hobirsoleh

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

DIMENSI KEBUDAYAAN DALAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA

pada Mei 21, 2012

DIMENSI  KEBUDAYAAN DALAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA

Oleh : M. ABD HOBIR SOLEH

(Mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya)

 

Abstrak

 Melihat lebih dalam tentang posisi Indonesia saat ini, tentu sudah menjadi suatu pengetahuan yang umum, bahwa Indonesia sedang berada dalam proses menuju era yang dipandang sangat penting dalam sejarah kebudayaan bangsa, karena pada era inilah diharapkan Indonesia dapat mengejar ketinggalannya terhadap negara lain seperti malaysia, Cina dan lainnya sehingga Indonesia berderajat sama dan berdampingan dengan negara maju lainnya. Era Industri dipandang sebagai era strategis untuk memacu bangsa dalam mencapai cita-cita kemerdekaan dalam segala hal. Namun, cita-cita tersebut tidaklah berjalan mulus, berbagai batu dan krikil masih berserakan menjadi penghalang di jalan-jalan.

Sejumlah pakar telah menunjukkan bahwa terdapat berbagai hal yang patut diperhatikan dalam menyiapkan diri menyambut era Industri tersebut, baik dari sisi kualitas masyrakat (SDM), SDA, ekonomi, keterampilan,kebudayaan, kesadaran akan berbangsa dan bernegara, dan sebagainya. Hal-hal tersebut sangatlah berpengaruh dalam upaya mencapai bangsa dan negara sebelum menginjakkan kaki menuju era indutri.

 

  • Key word : Era Indutri, Strategis, Kualitas Masyrakat, Kebudayaan.

 

 

PENDAHULUAN

 

   Sejak Indonesia berada di tangan pemerintahan orde baru, Indonesia terjadi berbagai perubahan dalam kehidupan masyarakatnya. Program yang dilaksanakan oleh pemerintah orde baru telah berhasil meningkatkan taraf hidup masyarakat, meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa mereka yang belum sempat mencicipi hasil pembangunan tersebut masih banyak.

Penghasilan negara yang melimpah dari cucuran sektor minyak dan gas bumi pada tahun 1970-an telah membawa berkah pula pada masyrakat khususnya penduduk pedesaan. Jerih payah upaya pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah orde baru telah menghasilkan buah yang cukup manis. Kesejahteraan masyarakat menunjukkan peningkatan yang mengesankan, hal itu tercermin dari semakin membaiknya tingkat pendidikan, kesehatan, dan pendapatan per-kapita masyarakat[1].

Untuk memacu kehidupan bangsa yang lebih baik, kebijakan pembangunan Indonesia lebih diarahkan pada pengembangan kegiatan indutri, guna menyambut pasar terbuka yang merupakan bagian dari proses globalisasi. Jika strategi pembangunan yang telah dirancang pemerintah itu berjlan lancar dan mulus, diperkirakan pada waktu yang tidak lama lagi masyarakat Indonesia akan segera memasuki era indutrialisasi. Artinya, kehidupan masyarakat yang semula lebih banyak yang tertumpu pada pertanian tradisional akan segera beralih pada kegiatan industri atau bertani dengan cara yang lebih modern. Kalaupun nanti petani Indonesia tetapa saja melakukan aktivitas perekonomian di sektor pertanian, tetapi orientasi kegiatan mereka tidak beralih akan tetapi lebih maju, yang semula hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan semata melangkah pada orientasi pasar.

Seiring dengan itu, kegiatan masyarakat pun akan turut berubah. Jika semula porsi terbesar kehidupan masyrakat lebih banyak tertumpu pada kegiatan pertanian, pada masyarakat indutrial, porsi itu jauh akan berkurang, masyrakat akan lebih banyak terlibat dalam kativitas ekonomi pasar yang terbawa langsung oleh semakin maraknya aktivitas industri.

Teknologi informasi serba canggih yang telah menusuk detak jantung kehidupan bangsa Indonesia, telah membawa berbagai perubahan dalam aspek kehidupan masyarakat. Masyarakat semakin lebih terbuka dengan dunia luar dan  segala informasi mudah diakses. Berkat kemajuan teknologi informasi itu segala bentuk kehidupan di luar lebih mudah diketahui oleh masyarakat.  Arah kehidupan yang demikian itu dengan sendirinya juga turut mengubah sistem nilai budaya  masyarakat Indonesia, baik dari segi positif dan negatifnya. Gagasan-gasan baru yang muncul sebagai dampak dari kemajuan teknologi informasi telah mempengaruhi sistem gagasan masyarakat, sehingga turut mengubah wajah kehidupan bangsa.

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

 

            Sebelum mengemukakan lebih jauh masalah ini, penting kiranya kita memahami tentang hakikat kebudayaan. Kebudayaan harus dipahami sebagai suatu sistem pengetahuan, gagasan, dan ide yang dimiliki oleh suatu kelompok masyrakat yang berfungsi sebagai lndasan pijak dan pedoman bagi masyarakat itu dalam bersikap dan berprilaku dalam lingkungan alam dan sosial di tempat mereka berada[2].

            Sebagai suatu sistem pengetahuan dan gagasan, kebudayaan yang dimiliki suatu masyarakat merupakan kekuatan yang tidak tampak (invisible power), yang mampu menggiring dan mengarahkan manusia pendukung kebudayaan itu bersikap dan berprilaku sesuai dengan pengetahuan dan gagasan yang menjadi  masyarakat tersebut, baik di bidang ekonomi, sosial, politik, kesenian, kesehatan dan sebagainya. Oleh karena itu, kebudayaan bukan hanya terbatas pada kegiatan kesenian, peninggalan sejarah atau upacara-upacara tradisional seperti yang diphami oleh banyak kalangan.

            Sebagai pedoman bagi manusia dalam bersikap dan berprilaku, maka pada dasarnya kebudayaan mempunyai kekuatan untuk memaksa manusia pendukungnya itu, untuk mematuhi segala pola aturan yang telah digariskan oleh kebudayaan. Namun demikian, perlu dibedakan dengan tegas bahwa sistem pengetahuan dan gagasan yang tidak mampu menjadi pengarah dan pedoman bagi sikap dan tingkah laku manusia tidak dapat disebut sebagai kebudayaan. Hal itu hanya dapat dikategorikan  sebagai “pengetahuan” saja. Mereka yang memiliki pengetahuan dan gagasan tentang disiplin dan keadaan sosial misalnya, tetapi tidak menjadikan pengetahuan dan gagasan itu sebagai landasan dan sikap serta perilaku mereka, maka pengetahuan dan gagasan tersebut tidak dapat dikatakan sebagai kebudayaan, itu hanya terbatas pada “pengetahuan” dalam arti khusus saja. Oleh  karena itu, untuk mengetahui apakah suatu pengetahuan atau gagasan sudah menjadi kebudayaan suatu masyrakat, dapat dilihat dari sikap dan perilaku masyrakat itu sendiri dalam kehidupan mereka sehari-hari.

            Sebagai suatu sistem, kebudayan tidak diperoleh manusia begitu saja secara ascribed, tetapi melalui proses belajar yang berlangsung tanpa henti, sejak manusia dilahirkan sampai meninggal. Proses kebudayaan bukan hanya dalam bentuk internalisasi dari sistem “pengetahuan” yang diperoleh manusia melalui pewarisan keluarga, lewat pendidikan formal di sekolah atau pendidikan formal lainnya, tetapi juga diperoleh melalui proses belajar dari berinteraksi dengan lingkungan alam sekitarnya.

            Secara umum, kebudayaan mungkin sangat berpengaruh dalam pengembangan masyarakat kita namun, barang kali penting untuk dipahami bahwa kebudayaan sering dijadikan sebagai pedoman yang sangat makro danabstrak. Walaupun menggunakan kerangka sistem nilai yang sama, dalam praktik kehidupan, sering manusia yang menjadi pendukung kebudayaan itu bertingkah laku berbeda. Hal ini disebabkan karena kerangka tata nilai yang seharusnya digunakan untuk hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan bersama, kemudian dimanipulasi untuk kepentingan kelompok atau pribadi. Antropologisme interpretasi kebudayaan itulah yang sering mengganggu dan menghambat tercapainya pembangunan suatu bangsa dan negara.

            Salah satu dimensi budaya yang menarik dari kehidupan masyarakat Indonesia adalah budaya gotong royong. Azas ini menjadi landasan kehidupan politik, ekonomi, dan sosial bangsa Indonesia. Namun, dalam praktik kehidupan  sering kali nilai “gotong royong” itu digunakan hanya untuk kepentingan kelompok sendiri, maka nilai itu akan mengarah pada praktik nipotisme.

            Barang kali persoalan di atas juga perlu kita pahami lebih mendalam dalam kaitannya dengan perkembangan masyarakata Indonesia seperti yang kita ketahui sejak pemerintahan orde baru berkuasa telah terjadi perubahan dalam perkembangan masyarakat kita. Pada akhir 1980-an, panen minyak dan gas bumi mulai mengalami penurunan. Karena itulah Issue De Sentralisasi dan Otonomisasi dimulai, dan di hembuskan ke setiap daerah dengan harapkan  setiap daerah mulai berpikir dan berbenah diri untuk membiayai pembangunan dari hasil daerahnya sendiri.

            Tetapi berbagai pihak mengatakan bahwa sisitem desentralisasi yang dilaksanakan dengan memperkenalkan konsep otonomi daerah pada era reformasi ini tidak mudah untuk dilaksanakan karena berbagai sebab menyertainya. Antar lain karena terdapat gejala yang menunjukkan bahwa masyarakat sudah terbiasa dan mulai merasa keenakan dengan berbagai subsidi pembangunan yang selama ini mereka terima. Suntikan dana dari pemerintah selama ini rupanya telah mengubah mental masyarakat, umumnya mereka menilai bahwa semua program pembangunan dan pemeliharaan pembangunan itu adalah menjadi tanggung jawab pemerintah saja, bukan masyarakata.

            Tak pelak lagi, penilain seperti di atas akan dan sering terjadi kesalah pahaman dalam masyarakat dan bahkan mereka cendrung pasrah terhadap kebijakan-kebijakan penguasa, dan akhirnya hal itu akhirnya hal itu membawa dampak kemacetan terhadap proses pengembangan masyarakat Indonesia. Demikian pula upaya untuk menerapkan nilai-nilai universal tanpa memperhatikan konteks perkembangan sosial yang ada, termasuk di dalamnya formasi sosial yang terjadi dala masyarakat dan konstelasi kultural yang ada akan gagal[3].

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENUTUP

 

Kesimpulan

            Sebagaimana dikemukakan di atas bahwa kebudyaan sebagai sistem pengetahuan, gagasan, ide yang dimiliki oleh suatu kelompok dan inidividu yang berfungsi sebagai pengaruh bagi mereka yang menjadi warga kelompok itu dalam bersikap dan bertingkah laku. Karena berfungsi sebagai pedoman dalam bersikap dan bertingkah laku, maka pada dasarnya kebudayaan mempunyai kekuatan untuk memaksa pendukungnya untuk mematuhi segala pola yang digariskan oleh kebudayaan itu.

            Kebudayaan juga merupak fondasi penting dalam membangun masyarakat agar menjadi masyarakat yang maju. Indonesia sebagai suatu negara yang berkembang sedang mengalami suatuu proses untuk menuju sebuah proses indutrialisasi yang mencakup sebagai berikut;

  1. Masyarakat Indonesia mulai berproses untuk menuju sebuah kemajuan baik dalam indutri, komunikasi, dan sektor lainnya.
  2. Era industri dipandang sebagai era strategis untuk memacu bangsa dan negara Indonesia dalam mencapai cita-cita menjadi bangsa yang maju.
  3. Umtuk memacu kehidupan yang lebih baik, kebijakan pemerintah dalam pembangunan baik dari segi ekonomi, pendidikak, sosial, budaya, keterampilan dan kesehatan serta industri harus lebih mapan lagi. Selain itu kebijakan pembangunan industri guna menyambut pasar terbuka yang merupakan bagian dari proses globalisasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

–          Abdur Rahman, Moeslim.1996. Islam Kritik Sosial. Jakarta:Erlangga

–          Hikam, Muhammad. 2000. Islam Demokratisasi dan Pemberdayaan Civil Society. Jakarta:Erlangga

–          Sairin, Sjafri. 2002. Perubahan Sosial Masyrakat Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

–          Zainuddin, Rahman. 1986. Identitas Islam Pada Perubahan Sosial-Politik. Jakarta:Bulan Bintang


[1]  Anne Booth. The Indonesian Economy During Soeharto Era. Kuala lumpur: oxford university press.1981.58

[2] James Spadley. Foundation of cultural knowledge. Sanfransisco: Chander Publishing Copany. 1972.26

[3] Ralf Dahrendrof.Moral, Revolution and Cvil Society. London: MacMillan Co., 1997.23


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: