitas dan memberikan keberanian kepada mujahid untuk mengambil keputusan hukum berdasarkan kemaslahatan umum, bukan fiqih Hanafi yang hanya dominan pada dimensi kewajiban atau syafi’iyah yang hanya mencoba memadukan maliki dan hanafi. Dalam filsafat, Kiri Islam mengikuti paradigm Ibn Rusyd. Ia menghindari illuminasi dan metafisika, dengan menggunakan rasio untuk menganilisi hukum alam. Kiri Islam menolak tasawuf dan memandangnya sebagai peyeban dekandensi kaum muslimin, yang ditengarai oleh Ibn Taimiyah, Al-Kawakibi sebagai orang yang sok suci. Tasawuf sesungguhnya tembuhsebagai gerakan anti kemewahan, arogansi, gila kekuasaan, dan konpetisi duniawi setelah perlawanan-partai-parta oposisi dari imam-imam ahli bait dimualai saat Ali dan Hussein RA mengalami kekalahan. Maka ketika kemudian pemerintahan Dinasti Ummayah mulai mapan dan ribuan kaum muslimin yang dipimpin oleh para Imam dan Shabat gugur, maka orang-orang tulus meninggalkan gelimang kehidupan duniayang dipandang sebagaiperpecahan dan pertumpahan darah. [15]

 

E. Hak Asasi Manusia

Di dalam Islam, konsep HAM adalah ya paling utama dan pertama sebagai faktor, terdapat pada ayt-ayat yang mengandung nilai-nilai persamaan atau kesamaan. Terdapat dua petunjuk garis bersal dari Al-Qur’an mengenai das sesame ar dari hak manusia.[16]

Pada dasarnya Allah memang menciptakan manusia dalam suatu perbedaan kelamin,suku dan ras. Perbedaan ini menjadi titik tolak standard agar sesama manusia hendaknya saling mengal dan memahami.pengnalan dan memahami akan terjadi bila diantara satu dengan yang lainnya tidak mempersoalkan perbedaan melainkan saling mepertemukan dan mendekatkan kesamaan tersebut. Tidak ada perbedaan di hadapan Allah kecuali taqwanya, QS. Al-Hujurat 13;

$pkš‰r’¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu‘$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& y‰YÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ׎Î7yz ÇÊÌÈ  

Artinya: “ Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Selanjutnya ketertindasan manusia penyebabnya adalah manusia itu sendiri Allah telah menganugrahkan kemuliaan kepada manusia jelas tidak dapat dikaitkan dengan perilaku-perilaku aniaya manusia. Mengurangi hak-hak orang lain dilarang dengan tegas oleh Al-Qur’an. Apalagi melanggarnya dan membuat kerusakan di muka bumi, semisal penindasan terhadap kaum lemah seperti petani yang dipermainkan oleh kalangan elit. Keterangan di dalam QS. Al-Syuara’ 183;

Ÿwur (#qÝ¡y‚ö7s? }¨$¨Z9$# óOèduä!$u‹ô©r& Ÿwur (#öqsW÷ès? ’Îû ÇÚö‘F{$# tûïωšøÿãB ÇÊÑÌÈ  

Artinya:  “dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan;”

Hak seseorang dalam Islam berkaitan erat dengan keadilan. Salah satu pengertian adil adalah ketika orang lain tidak diremehkan, dicederai, aatu dipasung kebebasannya untuk mendapatkan kesempatan berusaha, penjelasannya terkandung dalam QS. Al-Najm 39;

br&ur }§øŠ©9 Ç`»|¡SM~Ï9 žwÎ) $tB 4Ótëy™ ÇÌÒÈ  

Artinya:  “dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”,

Begitu pula mengenai hak mendapatkan kesejahteraan  yang merata, QS. Ad-dzariyat 19. Sebagai berikut;

þ’Îûur öNÎgÏ9ºuqøBr& A,ym È@ͬ!$¡¡=Ïj9 ÏQrãóspRùQ$#ur ÇÊÒÈ    

Artinya:  “dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian”.[17]

Islam menjunjung tinggi keberpihakan terhadap HAM karena prinsip dalam hak-hak tersebut adalah kemaslahatan manusia itu sendiri melalui bentuk-bentuk kebebasan kreatif yang positif. Misi Islam adalah memanusiakan manusia, bukan penindsan pada manusia. Rasullah member contoh bagaimana Beliau memperjuangkan harkat dan martabat serta kaum perempuan yang kala itu tergolong kaum tertindas, melindungi kaum yang lemah, menunjukkan penghargaan terhdap komunitas yang lain tertera dalam piagam madinah, menegakkan aturan sosial yang disepakati bersama. Hal tersebut meruapak suatu bukti keberpihakan Islam pada kaum tertindas dan memberikan tempat seluas luasnya bagi kemanusiaan.

F. Pendidikan Islam Sebagai Bentuk Pembebasan

Pendidikan yang dikaitkan dengan paradigm pembebasan masa skontemporer ini, awalnya dari para pemikir Katolik di Amerika Latin. Gagasan mereka dirangkai dalam alur yang sistematis dan mendunia,akhirnya umat Islam terkena dampaknya. Ini bukan berarti bahwa dalam ajaran Al-Qur’an kita tidak menjumpai gagasan radikal revolusioner untuk bekerja mengubah wajah kenyataan. Ajaran ini banyak sekali dijumpai dalam Al-Qur’an tetapi belum mampu dirumskan secara sistematis atau canggih menurut bahasa Dunia.[18]

Fenomena tersebut merupan bagian kemandulan inelektual umat Islamdalam kurun waktu yang sangat panjang. Akbibatnya kita masih saja sebagai umat “konsumen” terhadap gagasan-gasan umat lain. posisi semacam ini tidak sesuai dengan kebesaran dan keagunan Al-Qur’an. Oleh karena itu posisi demikian ini secara intelektual, harus secepatnya dirubah melalui sekolah-sekolah “bengkel-bengkel” kerja inteletual yang bernialai strategis untuk memenangkan masa depan, berorientasi pada tuntutan zaman dan tetap guna. Jalan ini sebenarnya terbuka lebar untuk kita umat Islam, tetapi pertanyaannya apakah kita mau?. Jadi yang dibutuhkan adalah kemauwan dan kesungguhan dalam mencapai cita-cita. Dr. Paulo Freire seorang cendikiawan Katolik Brazilia mengatakan “pendidikan yang dibutuhkan sekarang adalah pendidikan yang dapat menempatkan manusia pada posisi sentral dalam setiap perubahan yang terjadi dan mampu pula mengarahkan serta mengendalikan perubahan itu. Dia mencela pendidikan yang memaksa manusia pada keputusan-keputusan orang lain.[19] pendidikan yang di usulkan adalah pendidikan yang dapat ‘menolong manusia untuk meningkatkan sikap kritis terhadap dunia dan dengan demikian mengubahnya”.[20] Ia memperingatkan akan bahaya budaya industry, sekali pun berhasil meningkatkan standard hidup, tetapi dalam waktu yang sama budaya itu cendrung menempatkan manusia pada posisi tercabut dari akar kemanusiaannya.[21]

Sebenarnya gagasan di atas adalah muntuk menjawab seuah pertanyaan kebebasan untuk apa?. Jawaban pertanyaan tersebut adalah kebebasan dari budaya verbal yang serba naïf dan mebosankan; bebas dari budaya otoriter yang mendekte dan memerintah. Semua ini meruapakan budaya yang mematikan daya kritis dan kreatif manusia dan sebai dampak adalah ketertindasan.[22]

Bila umat Islam memenng mau maju dan merebu peranan sejahnya kembali sebagai revolusioner, perma yang harus dibenahi adalah pendidikan Islam, khususnya pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi harus mampu menciptakan lingkungan akademis yang kondusif bagi lahirnya cendekiawan yang berfikir kreatif, otentik dan orisinal bukan cendekiawan “kosumen” atau “palgiat” yang berwawasan sempit dan verbal. Dan sebagai bentuk wadah yang tidak kalah pentingnya adalah pesantren, tempat dimana para kader Islam menimba ilmu dasar untuk menuju tingkat perguruan tinggi. Di pesantren santri dengam mudah dikontrol dan dikendalikan untuk menanamkan jiwa spirit pembangungan, keberpihakan pada kaum yang lemah, dan mudah dalam pendoktrinal bahwa pentingnya ilmu teoritis dan praktis.

Perlu kita ingat bahwa pendidikan meruapakan bagian terpenting dari kehidupan yang sekaligus membedakan manusia dengan hewan. Hewan juga belajar tetapi menggunakan instingnya lain halnya dengan manusia yang menggunakan akal-pikirannya untuk “pendewasaan” guna menuju kehidupan yang lebih berarti.

Pendidikan klasik secara umum fmemiliki fungsi yang meliputi tiga pranata; pertama, menyiapkan generasi muda untuk memegang peranan-peranan tertentu dalam masyarakat di masa akan datang. Kedua, trnasformasi pengetahuan sesuai dengan peranan yang diharapkan. Ketiga, menstransfer nilai-nilai dalam rangka memelihara keutuhan dan kesatuan masyarakat sebagai prasayarat kelangsungan hidup masyarakat.[23] Dalam butir kedua dan ketiga memberikan pengertian bahwa pendidikan tidak semata-mata hanya transfer knowlwdge tetapi sebagai transfer value. Dengan demikian pendidikan dapat menjadi helper bagi umat manusia.

Konsepsi pendidikan model Islam, tidak hanya melihat bahwa pendidikan itu sebagai upaya “mencerdaskan” semata (pendidikan intelek dan kecerdasan), melainkan sejalan dengan konsepsi Islam tentang manusia dan hakikat eksistensinya. Ajaran-ajaran Silam banyak yang relevan dengan prinsip-prinsip pendidikan. Secara deduktif misalnya, dari Al-Qur’an dan hadist menempatkan manusia pada posisi penting dan relevan dengan pendidikan;[24] manusia itu mahkluk bearakal, mahluk yang dapat dididk serta dapat menbaca, mahkluk yang dapat mengutarakan idenya, mahkluk  yang dapat berhitung.

Konsepsi Islam tentang pembebasan sesuai dengan misi yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. yaitu  ajaran “tauhid” sebagai salah satu ajaran pokok ke-Islaman, dengan jelas menunjukkan tidak ada perhambaan/ penyembahan kecuali kepada Allah Swt. Termasuk perbuadakan di Zaman  Nabi Pun dihapuskan secara perlahan karena memang tidak sesuai dengan ajaran Islam yang membebaskan umat manusia dari segala hak yang diberikan Allah pada hambanya. Bila manusia telah mengikrarkan dua kalimat syahadat berarti melepaskan diri dari dari belenggu subordinasi apapun. Dengan demikian, sifat bawaan seperti agresif, rakus, egois, gandrung pada kesenangan, telah diatur sedmikian rupa oleh Islam berdasarkan ketetapan Allah. Inilah pokok misi Islam.[25]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

–          Abdurrahman, Moeslim. Islam yang Memihak. (Yogyakarta: Lkis,2005)

–          Amstrong, Karen. Sejarah Islam Singkat. (Yogyakarta: Elbanin Media Jakarta, 2008)

–          Anwar, Chairil. Islam Dan Tantangan Kemanusiaan Abad XXI. (Yogyakarta; Pustaka Pelajar, 2000)

–          Fakih, Mansour. Analisi Gender & Transformasi Sosial. (Yogyakart: Pustaka Pelajar. 2008

–          Freire,Paulo. Pendidikan sebagai praktik pembebasan. (Jakarta: Gramedia, 1984)

–          Haryono, edi. Memerdekakan Rakyat Memerdekakan Diri  Sendiri. (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2000)

–          Ilyas, Hamim. Islam dan Transformasi Budaya. (Yogyakarta: Lagung Pustaka.2009)

–          Langgulung, Hasan. Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam. (Bandung: Al Maarif, 1980)

–          Maarif,  A. Syafii . Pendidikan Islam di Indonesia Antara Cita danFakta. (Yogyakarta: PT Tiara Wacana. 1991),

–          Shimogaki, Kazuo. Kiri Islam. (Yogyakarta: LKis,1993)

–          Usman, Achmad. Hadist Ahkam. (Surabaya: Al-Iklas, 1996)

 

 

 

 

 


[1] Abdurrahman, Moeslim. Islam yang Memihak. (Yogyakarta: Lkis,2005), hal.v

[2] Ibid.hal. VI

[3] Ibid VII

[4] Pada bulan suci Ramadhan 610 Masehi, di gua hira’

[5] Sekitar tahun 570 Masehi

[6] Amstrong, Karen. Sejarah Islam Singkat. (Yogyakarta: Elbanin Media Jakarta, 2008), hal.1

[7] Ibid. hal.2

[8] Ibid. hal. 3

[9] Ibid. hal. 7

[10] Ibid. hal.20

[11] Yang dimaksud dengan Muslim di sini ialah orang-orang yang mengikuti perintah dan larangan pada lahirnya, sedang yang dimaksud dengan orang-orang mukmin di sini ialah orang yang membenarkan apa yang harus dibenarkan dengan hatinya.

[12] Shimogaki,Kazuo. Kiri Islam. (Yogyakarta: LKis,1993), hal.86

[13] Maksudnya: negeri Syam dan Mesir dan negeri-negeri sekitar keduanya yang pernah dikuasai Fir’aun dahulu. sesudah kerjaan Fir’aun runtuh, negeri-negeri ini diwarisi oleh Bani Israil.

 

[14] Shimogaki,Kazuo. Kiri Islam.  hal.91

[15] Ibid. hal.100

[16] Hamim Ilyas. Islam dan Transformasi Budaya. (Yogyakarta: Lagung Pustaka.2009), hal.117

[17] Orang miskin yang tidak mendapat bagian Maksudnya ialah orang miskin yang tidak meminta-minta.

 

[18] A. Syafii  Maarif,. Pendidikan Islam di Indonesia Antara Cita danFakta. (Yogyakarta: PT Tiara Wacana. 1991), hal. 21

[19] Paulo Freire. Pendidikan sebagai praktik pembebasan. (Jakarta: Gramedia, 1984), hal.34

[20] ibid

[21] Ibid

[22] A. Syafii  Maarif,. Pendidikan Islam di Indonesia Antara Cita danFakta.hal.24

[23] Hasan  Langgulung. Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam. (Bandung: Al Maarif, 1980), hal. 92

[24] A. Syafii  Maarif,. Pendidikan Islam di Indonesia Antara Cita danFakta.hal. 29

[25] Ibid. hal. 31


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: