hobirsoleh

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

SOSIOLOGI KRITIS

pada Mei 17, 2012

 

 

TEORI KRITIS DAN SEJARAH INTELEKTUAL

Oleh : Hobir Soleh[1]

  1. 1.      LATAR BELAKANG

Teori Kritis merupakan salah satu dari teori sosiologi, yang dikenal dengan teori kritik masyarakat. Teori ini bermaksud untuk mengubah masyarakat baik secara ontologis, epistemologis maupun aksiologis. Teori kritis secara dialektis merupakan perkembangan lanjut dari teori tradisional. Teori kritis dikaji melalui dialektika antara teori kritis dengan teori tradisional, di samping itu ia juga bermaksud membongkar kedok-kedok teori tradisional mengenai pertautan pengetahuan dengan kepentingan.

Teori tradisional dibangun oleh Aguste Comte, Rene Descartes dan sebagainya, maka embrio teori kritis dapat ditelusuri sejak Immanuel Kant, G.W.F Hegel, Adorno, awal sampai dengan pewaris dan pembaharunya Horkheimer dan Jurgen Habermas. sampai pada kesimpulan bahwa komunikasi yang bebas menjadi bagian integral pengembangan teori kritis, manakala ia menghendaki emansipatoris daripadanya. Dengan menyimak realitas empirik dalam bentuk krisis: ekonomi, politik dan kepercayaan.

  1. 2.      AKAR SEJARAH TEORI KRITIS

Teori kritis berkembang secara pesat bersama dan berada dalam Frankfurt School. Pelopor sekolah Frankfurt Felix J. Weil seorang sarjana politik. Mendapat warisan dari ayahnya Herman Weil, ia menghimpun cendekiawan untuk menyegarkan kembali ajaran Marx sesuai kebutuhan saat itu. Cendekiawan yang tergabung antara lain Friederickh Pollock ahli ekonomi, Theodore W.  Adorno, musikus, ahli sastra dan filsuf; Herbert Marcuse, murid Heidegger; Erich Fromm ahli psikoanalisa Freud; Walter Benyamin kritikus sastra, Max Horkheimer, Jurgen Habermas dan sebagainya.

Sejak awal secara eksplisit sekolah Frankfurt menempatkan ajaran Marxisme sebagai titik tolak pemikirannya (Connerton, 1976; Suseno, 1977; Sindhunata, 1983; Hardiman 1990.) Walaupun sebagaimana diketahui melalui sekolah ini pula ajaran-ajaran Marx diperbarui dan bahkan ditinggalkan. Disamping itu sekolah Frankfurt juga men-dasarkan diri pada perspektif idealisme Jerman yang dirintis Immanuel Kant (kritisisme), memuncak pada ajaran Hegel melalui dialektikanya serta ketika Horkheimer sebagai pimpinan Frankfurt School teori kritis mendapatkan penyegaran melalui ajaran Freud dan Habermas sendiri seperti Althuser yang memperbaharui teori Marx dengan konsentrasi pada ideologi (Suseno, 1977).

Berpikir kritis memerlukan: pertama, berpikir kritis adalah berpikir secara dialektis, berpikir dialektis adalah berpikir secara totalitas. Totalitas bukan berarti semata-mata keseluruhan di mana unsur-unsurnya yang bertentangan berdiri sejajar. Tetapi totalitas itu berarti keseluruhan yang mempunyai unsur-unsur yang saling be-rnegasi (mengingkari dan diingkari), saling berkontradiksi (melawan dan dilawan), dan saling bermediasi (memperantarai dan diperan-tarai). Pemikiran dialektis menekankan bahwa dalam kehidupan yang nyata pasti unsur-unsurnya saling berkontradiksi, bernegasi dan bermediasi. Pemikiran dialektis menolak kesadaran yang abstrak, misalnya individu dan masyarakat. Menurut pemikiran dialektis, individu selalu saling berkontradiksi, bermediasi dan bernegasi terhadap masyarakat (Sindhunata, 1983).

Berpikir kritis adalah berpikir yang dialektis, berpikir dialektis adalah berpikir dalam perspektif empiris historis antara kesatuan teori dan praksis, namun pengertian teori dan praksis ini sering menjadi persoalan). Hal ini jelas berbeda dengan orang yang salah paham bahwa persoalan teori dan praksis mesti dipikirkan sebagai persoalan bagaimana agar suatu teori itu dapat diaplikasikan pada kehidupan praktis, sebab pengertian itu seakan-akan menganggap bahwa teori dan praksis sebagai dua bidang yang berbeda, pada hal pengetian teori dan praksis hanyalah dua dimensi dari manusia yang satu dan sama, sehingga satu sama lain memang saling bisa dipisahkan dan saling mengecualikan. Pemikiran dialektis tidak mengandaikan adanya kesenjangan antara teori dan praksis yang harus dijembatani melainkan bagaimana suatu teori dapat membuahkan praksis (Sindhunata,1983).

Konsep utama teori kritis di samping bersumber pada Kant, Hegel juga pada Marx tentang kritik ekonomi politik Marx. Menurut penganut Frankfurt school kritik ekonomi politik Marx harus diubah menjadi kritik sosiologi politik. Sebagaimana pendirian Marx bukanlah kesadaran manusia yang menentukan keadaan mereka melainkan sebaliknya keadaan sosiallah yang menentukan kesadaran mereka.

Kritik Ideologi melalui Freud. Erich Fromm lah yang memasukkan psikoanalis Freud ke dalam ajaran teori kritis. Menurut Fromm kritik ideologi Marx membutuhkan psikoanalisa, sebab psikoanalisa dapat mempertajam kritik ideologi Marx. Menurut Marx ideologi itu adalah kesadaran palsu, maksudnya ideologi tidak menggambarkan situasi nyata manusia secara apa adanya. Ideologi menggambarkan keadaan secara terpuntir atau terbalik.

 

 

 

 

  1. 3.      TEORI TRADISIONAL DAN TEORI KRITIS

Harus dipahami bahwa berdasarkan dialektika, tidak akan lahir teori kritis, manakala tidak ada teori tradisional (Horkheimer dalam Connerton, 1976). Tetapi sebagai kelebihan pula bahwa berkat dialek-tika, maka teori-teori atau pikiran-pikiran baru dapat diformulasikan dengan jalan mengatasi teori yang telah ada. Teori tradisional  sebagaimana yang diserang oleh teori kritis pada dasarnya juga teori positivistik. Secara tradisional bahwa teori adalah jumlah keseluruhan dari proposisi-proposisi tentang suatu subjek.

Teori tradisional bertujuan untuk membangun konsep-konsep umum mengenai semua hal, sebagaimana nampak dalam tujuannya yang diformulasikan a universal systematic science.Teori tradisional bersifat netral, teori tradisional tidak bermaksud mempengaruhi fakta yang hadir dihadapannya, sebab ia memang memandang fakta secara objektif, artinya fakta sebagai fakta lahiriah apa adanya (Sindhunata, 1983:73).

Berdasarkan argumen-argumen teori tradisional tersebut Hork-heimer melalui teori kritis menuduh bahwa teori tradisional bersifat ideologis.

Teori kritis memandang bahwa ke-netral-an teori tradisional sebagai kedok pelestarian keadaan yang ada. Pada hal menurut teori kritis memandang bahwa realitas yang ada itu menindas, dan semu, oleh karena itu realitas yang menindas dan semu itu harus disibak, dibongkar dengan jalan mempertanyakan mengapa sampai terjadi realitas yang demikian. Dalam hal ini Ignas Kleden menyatakan: … bukan saja teori yang menentukan praktek, tetapi pun praktek dapat menentukan teori. Bukan hanya terhadap nilai dan ideologi ilmu pengetahuan tidak bisa bersikap netral, tetapi pun terhadap praktek dan kepentingan praktis pun ilmu pengetahuan tak dapat bersikap netral.

Menurut teori kritis, teori tradisional itu ahistoris. Sebab teori tradisional memutlakkan ilmu pengetahuan sebagai satu-satunya unsur yang bisa menyelamatkan masyarakat (cf. pandangan aliran fungsional). Dengan jalan memutlakkan ilmu pengetahuan teori tradisional lupa akan hakikatnya masyarakat yang dalam prosesnya adalah historis.

Teori tradisional memisahkan teori dan praksis, maksudnya teori tradisional membiarkan fakta secara lahiriah. Hal ini berarti bahwa teori tradisional tidak memikirkan peran dan aplikasi praktis dari sistem konseptual atau teoretisnya. Menurut teori kritis, memisahkan teori dengan praksis, teori tradisional hanya berpikir teori demi teori (cf. ilmu untuk ilmu; seni untuk seni dsb). Dengan demikian teori tradisional menjadi ideologis. Sebab ia tidak memikir-kan bagaimana teorinya dapat menghasilkan kesadaran yang mem-buahkan tindakan untuk mempengaruhi bahkan mengubah fakta atau realitas.

Menurut Horkheimer teori tradisional tidak mungkin menjadi teori emansipatoris, bahkan teori tradisional dengan sifatnya yang ideologis justru melestarikan keadaan yang ada. Jadi kenetralan nya justru dengan diam-diam membenarkan keadaan yang ada, pada hal keadaan yang ada adalah membelenggu dan menindas manusia (dehumanisasi).

Horkheimer menegaskan bahwa teori tradisional tidak mungkin menjadi teori emansipatoris apabila tidak melakukan pembaharuan-pembaharuan. Agar teori kritis dapat bertindak emansipatoris, maka menurut Horkheimer: (1) teori kritis harus selalu curiga dan kritis terhadap masyarakat;(2) teori kritis berpikir secara historis; (3) teori kritis tidak memisahkan teori dengan praxis.

Mengapa teori kritis harus selalu curiga dan kritis terhadap masyarakat? Menurut Horkheimer agar teori dapat menjadi emansi-patoris, maka ia harus kritis. Sebagaimana Marx dapat menggunakan konsep kritis ini, maka Horkheimer juga memandang bahwa kritik harus dilontarkan kepada masyarakat, ini semata-mata agar teori kritis benar-benar bersifat emansipatoris. Sebagai contoh terhadap kategori-sasi ini produktif atau tidak, berguna atau tidak, layak atau tidak, bernilai atau tidak dan sebagainya.

  1. 4.      ILMU PENGETAHUAN DAN KEPENTINGAN   

Teori kritis mempunyai pandangan yang khas sebagai upaya untuk menyerang pandangan yang telah ada. Pandangan lama mengatakan bahwa Ilmu pengetahuan harus dibangun dengan dasar objektivitas, bebas nilai (value free), netral sebagaimana doktrin positivisme. Di balik selubung objektivitas itu ilmu-ilmu tersembunyi kepentingan-kepentingan kekuasaan. Pengetahuan kita tidak ditentu-kan oleh objek, tapi subjek yang menghasilkan pengetahuan itu (Sindhunata, 1983:31). Di samping itu perlu disadari pula bahwa di samping pengetahuan yang telah diformulasikan, masih ada juga Segi Ilmu Pengetahuan yang tak terungkap (Polanyi,1996).

Mengenai bebas nilai , teori kritis memandang bahwa ilmu pengetahuan dapat berkembang atau tumbuh subur bersama dengan kepentingan fundamental yang ada di dalamnya (Suseno, 1992:183). Seperti halnya pendapat Helnest dalam (Kleden, 1987:21) bahwa sejauh menyangkut dasar dan dampak sebuah teori ilmu sosial, maka tak ada satu disiplin ilmu-ilmu sosial pun yang dapat bebas nilai (value free), bebas kepentingan (interest-free), dan bebas kekuasaan (power-free). Habermas telah melakukan apa yang dapat disebut kritik ideologi dan kritik ilmu pengetahuan melalui kritik pengetahuan. Bagi Habermas antara pengetahuan, ilmu pengetahuan dan ideologi merupakan tiga hal yang saling bertautan dan ketiganya berkaitan pada praksis kehidupan sosial manusia.

Menurut Habermas, segala sesuatu tindakan manusia didasar-kan pada tiga kepentingan dasar. Pertama, kepentingan teknis, yaitu untuk menguasai alam. Kedua, kepentingan praktis, untuk berkomuni-kasi. Ketiga, kepentingan emansipatoris untuk menentang segala paksaan (Suseno, 1977:123). Di dalam kehidupan masyarakat modern bidang kehidupan manusia seolah-olah demi kepentingan teknis saja. Oleh karena itu untuk mendobraknya dapat dilaksanakan dengan refleksi. Melalui refleksi ini sejarah pengalaman penderitaan manusia dapat disadari, utamanya kesadaran emansipatoris.

Agar teori kritis dapat bersifat emansipatoris, maka ia harus mengarahkan masyarakat komunikatif (Hardiman, 1993), masyarakat yang demikian harus memenuhi persyaratan-persyaratan komunikasi yang bebas dan terbuka. Kiranya menjadi tepat, kalau semua merasa berkepentingan pada pembelaan masyarakat yang terbuka, bebas dan menghormati martabat semua anggota, mereka harus mengusahakan kemampuan berkomunikasi bebas dari tekanan yang semakin luas

  1. 5.      RELEVANSI DAN EMANSIPASI TEORI KRITIS

Pada dasarnya kaitan antara teori kritis dan teori tradisional serta ideologi di dalamnya; atau kaitan antara pengetahuan dan kepentingan atau kaitan teori kritis dengan perubahan sosial menjadi suatu yang tak terelakkan. Namun sebagaimana suatu teori hendaknya bersifat revolusioner, sebab tiada tindakan yang revolusioner, tanpa teori yang revolusioner Teori kritis melalui refleksinya menunjukkan kepada kita bagaimana teori-teori tradisional telah dibangun dengan membelenggu kebebasan manusia, sekaligus mencoba menegasi subjektivitas manusia atas realitas sosial maupun konstruksi pengetahuan yang ada. Dengan demikian dengan mempelajari teori kritis, maka seseorang akan dibuka matanya akan realitas yang sesungguhnya. Terbuka pula selubung-selubung ideologis yang secara inheren terbawa oleh industrialisasi, maupun ciptaan-ciptaan yang mengikutinya

Seseorang dan atau masyarakat yang terbuka pikiran dan kesadarannya akibat mengkaji teori kritis akan melakukan tuntutan-tuntutan perbaikan atas iri dan masyarakatnya. Hal ini nampak ditunjukkan oleh gerakan-gerakan mahasiswa melalui pernyataan keprihatinan, demo dan protes kepada lembaga-lembaga legislatif. Disamping itu juga kelompok-kelompok masyarakat yang menamakan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) bermaksud untuk menyadarkan dan sekaligus memberdayakan dirinya, sehingga ia dan mereka dapat menegakkan hakikat kemanusiaannya. Sebab selama ini industrialisasi menegasi kemanusiaan.

Tidaklah mengherankan bila Marcuse mengatakan bahwa masyarakat industri modern adalah masyarakat yang tidak sehat, yang dianggap sebagai masyarakat yang berdimensi satu, masyarakat yang represif dan totaliter. Manusia-manusia yang hidup di dalamnya dibuatnya pasif, reseptif, dan tidak lagi menghendaki perubahan, dan yang lebih menarik lagi kata Marcuse adalah bahwa masyarakat industri modern tetap merupakan masyarakat yang teralienasi karena mengasingkan manusia-manusia yang menjadi warganya dari kemanusiaannya, bahkan lebih gawat lagi karena manusia-manusia tersebut semakin tidak menyadari bahwa dirinya itu dalam keadaan yang teralienasi.

 

DAFTAR RUJUKAN

  • Beoang, Konrad Kebung. 1997. Michel Foucoult: Parrhesia dan Persoalan Mengenai Etika. Jakarta: Obor
  • Berger, Peter L. dan Luckmann, Thomas. 1990. Tafsir Sosial atas Kenyataan. Risalah Tentang Sosiologi Pengetahuan. (terjemah-an Hasan Basari). Jakarta: LP3ES
  • Fay, Brian. 1991. Teori Sosial & Praktek Politik. (terjemahan Budi Murdono). Jakarta: Grafiti
  • Freire, Paulo. 1984. Pendidikan sebagai Praktek Pembebasan. (terjemahan: Alois A. Nugroho).Jakarta: Gramedia
  • Freire, Paulo. 1995. Pendidikan Kaum Tertindas. Cetakan kedua (terjemahan: tim). Jakarta: LP3ES
  • Habermas, Jurgen. 1990. Ilmu dan Teknologi sebagai Ideologi. (terjemahan Hassan Basari). Jakarta: LP3ES
  • Hardiman, Francisco Budi. 1990. Kritik Ideologi. Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan. Yogyakarta: Kanisius
  • Hardiman, F. Budi. 1993. Menuju Masyarakat Komunikatif. Ilmu, Masyarakat, Politik & Postmodernisme Menurut Jurgen Habermas. Yogyakarta: Kanisius

 


[1] Disampaikan Pada acara sekolah Soisologi kritis Himpunan mahasiswa Sosiologi Dan Umit Kegiatan Pengembangan Intelektual IAIN Sunan Ampel Surabaya Aula fakultas Dakwah tanggal 05 Oktober 2011

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: