hobirsoleh

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

KONSEP MANUSIA DAN MAYARAKAT

pada Mei 21, 2012
  1. A.   ISTILAH MANUSIA DAN MASYARAKAT

 

  1. INSAN

خلق الانسان من علق, اقرأ وربك الاكرم  (العلق 2-3)

Artinya: Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu-lah yang Maha Mulia.

Kata (الإنسان) pada surat Al-Alaq ayat 3-2 di atas artinya manusia  yang diambil dari kata (أنس) uns yang artinya senang, jinak dan harmonis, atau ( نسي) nis-y yang artinya lupa[1]. dan ada juga yang berpendapat berasal dari kata (نوس) naus yang berarti gerak  atau dinamika. Dari penjelasan di atas para ulama’ tafsir  memberikan gambaran tentang potensi manusia bahwa ia mempunyai sifat lupa, kemampuan bergerak, melahirkan rasa senag, harmonis.

Di dalam Tafsir Al-Misbah  Kata الانسان di atas menunjukkan semua manusia yang diciptakan dari alaq (علق) yaitu, segumpal darah[2] atau sesuatu yang bergantung di dinding rahim. Ada juga ulama’  khususnya Quraish Shihab mengatakan bahwa (علق) adalah sifat manusia sebagaia makhluk social yang tidak dapat hidup  sendiri dan selalu bergantung kepada yang lain[3].

ولقد خلقناالانسان من صلصال من حماء مسنون, والجان خلقنه من قبل من نار السموم ( الحجر 26-27)

Artinya: Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk, dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.

Sedangkan pada Q.S Al-Hjr 26-27 di atas, kata (الإنسان) menunjukkan pada manusia yang diciptakan dari  dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk, yaitu Nabi Adam. Kata (صلصال) berarti tanah yang sangat keras dan kering, kata (حماء) tanah yang bercampur air lagi bau, sedangkan kata (مسنون) berarti dituangkan sehingga siap dan mudah dibentuk dengan berbagai bentuk yang di kehendaki.  Kata (الجان) terambil dari kata (جنن) yang berati tertutup, sedangkan menurut ulama’ tafsir adalah sekelompok makhluk yang dinamai jin sebagaimana Adam AS. dan kata (السموم) Api yang tampa Asap.

  1. INS

قال ادخلوا في امم قد خلت من قبلكم من الجن والانس في النار كلما دخلت امة لعنت اختها حتى اذا داركوا فيها جميعا قلت اخرهم لاولهم ربنا هؤلاء اضلونا فاءتهم عذابا ضعفا من النار قال لكل ضعف ولكن لاتعلمون (الأعرف  38)

Artinya: Allah berfirman, “masuklah kamu ke dalam api neraka bersama golongan jin dan manusia yang telah lebih dahulu dari pada kamu. Setiap kali suatu umat masuk, dia melaknat sadaranya, sehingga apabila mereka telah masuk semuanya, berkatalah orang yang (masuk) belakangan (kepada) orang yang masuk terlebih (dahulu), “ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami. Datangkanlah siksaan api neraka yang berlipat ganda kepada mereka.” Allah berfirman, “masing-masing mendapatkan (siksaan) yang berlipat ganda, tapi kamu tidak mengetahui.

Ayat sebelumnya yaitu Al-A’raf  37 menjelaskan orang-orang yang  berlaku yang sangat aniaya itu mengakui kesalahannya, dan ayat di atas menjelaskan apa-apa yang terjadi setelah pengakuannya tersebut yang tidak bermanfaat karena telah mendustakan ayat-ayat Allah dan berbuat zhalim[4].

Kata قال adalah Firman Allah kepada para pendurhaka, kalimat من قبلكم من الجن والانس yang artinya, bersama golongan jin dan manusia yang telah lebih dahulu dari pada kamu, menjelaskan tentang jin dan manusia yang durhaka dan membawa kesesatan terhadap kaum setelahnya.

قل لئن اجتمعت الانس والجن على ان يأتوا بمثل هذا القرأن لايأتون بمثله ولو كان بعضهم لبعض ظهيرا (الاسراء88)

Artinya: katanlah, “sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat ysng serupa (dengan) Al-quran ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipu mereka saling membantu satu sama lain.”

Ayat ini merupakan tantangan terhadap kaum musyrikin Arab yang tidak percaya pada ayat-ayat Allah SWT. dan  para penantangnya, bahwa mereka tidak akan pernah bias membuat semisal Al-qur’an meskipun semua manusia dan jin waktu itu dikumpulkan dan saling mebantu untuk membuatnya. Kata (الانس) meredaksikan masyarakat arab yang mendustakan Nabi Muhammad dan ayat-ayat Allah waktu itu[5] .

  1. UNAS

وما كا جواب قومه الا ان قلوااخرجوهم من قريتكم انهم اناس يتطهرون (الأعرف 82)

Artinya: Dan jawaban kaumnya tidak lain hanya berkata, ‘ Usirlah mereka (Luth dan pengikutnya) dari negerimu ini, mereka adalah orang yang menganggap dirinya suci.”

Ayat di atas menjelaskan tentang bagaimana Nabi Luth dan dan pengikutnya diusir dari oleh kaumnya lantaran Nabi Luth di anggap sok suci menasehati kaumnya pada waktu itu yang durhaka dan homoseksual. Dari terbiasanya kaum Luth melakukan homoseksual  dan keburukan menilai suatu kebaikan sebagai suatu yang buruk dan menganggap keburukan suatu yang baik.

Ayat di atas menjelaskan tentang bagaimana Nabi Luth dan dan pengikutnya diusir dari oleh kaumnya lantaran Nabi Luth di anggap sok suci menasehati kaumnya pada waktu itu yang durhaka dan homoseksual.  Jadi kata Unas itu menunjukkan nabi Luth dan pengikutnya, dimana kata tersebut diucapkan oleh kaumnya Luth.

زين للناس حب الشهوات من النساء والبنين والقنطير المقنطرة من الذهب والفضة والخيل المسومة والأنعم والحرث ذلك متع الحيوت الدنيا والله عنده حسن المأب (العمران 14) 

Artinya: Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perenpuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam batu emas dan perak, kuda pilihan hewan ternak[6] dan sawah ladang. Itulah kesenangan  hidup di dunia, dan di sisi Allah tempat kembali yang baik.

Ayat ini merupakan kabar gembira yang kepada orang-orang yang takwa kepada Allah SWT. dimana menggabarkan ada dua dimensi kesenagan, yaitu kesenangan dunia dan akhirat, tetapi kesenangan akhirat lebih jauh indah daripada kesenangan duniawi. Yang mana kesenangan ukhrawi hanya diperoleh oleh orang-orang yang bertakwa dan senantiasa taat kepada Allah serta mengingat-Nya dalam hatinya, menafkahkan sebagian rizkinya.  Selanjutnya, ayat di atas juga mengandung nasehat agar manusia masih tetap berada dalam keridhaanya karena masih ada kesenangan yang lebih baik dari kesenangan duniawi.

(الناس) menunjukkan pada setiap manusia. Manusia diberi kesenangan, dan keindahan terhadap apa-apa yang mereka inginkan. Sebagaimana kalimat (زين للناس ) yang bergaris bawah adalah fi’il madi yang berbentuk majhul (pasif), yang berati dijadikan indah bagi manusia, hal ini mengisyaratkan  bahwa insting manusia mengandung dorongan-dorongan merasa senang dan indah terhadap yang mereka sukai[7].

  1. Al-basyar

لواحة للبشر (المذثر 29)

Artinya: yang menghanguskan kulit manusia.

Kata (لواحة) mempunyai tiga arti yaitu,  tampak (terlihat), haus dan mengubah (menghitamkan) wajah. Kata (البشر) bentuk jamak dari kata (بشرة) yang berarti kulit atau manusia dari segi fisik atau biologis. Manusia dinamai basyar karena kulitnya tampak jelas, berbeda dengan binatang yang kulitnya tertutupi oleh bulu dan rambut[8].

Selanjutnya mengenai perbedaan arti tersebut, ulama ada yang memahami neraka saqor  tampak dari tempat yang sangat jauh. Ada juga ulama’ memahami neraka haus terhadap mangsanya yang mengahauskan mereka, dan mengubah, menghitamkan, dan menghanguskan kulit.

ومن ايته ان خلقكم من تراب ثم اذا انتم بشر تنتشرون(الروم 20 )

 Arinya:  dan diantara tanda-tanda (kebesaran-Nya) ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.

Kata (من تراب) menunjukkan asal penciptaannya dari tanah, kata (ثم) mengisyaratkan  tentang sekian banyak proses sejak asal-usul dari tanah hingga kemampuannya berkembang biak. Kata  (بشر) di gunakan Al-qur’an untuk menunjuk manusia secara umum, yang semuanya mempunyai kesamaan dalam potensi kemanusiaan, tampa mempertimbangkan perbedaan-perbedaan dalam sifat individu atau tingkat pikiran dan emosi masing-masing.  Kata ini menunjukkan pencapain masa kedewasaan dan kemampuan berhubungan seks.

Ar-Razi dalam tafsirnya, mengesankan manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi mengetahui, manusia menjadi manusia bukan karena geraknya, sebab binatang pun bergerak, binatang tidak memiliki pengetahuan. Sedangkan kata (تنتشرون) sebagian besar ulama’ memahami suatu potensi bergerak, bergerak dan potensi pengetahuan merupakan suatu yang jauh dari sifat tanah. Hal itu merupakan suatu yang menakjubkan dari Ciptaan Allah.

واذ قال ربك للملئكة اني خالق بشرا من صلصال من حماء مسنون. فاذا سويته ونفخت فيه من روحي فقعواله سجدين  (الحجر 28-29)

Artinya: dan (ingatlah) ketika Tuhan-Mu Berfirma kepada malaikat, “Sungguh Aku akan meciptaka seorang manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)-nya, dan Aku telah meniupkan Roh (ciptaan)-ku ke dalamnya, maka tundukkanlah kamu kepadanya dengan bersujud[9].

Ayat ini menunjukkan betapa mulia makhluk yang bernama manusia hingga Allah mementahkan malaikat bersujud memberi penghormatan padanya kecualai Iblis.

Kata (بشرا) ayat di atas sama redaksinya sama dengan Ar-rum 20, hanya yang dimaksudkan di sini bukan manusia secara umum tetapi yang dimaksudkan adalah Adam as., apa apabila dikaitkan dengan ayat sebelumnya yaitu Ar-Rum 20 sama redaksinya menunjukkan terhadap potensi-potensi yang mereka miliki.

قل انما انا بشر مثلكم يوحى الي انما الهكم اله واحد فمن كان يرجوا لقاء ربه فليعمل عملا صالحا ولايشرك بعيبادة ربه احدا ( الكهف 110)

Artinya: katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa seseungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maham Esa. Maka barang siapa berharap pertemuan dengan Tuhan-nya maka hendaklah di mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatun dalam beribadah kepada Tuhan-nya.”

Kata (بشر) ini adalah Nabi Muhammad saw. (بشر) digunakan untuk menunjukkan manusia dalam kedudukannya sebagai mahkluk yang mempunyai kesamaan dengan sesama manusianya. Nabi Muhammad saw. adalah  basyar sama dengan yang lain Beliau memiliki panca indra, kebutuhan fa’al psikologis, lapar, dahaga, rasa cinta, senang, butuh tidur dll. Perbedaan beliau dengan manusia lainnya adalah karena Beliau sebagai Nabi dan Rasul yang mendapat wahyu Ilahi, keistimewaan budi pekerti dan kesucian Beliau. Begitulah makna dari kata basyar.

  1. BANI ADAM

يا بني ءادم لايفتننكم الشيطان كما أخرج أبويكم من الجنة ينزع عنهما لباسهما ليريهما سواتهما إنه يراكم هو وقبيله من حيث لاترونهم إنا جعلنا الشياطين أولياء للذين لايؤمنون (الأعرف 27)

Artinya: Wahai anak cucu adam! Janganlah sampai kamu tertipu oleh setan sebagaimana halnya dia (setan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari surga, dengan menaggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya. Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin bagi orang yang tidak beriman.

Ayat ini merupakan peringatan Allah terhadap anak cucu Adam agar mereka tidak  tertipu sebagaimana Bapak Ibu mereka yaitu Nabi Adam selain merupakan pelajaran bagi anak cucu Adam agar senatiasa hati-hati.  Sebagaimana objek ayat ini adalah kalimat (يا بني ءادم) yang berarti wahai anak-anak Adam, maksudnya semua manusia tanpa kecuali hingga akhir masa baik yang sudah lahir atau yang mau lahir[10].

  1. Dzurriyah Adam

أولئك الذين أنعم الله عليهم من النبيين من ذرية ءادم وممن حملنا مع نوح ومن ذرية إبرهيم وإسرئيل وممن هدينا واجتبينا إذا تتلى عليهم ءايات الرحمن خروا سجدا وبكيا (مريم 58)   

Artinya: mereka itulah orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu dari (golongan) para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang yang Kami bawa (dalam kapal) bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Ismail (Ya’qub) dan daro orangyang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pengasih kepada mereka, maka mereka tunduk sujud dan menangis.

Ayat ini membicarakan tentang golongan yang di beri nikmat oleh Allah yaitu golongan para nabi sebagaimana surat di atas dan orang-orang yang ditunjuk selain para Nabi seperti Maryam.

Kalimat (ذرية ءادم ) berarti keturuna Nabi Adam, yaitu meliputi nabi Idris, keturunan nabi Nuh yakni Ibrahim as, keturunan Nabi Ibrahim as yakni Ismail, Ishaq, dan ya’qub, dari keturunan Isra’il yakni Ya’qub as, seperti Musa, Harun Zakariyya, Yahya dan Isa as. Dan diantara orang-orang yang terpilih untuk melaksanakan tugas suci selain para nabi seperti Maryam dan lainnya yang tidak terhitung jumlahnya.

  1. B.   ISTILAH ISTILAH MSYARAKAT DALAM AQ-QURAN

 

  1. KAUM

    والى مدين اخاهم شعيبا قال يقوم ا عبدوا الله مالكم من اله غيره ولاتنقصوا المكيال والميزان اني اركم بخير واني اخاف عليكم عذاب يوم محييط. ويقوم اوفوا المكيال والميزان باالقسط ولاتبخسوا الناس اشياءهم ولاتعثوا في الارض مفسدين   

Kisah Nabi Syu’aib a.s.

Artinya: 84. Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat).”  85. Dan Syu’aib berkata: “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.

  1. UMMAH

)Ali-IMRAN 104 ولتكم منكم أمة يدعون إلى الخير ويأمرون باالمعروف وينهون عن المنكر وأولئك هم المفلحون (

Artinya: 104. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar[11]; merekalah orang-orang yang beruntung.

Ayat ini berisikan tentang dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, dan perluanya kekuasan untuk menegakkannya. Kata  أمة  di ayat di atas berarti segolongan orang yang mampu dalam menjankan dakwah di muka bumi untuk memenangkan kebanaran atas kebatilan yang baik terhadap yang buruk. Maka dalam tafsirnya Sayyid Quthb jilid 2 dijelaskan haruslah ada segolongan atau satu kekuasan yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma;ruf dan mencegah dari kemungkaran. Ketetapan islam yang harus ada segolongan yang berkuasa, alsannya untuk melaksanakan dakwah dan mempersatukan umat sangatlah memerlukan kekuasaan untuk “memerintah” manusia kepada yang ma’ruf dan “mencegah” kemungkaran. Sebegaimana Firman Allah SWT di dalam Q.S An-Nissa’:64 “tidaklah Kami mengutus seorang rasul pun melainkan untuk ditaati dengan seizinnya[12].”

(Al-Maidah 66)

Artinya; 66. Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka[13]. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan[14]. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka.

  1. Nas, syu,ub dan qobail

   يا ايها الناس إنا خلقنكم من ذكر وأوثى وجعلنكم شعوبا وقبائل لتعارفوا إن أكرمكم عند الله أتقاكم إن الله عليم خبير 13) (Al-hujurat

Manusia diciptakan berbagai bangsa untuk saling kenal

Artinya: 13. Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

            Ayat ini turun berkenaan dengnan Abu Hind yang pekerjaan sehari-harinya adalah pembekam. Nabi meminta Kepada Bani Bayadhah untuk menikahkan seorang putrinya dengan Abu Hind, tetapi mereka menolak dengan alasan tidak wajar menikahkan putrinya dengannya yang merupakan salah satu bekas budak mereka. Sikap tersebut dikecam oleh Al-Qura’an dengan menegaskan bahwa kemulyaan di sisi Allah SWT. Bukan karena keturunan atau garis kebangsawanannya melainkan pada ketakwaannya. Yang jelas ayat ini turun menegaskan kesatuan asal-usul manusia dari seorang Laki-laki dan perempuan yaitu Adam dan Hawa (من ذكر وأوثى)  dengan menunjukkan kesamaan derajat.

Kata (الناس) mempunyai makna jamak tetapi memiliki redaksi mufrod atau semua manusia tampa satu-kesatuan tanpa adanya kelompok. Kata (شعوب) bentuk jamak kata (سعب) sya’b yang berati bangsa. Kata ini digunakan untuk menunjukkan kumpulan dari sekian ( قبيلة)/ suku, yang jamaknya adalah (وقبائل), yang merujuk pada satu keturunan atau kakek.  

  1. Firqoh dan Thaifah

وما كا ن المؤمنون لينفروا كافة فلولا نفر من كله فرقة منهم طائفة ليتفقهوا في الدين ولينذروا قومهم اذا رجعوا اليهم لعلهم يحذرون      (At-Taubat 122)

Artinya: 122. Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Menurut riwayat yang menyatakan ketika Rasullah  tiba di madinah, Beliau mengutus pasukan yang terdiri dari beberapa orang ke beberapa daerah. Banyak sekali yang mau ikut ke medan perang saat itu, jika permintaan mereka dituruti maka yang tinggal di madinah hanya segelintir orang saja. Nah ayat ini menuntun kaum muslimin untuk membagi tugas sebagaimana isis ayat di atas.

 Kata (طائفة)  berarti satu atau dua orang, kata (فرقة) bermakna sekelompok manusia yang berbeda dengan kelompok yang lain. Karena itu, satu suku atau bangsa, masing – masing dapat dinamai firqah. (ليتفقهوا ) terambil dari kata فقه yakni pengetahuan yang mendalam menyangkut hal – hal yang sulit dan tersembunyi.

  1. Al-Mala’

فقال الملأ الذين كفروا من قومه ما هذا إلا بشر مثلكم يريد أن يفضل عليكم ولو شاء الله لأنزل ملائكة ما سمعنا بهذا في ءابائنا الأولين )Al-Mu’minum 24      (

Artinya: 24. Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: “Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu.

Kata (الملأ) dalam tafsir misbah vol 9 mulanya berati kelompok yang menyatu pandangannya. Kata ini berasal dari kata (ملأ)  mala’a yang artinya membantu,  seakan-akan anggota kelompok itu saling membantu dan kompak dalam pendapatnya, sehingga mereka semua menyatu dalam pendapat dan tindakan. Nah, kata ini digunakan dalam Al-Qur’an untuk menunjuk pemuka-pemuka masyarkat yang durhaka, bantu-membantu dalam kedurhakaan atau mereka bermusyawarah sehingga mempunyai pendapat yang sama. Ada juga para ulama’ yang memahami (ملأ) dalam Artian penuh, para pemimpin dinamai mala’, karena mereka memenuhi mata, hati masyarakat umum yang dipimpinnya, karena kekuatan[15], pengaruh atau penampilan mereka.

Kata (الذين كفروا)  adalah sifat dari kata (الملأ)  yang artinya orang-orang yang kafir. Kata  tersebut menunjukkan bahwa mereka sama sekali tidak ada yang beriman.

  1. Abdun

(Al-anbiya’ 105) ولقد كتبنا في الزبور من بعد الذكر أن الأرض يرثها عبادي الصالحون

Artinya: 105. Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur[16] sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh.

Kata (عبادي الصالحون)ibadiya, semakna dengan kata (عابدين) abidiin¸pada ayat106 lanjutannya surat ini, yaitu bermakna orang-orang yang mengamalkan Al-qur’an, pakar Tafsir Ar-rzi berpendapat bahwa kata tersebut memiliki pengetahuan tentang tuntunan al-quar’an sekaligus mengamalkan tuntunan tersebut. Sayyid Quthub dalam tafsirnya memahami dalam arti yang siap untuk menyambut petunjuk Allah. Penamaan Abidin menurutnya karena hati seorang abdi/pengabdi selalu khusu’ patuh, siap untuk menerima, memperhatikan dan memanfaatkan tuntutan kebaikan.

Selanjutnya menurut Quraish Shihab dalam tafsirnya, kata (عبادي) ibadi, digunakan dalam AL-Qur’an untuk menunjuk hamba-hamba Allah yang dekat dan taat kepada-Nya, atau kelaupun berdosa dia telah menyadari dosanya tersebut, bertaubat dan ingin mendekatkan diri kepada-Nya.

(Ibrahim 31)  قل لعبا دي الذين امنوا يقيموا الصلاة وينفقوا مما رزقناهم سرا وعلانية من قبل أن يأتي يوم لابيع ولاخلال

Artinya: 31. Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: “Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada bari itu tidak ada jual beli dan persahabatan[17].

Sayyid Quthub dalam Tafsirnya menyebutkan ayat ini mengecam orang-orang kafir yang tidak mensyukuri nikmat Allah. Ayat ini memerintahkan kepada hamba-hambaNYa untuk mensyukuri nikmatnya dengan menjalankan shalat dan menuaikan zakat. Shalat adalah perwujudan yang nyata dalam bentuk bersyukur pada Allah[18].

Kata (عباد)ibad, bentuk jamak ari kata (عبد)abd/ hamba. Bentuk jamak dari kata ini ada dua pertama, (عبيد) abid, yang biasa digunakan dalam Al-qur’an untuk menunjukkan hamba-hamba Allah yang bergelimang dalam dosa tanpa ada suatu kesadaran dan mau bertaubat. Kedua, (عباد)ibad, yang digunakan Al-qur‘an untuk menunjuk hamba-hamba Allah yang taat kepada-Nya atau kalaupun berdosa, ia menyadari dan menyesalinya serta mau memperbaikinya.  Jadi ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman.

(Al-furqon 63:)  وعباد الرحمن الذين يمشون على الارض هونا وإذا خاطبهم الجاهلون قالوا سلاما

Artinya: 63. Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.

Kata (عباد) di ayat ini sama pengertiannya dengan ayat-ayat di atas[19]. Yang dimaksud kata (وعباد الرحمن) adalah adalah sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW, mencakup semua orang mukmin, di mana saja dan kapan saja selama mereka menyandang sifat-sifat ar-rahman.(Quraish Shihab). Selanjutnya untuk menerangkan sifat ar-rahman adalah kata (هونا)haunan,yang berarti lemah lembut dan halus atau mengandung kesempurnaan. Dan yang dimaksud dengan (يمشون على الارض هونا) dipahami oleh sebagian besar ulam’ dalam arti jalan tidak angkuh atau kasar, membusungkan dada, kecuali dalam saat perang. Kalau di tarik pada zaman sekarang adalah naik tidak  mematuhi rambu-rambu lalu lintas, track-trackan, blayer dsb.

Sebagaimana Hadist Riwayat Muslim, pada  Nabi menuju arena perang Beliau melihat seseorang berjalan penuh semangat dan terkesan angkuh lalu beliau bersabdah “ Sungguh cara berjalan ini  dibenci Allah, kecuali dalam situasi (perang ) ini. Sedangkan kata (الجاهلون) juga termasuk konteks abdun,digunakan Al-Qur’an untuk orang yang tidak tahu, pelaku yang kehilang kontrol dirinya sehingga melakukan hal-hal yang tidak wajar, baik kehendak nafsu, kepentinga, dan kepicikan.

  1. C.   KEDUDUKAN MANUSIA DALAM MASYARAKAT

 

  1. Khalifah, Pembangun dan Abdi Allah

هو الذي جعلكم خلائف في الارض فمن كفر فعليه كفره ولايزيد الكافرين كفرهم عند ربهم إلامقتا ولايزيد الكافرين كفرهم إلا خسارا (QS. Fathir 39) 

Artinya: 39. Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka.

Kata (خلائف) adalah bentuk jamak dari kata (خليفة). Kata ini berasal dari kata (حلف) yang pada mulanya berarti belakang. Dari sini khalifah sering kali diartikan yang mengantikan atau yang datang dari belakang (sesudah siapa) yang dating sebelumnya. Quraish Shihab mengemukakan bahwa bentuk jamak kata ini adalah  khalaif dan Khulafa. Sambil merujuk penafsiran Surat Al-An’am ayat 165, menurut Quraish Shihab, bila Al-qur’an menggunakan kata khulafa’ maka mengesankan adanya kekuasaan politik dalam menegelola suatu wilayah, sedang bila menggunakan kata khalaif  kekuasaan wilayah tidak termasuk di dalamnya.

Ayat ini mengisyaratkan bahwa setiap orang mempunyai tanggung jawab membangun dunia ini dan memakmurkan sesuai dengan petunjuk Allah, apapun fungsi dan kedudukan orang itu, baik sebagai penguasa atau rakyat biasa. Allah menganugrahkan  kepada setiap manusia sejak Adam as., hingga kini dan yang akan datang potensi untuk mengelola dan memakmurkan bumi sesuai dengan kadar masing-masing[20].

  1. Abdi ALLAH

(QS. Adzariyah 56)  وما خلقت الجن والانس الا ليعبدون

Artinya: 56. Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Kiranya penting kami uraikan tafsir ayat berikut ini untuk kemudahan dalam mempelajari konteks pembahasan point di atas. Aku tidak menciptakan jin dan manusia untuk suatu manfaat yang kembali pada diri-Ku. Aku tidak menciptakan mereka melainkan agar tujuan atau kesesudahan aktivitas mereka adalah beribadah kepadaku.

 Dahulunya kata (الجن) dan (الانس) karena memang jin di ciptakan terlebih dahulu dari pada manusia. Kata (الجن والانس), bermakna Iil-istgraq yaitu kesemuanaya jin manusia tanpa kecuali, tetapi ada ulama’ mengatakan  sebenarnya ia bukan Li-istgraq tetapi lil-jins sehingga menurut tafsirnya adanya sebagian jenis manusia dan jin ada yang beribadah dan ada yang tidak, dan sebagian dari keduanya yang beribada sudah cukup untuk menjadakan tujuan penciptaannya mereka adalah beribadah. Kalau semua jenis manusia dan jin “kesemuanaya” tidak beribadah  maka tujuan Allah menciptakannya tidak tercapai, dan hal itu adalah mustahil bagi Allah Yang Maha Segalanya. Dia mempunyai tujuan  bagi setiap anggota jenis itu, Wallahu A’lamu[21].

Selanjutnya hakikat beribadah menurut Sayyid Quthub, ada tujuan tertentu dari wujud jin dan manusia, ia merupakan tugas. Siapa yang melaksanakannya maka ia telah mewujudkan tujuan wujudnya, dan siapa yang mengabaikannya berarti ia telah membatalkan hakikat wujudnya dan menjadilah ia makhluk yang tidak memiliki tugas dan tujuannya kosong.  Menurut Thabathabai, ada tujuan yang bertjuan dari penciptaan manusia dan kesempurnaan yang kembali pada kepada penciptanya itu.

Menurut Quraish Shihab, ibadah terdiri dari ibadah murni (Mahdhah) dan ibdadah tidak murni (Gairu Mahdhah). Ibadah mahdhah adalah ibdah yang ditentukan oleh Allah SWT. bentuk, kadar, waktunya, sepeti shalat, puasa zakat dan haji. Ibadah gairu mahdha adalah segala kativitas lahir dan batin manusia yang dimaksudkan untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. hubungan seks pun menjadi ibadah jika dilakukan sesuai dengan tuntutan agama islam. Nah, ayat di atas menjelaskan bahwa Allah menghendaki agar segala aktivitas manusia dilakukan demi karena Allah yakni sesuai dan sejalan dengan tuntan-Nya

 

DAFTAR PUSTAKA–          Departemen Agama RI. 2007. Al-quran & Terjemahnya.. Jakarta: CV Penerbit Diponegoro

–          Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah Vol 5. Jakarta: Lentera Hati

–          Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah Vol 15. Jakarta: Lentera Hati

–          Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah Vol 7. Jakarta: Lentera Hati

–          Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah Vol 14. Jakarta: Lentera Hatiس

–          Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah Vol 13. Jakarta: Lentera Hati

–          Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah Vol 9. Jakarta: Lentera Hati

–          Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah Vol 5. Jakarta: Lentera Hati

–          Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah Vol 11. Jakarta: Lentera Hati

–          صفوة التفاسير. تفسر للقران العظيم, جامع بين المأثور والمنقول 1,2,3.  محمد علي الصابوني. دار الحديث القهرة

–          -Quthub, Sayyid. 2001.Tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Jakarta: Gema Insani


[1][1] Lihat Tafsir Al-Misbah Vol.15 hal. 396

[2] Kamus bahasa Indonesia

[3] Lihat Q.S Al-Anbiya (21): 37

[4] Baca Q.S Al-A’raf 37

[5] Lihat Tafsir Al-Misbah Vol.7 hal.542-543

[6] Hewan yang termasuk jenis unta, kambing, sapi dan biri-bir

[7] Lihat Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, karangan Syyid Quthb. Jilid2.hal.42

[8] Lihat Tafsir Al-Misbah Vol.14 hal.589-590

[9] Sujud sebagai penghormatan bukan menyembah

[10] Lihat Tafsir Al-Misbah Vol.14 hal.62

[11] Ma’ruf: segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan Munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.

[12] Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, karangan Syyid Quthb. Jilid2.hal. 124

[13] Maksudnya: Allah akan melimpahkan rahmat-Nya dari langit dengan menurunkan hujan dan menimbulkan rahmat-Nya dari bumi dengan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan yang buahnya melimpah ruah

[14] Maksudnya: orang yang berlaku jujur dan lurus dan tidak menyimpang dari kebenaran.

[15] Kekuatan bisa berupa uang, paksaan dll

[16] Yang dimaksud dengan Zabur di sini ialah seluruh kitab yang diturunkan Allah kepada nabi-nabi-Nya. Sebahagian ahli tafsir mengartikan dengan kitab yang diturunkan kepada Nabi Daud a.s. dengan demikian Adz Dzikr artinya adalah kitab Taurat.

[17] Maksudnya: pada hari kiamat itu tidak ada penebusan dosa dan pertolongan sahabat, lihat juga surat Al Baqarah ayat 254.

[18] Lihat Tafsir Al-Misbah Vol.7 hal.59

[19] Rujuklah Tafsir Al-Misbah Vol.9 hal.527 dan ayat 17 dari surat yang sama (Al-furqon)

[20]  Lihat Tafsir Al-Misbah Vol.11 hal.483

[21] Lihat Tafsir Al-Misbah Vol.13 hal.358


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: