hobirsoleh

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

WISATA JURANG KUPING BENOWO ASSET MASYARAKAT

pada Mei 21, 2012

JUDUL         :STRATEGI PENGEMBANGAN WADUK JURANG KUPING BENOWO SURABAYA BARAT

MK              : PENGEMBANGAN  WILAYAH

DOSEN       : Drs. H. Nadhir Salahuddin, MA

JUR/SMT   : PMI/6B

ANGGOTA   :

M. So’im

M.Abd Hobir S.

Hasan Bisri

Rini Amarodah

Tri Rahayu Ks.

Aydilia Fitriyani

 

A. GAMBARAN UMUM

Jurang Kuping merupakan danau kecil yang masih alami di kota Surabaya. Lokasi ini berada di Kelurahan Benowo, Kecamatan Benowo. Sebagai tempat wisata jurang kuping juga sebagai Bumi Perkemahan. Tempatnya elok bernuansa alami, disekelilingnya terdapat pepohonan yang beragam, ada pohon mangga petai, pohon ceri dan yang dominan adalah pohon aren. Disini dapat di nikmati ikan bakar, minuman legen, memancing dan berkemah.

Di awal tahun 2012 ini, Kota Surabaya benar-benar ingin menampakkan keseriusannya untuk terus berbenah dalam pembangunan. Sehubungan dengan diterimanya berbagai penghargaan sebagai Kota Metropolitan yang memiliki kualitas lingkungan baik, Surabaya juga berkonsentrasi mengembangkan dan memelihara kawasan-kawasan konservasinya. Pengembangan ini dilakukan dengan memelihara Ruang Terbuka Hijau yang sudah ada atau membangun Ruang Terbuka Hijau, seperti taman kota, hutan kota, dan lain sebagainya. Seiring dengan perubahan paradigma kawasan konservasi yang tidak hanya ekologis saja, tetapi juga ekonomis, maka perlu dipikirkan konsep-konsep pengembangan kawasan konservasi yang inovatif.[1]

Berbicara tentang kawasan konservasi, boleh kita melirik ke kawasan Surabaya Barat yang semakin berkembang yaitu adanya waduk jurang kuping ini. Namun, waduk ini terjadi disfungsi sebagai kawasan konservatif, seharusnya berfungsi sebagai kawasan wisata alam, malah sebagai temapat prostitusi dan karaokean. Jurang Kuping yang dulunya dikenal dengan wisata alam berupa camp ground, sekarang malah terkenal dengan “prostitusi alam”-nya. Warung remang-remang di kawasan Benowo tersebut tetap menunjukkan eksistensinya.[2]

Pada mulanya wisata jurang kuping adalah difungsikan sebagai bumi perkemahan. Hal ini terjadi sekitar tahun 1985 sampai 1998, wilayah tersebut sangatlah cocok digunakan untuk kawasan bumi perkemahan.[3] Karena hanya di kawasan tersebut masih terdapat kondisi alam yang masih alami di Surabaya. Kawasan tersebut mulanya dikembangkan sebagai pusat perkemahan di wilayah Surabaya, khususnya Surabaya barat. Akan tetapi seiring berjalannya waktu terjadi disfungsi, yang mana wilayah tersebut sekarang banyak berdiri warung remang- remang dan karaoke.

Pada awal tahun 2000 pemerintah kota sempat menggusur keberadaan warung- warung yang ada di wilayah jurang kuping, karena dengan keberadaan warung- warung tersebut sering digunakan sebagai tempat prostitusi dan tempat untuk pesta minum- minuman keras.[4] Dari kondisi tersebut mulai jarang lagi ada acara perkemahan di wilayah tersebut. Karena mereka takut dengan adanya warung- warung yang sering digunakan tempat mabuk. Akan tetapi upaya pemerintah untuk menggusur warung- warung tersebut hanya terjadi sebentar saja, karena tidak lama setelah digusur warung- warung tersebut kembali hadir di wilayah jurang kuping. Dari kondisi tersebut pemerintah sudah merasa putus asa, dan sampai sekarang wilayah jurang kuping yang dulunya difungsikan sebagai bumi perkemahan sekarang lebih dikenal sebagai tempat prostitusi dan mabuk.

Dari kondisi yang digambarkan di atas, kini jurang kuping sudah tidak lagi menjadi wilayah wisata. Bahkan jurang kuping sendiri sekarang disewakan untuk difungsikan sebagai tambak, yang mana disewakan pertahun sekitar 10 juta. Dari penyewa sendiri jurang kuping difungsikan untuk memelihara ikan, seperti mujaer, bandeng, wader, dan ikan mas. Mengenai uang penyewaan oleh warga diberikan untuk pembangunan masjid “DARUS SALAM” yang ada di desa tersebut, karena jurang kuping merupakan aset milik desa.[5]

Menurut pengamatan kami secara sepintas mulai sejak pintu masuk parkir sampai tepi danau ujung timur terdapat 10 warung yang saat itu  sedang berfungsi sebagai tempat karaokean.[6] Terlihat di setiap warung yang tersebar di kanan-kiri jalan beberapa para preman dan pengunjung yang sedang asyik menyanyi, melingkar di sebuah meja besar sambil memegang mickrophone dengan melantunkan lagu-lagu dangdut.

Di setiap warung yang terletak di kanan-kiri jalan tersebut rata-rata terdapat 3-5 orang pengunjung yang dikelilingi oleh tante-tante paruh baya rata-rata jika ditinjau dari bentuk fisiknya berumur + 35-40-an. Tidak cukup layak sih wanita seperti itu berprofesi sebagai wanita penghibur, karena bentuk fisik dan kecantikannya menurut penilaian kami hanya 35%. Nilai seperti itu berdasarkan bentuk fisik tubuh yang kebanyakan gemuk dan dandanan yang norak, selain itu faktor umur sudah lewat batas. Jika dibandingkan dengan wanita normal yang berumah tangga, wanita-wanita tersebut sudah memiliki 3 orang anak yang sudah dewasa.

Kawasan Wisata Waduk Jurang Kuping terletak di Kelurahan Benowo, Unit Distrik Pakal-Sambikerep. Daerah ini merupakan salah satu kawasan yang berada dengan akses jalan arteri sekunder menuju Gresik. Sebenaranya Waduk Jurang Kuping ini memiliki potensi untuk dikembangkan untuk daerah resapan air, di samping itu sebagai tempat wisata.

Selama dua puluh lima tahun terakhir, kakawasan jurang kuping yang telah menjadi aset pemerintah Kota Surabaya. Entah kenapa mengalami penurunan fungsinya seharusnya menjadi kawasan wisata, justru dimanfaatkan menjadi tempat semi prostitusi. Mungkin hal ini disebabkan kurangnya aspek-aspek pendukung kegiatan keparawisataan di jurang kuping ini, seperti lampu kota tidak ada sehingga di malam hari sudah remang-remang, akses jalan menuju tempat ini pun juga tergolong sulit, beliku-liku, sempit, dan bergelombang karena sebagian jalan rusak. Tidak seperti kawasan wisata lainnya yang didukung oleh situasi yang asri dan nyaman baik siang maupun malam.[7]

Sesuai dengan hasil pengamatan kami, ada beberapa faktor penyebab dialihfungsikannya tempat wisata menjadi tempat prostitusi. Pertama, Kawasan wisata jurang kuping tidak mendapatkan perawatan secara intensif, pengeloalan yang benar, tidak ada perbaikan maupun pengawasan terhadap semua fasilitas yang terdapat di dalamnya, sehingga pada akhirnya didirikan warung-warung untuk tempat karaoke disertai dengan wanita penghibur. Apalagi disekitar waduk Jurang Kuping ini banyak semak-semak, meski terlihat asri dan alami tetapi tempat itu sangat nyaman dijadikan kegiatan prostitusi. Ini menunjukan kinerja Pemkot Surabaya kurang memperhatikan keindahan dan kebersihan lingkungan wisata Jurang Kuping. Kedua, adalah minimnya fasilitas hiburan dan tata peneglolaan yang efektif. Di sana tidak terlihat satupun komponen kewisataan seperti tempat duduk di dekat waduk, yang ada hanya semak-semak, jika ada di ujung timur tidak bisa melihat danau ujung barat, bukan karena waduknya sangat luas melainkan waduknya dikelilingi oleh semak-semak sehingga menghambat pemandangan.

 

 

 

 

Gambar 1. Sekitar Waduk Jurang Kuping Dipenuhi Semak-Semak

 

 

 

 

 

Gambar 2. Para Preman Sedang Asyik Minum Toak Di Dekat Waduk

Ketiga adalah banyaknya wanita usia produktif di daerah wisata, Kelurahan Benowo yang tidak memiliki pekerjaan dan tidak memiliki pendidikan yang tinggi. Masyarakat tidak mendapat pembinaan dari pemerintah setempat untuk mandiri, sehingga mendorong pada penganguran. Adanya kesempatan di kawasan wisata membuat orientasi pemikiran mereka untuk mencari pekerjaan secara instan tanpa mengetahui resiko pekerjaannya tersebut. Keempat,  ketidaktegasan aparat penegak hukum membuat pelaku-pelaku tersebut tidak merasa jera akan perbuatan mereka. Pemerintah juga tidak konsisten dengan perencanaan detail tata ruang Waduk Jurang Kuping sebagai asset pemerintah kota Surabaya yang telah disahkan.

Semua hal tersebut terkait dengan manajemen wilayah perbatasan yang dilakukan pemerintah kurang teratasi. Kawasan Surabaya Barat yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Gresik menjadi terpinggirkan dan tertinggal. Kondisi di waduk Jurang Kuping benar-benar seperti “jurang”, kelam tanpa penceharan di malam hari. Lain halnya dengan Pusat kota sangat terbangun dan menarik orang untuk berinvestasi, sedangkan daerah pinggiran sampai perbatasan cenderung lebih tertinggal. Ini menunjukkan bahwa Pemkot Surabaya tidak serius menangani aset Waduk Jurang Kuping ini.

Sektor pariwisata di Kelurahan Benowo yang berupa waduk Jurang Kuping tersebut sebenarnya akan berdamapak positif sebagai penggerak perekonomian warga setempat jika pemanfaatan kawasan wisata ini dikelola dengan baik dan akses jalan serta komponen kewisataan tefasilitasi. Berhubung Selama ini kurang terdapat pengembangan inovasi dalam pengolahan sektor waduk Jurang Kuping ke wilayah Wisata unggulan sehingga penyerapan perekonomian berkurang. Wanita berusia produktif yang tidak memiliki pekerjaan dapat dapat membuka usaha warung dan untuk dapat mendukung tempat wisata dengan segala kemudahannya, didukung dengan wisatawan yang datang silih berganti, maka kawasan di daerah Jurang Kuping akan lebih termakmurkan.

Kini, dampak yang didapat oleh masyarakat sekitar Waduk Jurang Kuping Nama Kelurahan menjadi ternodai gara-gara praktik semi prostitusi di Waduk Jurang Kuping. Selain itu berdapak pada moral Pemkot Surabaya sendiri yang menunjukkan ketidakkonsistenan terhadap tanggung jawab pengelola Waduk Jurang Kuping Benowo. Jika dibiarkan dan tidak ada penangan terhadap kondisi ini, Pemkot Surabaya akan terkenal dengan daerah prostitusi. Selain Jurang Kuping juga ada Dolly, pantai kenjeran, jagir dan daerah lainnya yang merupakan asset Pemkot Surabaya.

Perhatian pemerintah Kota Surabaya perlu dialihkan pada masyarakat yang membutuhkan pembangunan dan perbaikan kesejahteraan hidup. Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana mengintegrasikan antara rencana pengembangan Kawasan Wisata Waduk Jurang Kuping yang juga sebagai wilayah resapan air dengan karakteristik dan kegiatan masyarakat di kawasan tersebut. Upaya tersebut diharapkan dapat diwadahi dalam rencana tata ruang yang terpadu dan tentunya bisa diaplikasikan sesuai dengan pelaksanaan tugas Pemerintah Propinsi Jawa Timur, Dinas Permukiman Propinsi Jawa Timur melakukan kegiatan pembinaan, pengawasan dan pengendalian pelaksanaan tugas Pemerintah Propinsi sebagaiman diamanatkan dalam UUPR Nomor 26 tahun 2007 agar kinerja penataan ruang diseluruh wilayah Indonesia dapat terselenggara secara efektif, efisien transparan dan akuntabel.

Jurang Kuping ini, akan lebih membawa manfaat besar bagi masyarakat dan Pemkot Surabaya jika dikelola dengan serius. Keindahan dan kerindangan pepohonan yang ada di sekitarnya membuat para wisatawan betah di sana. Tetapi meski rindang dan menyejukkan sedikit pengunjung yang datang ke sana. Mungkin situasi ini akan terus berkesinambungan jika tidak ada tindakan perbaikan baik kondisi Waduk atau sosial masyarakatnya.

 

B. SUMBER DANA UNTUK BIAYA PEMBANGUNAN DAN PENGELOLAAN KAWASAN EKOWISATA JURANG KUPING

 

Komponen biaya merupakan bagian yang penting dalam menentukan seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan dalam pembangunan dan pengelolaan kawasan ekowisata Jurang Kuping. Di dalam suatu pembangunan secara menyeluruh. pembiayaan tentunya tidak hanya sebatas pada biaya konstruksi fisik saja melainkan pembiayaan secara komprehensif meliputi pekerjaan eksternal dan juga pekerjaan khusus. Namun. sebelum mengetahui secara detail biaya pada masing –masing sub-komponen pembangunan. Maka penting untuk mengetahui bagaimana konsep pembangunan dan pengelolaan kawasan ekowisata Jurang Kuping yang akan dilaksanakan yaitu :

a.    Biaya Persiapan adalah biaya yang mencakup seluruh biaya yang digunakan dalam proses penyiapan dokumen pengembangan fasilitas ini yang meliputi biaya untuk perijinan dan studi –studi perencanaa yang dilakukan.

b.    Biaya Pembangunan Infrastruktur adalah pelaksanaan pembangunan infrastruktur mencakup biaya pekerjaan pematangan tanah, fasilitas utama, fasilitas penunjang, dan; landscape dan utilitas.

c.    Biaya Operasional dan Managemen Biaya yang termasuk dalam penyediaan peralatan dan interior gedung

Sumber pembiayaan pada pembangunan daerah ekowisata Jurang Kuping, Surabaya sepenuhnya menggunakan sumber pembiayaan yang bersifat konvensional dan non-konvensional. Bedasarkan arahan dari pemerintah kota, kawasan ekowisata Jurang Kuping termasuk kawasan wisata yang berskala lokal. Sumber pembiayaan yang digunakan dalam pengembangan kawasan ini diperoleh dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Surabaya. Dalam pelaksanaanya, tidak menutup kemungkinan sumber pembiayaaan ini masih belum bisa memenuhi kebutuhan biaya pembangunan tersebut, maka dari itu perlu adanya sumber pembiayaan lainya baik itu sumber pembiayaan konvensional maupun non-konvensional. Selain pembiayaan konvensional dan non-konvensional dapat juga pembiayaan dan pengelolaan berasal dari masyarakat sekitar yang ikut langsung mendapat manfaat dari pembangunan ekowisata tersebut.

Pembiayaan Pemabangunan Jurang Kuping menggunakan strategi BOT. Pada dasarnya pembangunan yang menggunakan metode BOT (Build operate transfer), membebankan semua pembiayaan pada mitra kerjasama pemerintah yaitu pihak swasta. Pihak swasta harus menyediakan sendiri dana untuk pembangunan tersebut serta menanggung pengadaan material, peralatan, ataupun jasa lain yang keluar akibat dari pembangunan. Setelah masa kontrak yang telah ditentukan habis, fasilitas yang telah dibangun akan dikembalikan kepada pemerintah untuk kemudian dikelola secara mandiri oleh pemerintah. Peran pemerintah dalam prinsip kerjasama ini adalah sebagai regulator dan sebagai pengguna. Prinsip kerjasama BOT merupakan cara yang baik untuk pembangunan infrastruktur baru dengan keterbatasan dana pemerintah. Dalam struktur pembiayaan BOT, pihak swasta berperan untuk menyediakan modal untuk membangun fasilitas baru. Sebagai gantinya pihak swasta sebagai mitra pemerintah diberikan hak untuk mengelola sarana (bangunan) yang didirikannya tadi, pihak swasta berhak mengambil keuntungan ekonomi (profit oriented) sebagai ganti atas pembangunan yang telah dilakukan, dalam jangka waktu tertentu. Adanya pelibatan pihak swasta terhadap pembangunan kawasan ekowisata Jurang Kuping, menyebabkan adanya penyesuaian dalam penentuan biaya pelayanan, karena swasta memiliki prisnsip profit oriented  yang berbeda dengan pemerintah yang memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat.

 Adapun kajian struktur anggaran pembiayaan pembangunan dan pengelolaan Kawasan Ekowisata Jurang Kuping adalah sebagai berikut:Bedasarkan arahan UD. Pakal, Kawasan Jurang Kuping termasuk kawasan yang akan dikembangkan menjadi kawasan ekowisata yang berskala lokal. Sumber pembiayaan yang digunakan dalam pengembangan kawasan ini masih diperoleh dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Surabaya. Dalam pelaksanaanya, tidak menutup kemungkinan bahwa sumber pembiayaaan ini masih belum bisa memenuhi kebutuhan biaya pembangunan tersebut, maka dari itu perlu adanya sumber pembiayaan lainya baik itu sumber pembiayaan konvensional maupun non-konvensional.

Sumber pembiayaan konvensional merupakan sumber-sumber penerimaan yang diperoleh oleh pemerintah (pembiayaan publik). Secara umum sumber-sumber penerimaan pemerintah dikelompokkan menjadi dua, yaitu: Sumber penerimaan yang berasal dari bukan pajak , misalnya penerimaan pemerintah yang berasal dari pinjaman daerah, retribusi daerah, dana perimbangan, DAK (Dana Alokasi Khusus), DAU (Dana Alokasi Umum), hibah dll.

 Sumber penerimaan yang berasal dari pajak , misalnya Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Bumi dan Bangunan, dan pajak-pajak daerah lainnya. Setelah dibedakan menurut jenisnya, dapat diketahui bahwa dalam pembangunan dan pengelolaan kawasan Ekowisata Jurang Kuping hanya menggunakan satu sumber penerimaan konvensional yang berasal PAD Kota Surabaya. Sementara itu, sumber pembiayaan konvesional lain yang belum digunakan antara lain Dana Alokasi Umum (DAU), Daerah Alokasi Khusus (DAK), dana bagi hasil dan pinjaman daerah atau kota, baik itu pinjaman kepada bank, pinjaman kepada pemerintah pusat, pinjaman kepada BUMN, mapun pinjaman dari sumber lainnya.

Sumber pembiayaan non-konvensional pada dasarnya merupakan inovasi sumber-sumber penerimaan yang tidak hanya dibatasi oleh sumber penerimaan pajak dan bukan pajak yang dilakukan oleh pemerintah. Pengenalan sumber pembiayaan non-konvensional dilakukan karena sebenarnya masih terdapat potensi sumber pembiayaan diluar kedua sumber konvensional yang nilainya bisa jauh lebih besar. Sumber pembiayaan non-konvensional tidak terfokus pada sumber pembiayaan dari pemerintah, namun dapat digali dari stakeholders pembangunan lainnya, yaitu swasta dan masyarakat, maupun kolaborasi diantara ketiga stakeholders tersebut. Melihat adanya potensi sumber pembiayaan lain ini, maka ada baiknya apabila dilakukan eksplorasi terkait jenis-jenis kerjasama antara pemerintah kota dengan stakeholder terkait (swasta maupun masyarakat), sehingga bisa didapatkan sumber-sumber pembiayaan alternatif yang dapat digunakan untuk pengembangan ekowisata. Dengan menyerahkan pengelolaan fasilitas umum kepada sektor swasta, infrastruktur dapat lebih berkembang dan memberikan pelayanan lebih berkualitas.[8]

 

C. TERNYATA WADUK JURANG KUPING ASSET DUSUN REJO SARI DESA BENOWA KECAMATAN PAKAL SURABAYA BARAT

 

Berdasarkan Nara Sumber di Lokasi Jurang Kuping Bapak Sakimin menuturkan bahwa waduk jurang kuping tersebut milik warga setempat. Waduk tersebut menjadi otoritas Desa Benowo dan masyarakatnya. Bapak Sukimin menjelaskan bahwa Waduk Jurang Kuping ini telah di sewakan pada pihak usahawan di setiap tahunnya + 10 jt. Uang tersebut menjadi hak miliki warga desa, yang mengelola waduk ini bukan warga langsung tetapi desa dan para aparatnya, kemudian aparat desa melibatkan warga sekitar untuk menggali potensi waduk. Bentuk potensi tersebut berupa jasa parkir dan membuka warung. Kebanyakan warung yang terdapat di daerah area Waduk Jurang Kupung ini meliknya warga Dusun Rejo Sari RT/Rw: 03/04.

Meski uang hasil penyewaan waduk pada usahawan (tidak ada sumber yang menjelaskan Perusahaan apa) hak warga tetapi tidak secara langsung di berikan dalam bentuk unag cast melainkan di berikan dalam bentuk sarana dan prasarana umum. Uang hasil penyewaan Waduk dan uang karcis telah menghasilkan Masjid Darus Salam dan sebuah Musholla RT/RW;03:04. Masjid Darussalam lumayan mewah begitu juga mushollahnya jika dilihat dari bentuk dan ukurannya, tetapi masjid dan mushollah tersebut masih dalam tahap penyelesaian.

Setelah kami tanyakan mengenai kepemilikan sesungguhnya terhadap waduk jurang kuping ini, Bapak Sukimin mengatakan waduk tersebut milik nenek moyang mereka pada beberapa generasi sebelumnya. Namun, saat ini banyak berita yang beredar bahwa waduk jurang kuping ini miliknya pemerintah Surabaya, hal tersebut hanya sebuah klaim saja.

Waduk yang masih alami dan tidak termajah budaya modern ini tidak memiliki sarana fisik umum maupun sarana khusus berupa tenpat duduk, penyewaan pancingan, penyewaan tempat penginapan dll. Hal tersebut karena warga tidak menginginkannya, selain warga tidak tidak memiliki modal untuk mengembangkan sendiri dan saat ini desa telah menyewakan waduk tersebut untuk ternak ikan  dan hasilnya pun dikembalikan pada warga yang berupa sarana umum tadi.

Waduk jurang kuping tersebut sengaja tidak dibersihkan dan banyak semak-semak disekelilingnya untuk menjaga keamanan Waduk dari pemancing. Dengan adanya semak-semak tersebut meraka yang hendak memacing sudah merasa takut karena takut digigt ular dsb.

Para pengunjung Waduk tidak akan menemukan sarana umum berupa WC/ kamar mandi kecuali. Gedik atau sumur pompa yang diberi penutup berupa gedik, sehingga pengunjung merasa kesulitan.

Keasrian Waduk tersebut meyebabkan area waduk menakutkan sehingga sedikitnya pengunjung datang ke waduk ini, apalagi pengunjung waduk tidak boleh memancing ikan di sana karena ikan-ikan tersebut  miliknya usahawan. Kondisi demikian juga membawa dampak negatif pada pendapatan masyarakat setempat. Jika waduk tersebut dibersihkan dan dirawat dengan baik sehingga selain bisa menambah asri kawasan tersebut maka banyak pula pengunjung yang akan mendatangi tempat wisata tersebut, sehingga makanan dan minuman yang dijual di tempat itu tidak hanya terbatas pada itu-itu saja. Mereka bisa menambah pendapatannya dengan berjualan lebih banyak lagi aneka makanan dan minuman, mainan, souvenir, dan masih banyak lagi.

Bapak Sakimin sendiri sudah 25 tahun membuka warung di tempat wisata Jurang Kuping tersebut. Sebenarnya dari segi alamnya wilayah ini sangat berpotensi dijadikan sebagai tempat wisata, hal ini dikarenakan letaknya yang merupakan perbatasan antara Surabaya dengan Gresik. Selain itu di tempat ini juga terdapat resapan air dan sumber pariwisata. Namun sayangnya tempat ini mengalami penurunan fungsinya sebagai tempat wisata dengan warung remang-remangnya. Di tempat ini terdapat 16 warung makan dan minum lengkap dengan menu dan pelayanan plus-plusnya. Selain mereka menjual makanan seperti aneka penyetan, pecel belut, rujak, kopi, es, dan air putih, mereka juga menyediakan legen, toak, bahkan minuman keras lengkap dengan wanita penghibur yang berdandan menor siap melayani segala permintaan dari pelanggan.

Setiap warung juga terdapat tulisan jika wanita hanya menemani makan dan minum dikenakan biaya Rp 10.000,- namun jika sampai menuangkan minum dan melayani makan maka dikenakan biaya Rp 25.000,-. Beberapa warung disini juga menyediakan televisi, mike lengkap dengan sound system untuk pengunjung yang ingin berkaraoke. Biaya masuk ditempat ini juga tergolong murah, untuk biaya masuk tiap kendaraan hanya dikenakan biaya Rp 2.000,- dan menurut keterangan Bpk. Sakimin, uang tersebut digunakan untuk disumbangkan ke pembangunan masjid yang ada di Desa tersebut yait masjid Darussalam.


[2] Wawancara pada bapak Slamet penjaga parkir waduk jurang kuping, di pintu masuk waduk jurang kuping. jam 12:45 Tanggal 19 Mei 2012

[3] Wawancara dengan Sukimin, pemilik warung, jam 11.15. Tanggal 19 Mei 2012

[4] Wawancara dengan Supeno, salah satu warga jam 14.00. Tanggal 19 Mei 2012

[5] Wawancara dengan Sukimin, pemilik warung, jam 11.15. Tanggal 19 Mei 2012

[6] Pengamatan sepentas oleh tim surveyor

[7] Wawancara pada bapak Sunyoto  salah satu warga di dekat  waduk jurang kuping, jam 13.05 di pintu masuk waduk jurang kuping.

 

[8] www. Startegi Pembiayaan Waduk Jurang Kuping Surabaya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: